Coba perhatikan tingkah pola orang perkotaan zaman sekarang kalau sudah bicara soal “gaya hidup sehat”. Setiap pagi, bangun jam lima, pakai sepatu lari seharga gaji sebulan. Lengannya ditempeli smartwatch, cuma buat menghitung berapa ribu langkah yang sudah ditempuh dan berapa kalori yang terbakar.
Belum lagi urusan makan. Nasi putih disingkirkan, diganti beras merah yang rasanya mirip gabah. Susu sapi dihindari, diganti susu gandum. Kopi tidak boleh pakai gula. Kemudian rokok yang, barangkali sudah dianggap sebagai setan—sumber penyakit utama yang harus dihindari.
Tapi anehnya, meski sudah patuh setengah mati pada kitab petunjuk medis modern, orang-orang kota ini tetap saja gampang stres. Dikit-dikit kena GERD, tidur butuh melatonin, dan kena burnout di usia awal tiga puluhan. Dikit-dikit healing, dikit-dikit sambat di media sosial.
Mereka yang melampaui waktu
Sebaliknya, kita coba main ke desa dan temui mbah-mbah kita di sana. Sejak subuh mereka sudah menyeruput kopi hitam pekat. Mengebulkan rokok tingwe tanpa filter, makan nasi thiwul pakai sambal terasi, dan sarapannya kadang cuma segelas teh tubruk kental.
Tapi ajaibnya, umur mereka bisa menembus 80, 90, bahkan lebih dari satu abad. Tubuhnya tetap tegap. Matanya masih awas. Dan yang paling penting: hidupnya bahagia, tanpa pernah pusing memikirkan kadar kolesterol atau jadwal intermittent fasting.
Fenomena “ajaib” inilah yang dirangkum secara apik dalam buku berjudul “Mereka yang Melampaui Waktu: Konsep Panjang Umur, Bahagia, Sehat dan Tetap Produktif“ karya Sigit Budhi Setiawan dan Marlutfi Yoandinas.
Diterbitkan oleh Pustaka Sempu dan INSISTPress pada Desember 2013. Buku ini adalah sebuah tamparan keras bagi doktrin kesehatan modern. Tebalnya lumayan, 194 halaman. Namun, isinya menarik. Mendegradasi konsep kesehatan modern yang jadi terlihat seperti panduan hidup orang-orang penakut.
Sejarah kesehatan dan laku hidup sehat yang primitif
Buku ini menelanjangi isi kepala kita soal sejarah kesehatan. Seperti yang diudar di halaman x, ilmu kedokteran modern masuk ke Hindia Belanda itu niat awalnya cuma satu: mengobati dan melindungi tentara serta pegawai sipil VOC dari penyakit endemik. Agar mereka tetap bisa menjajah dengan bugar.
Lama-lama, sistem medis dari Londo ini berubah jadi alat penyeragaman gaya hidup. Pengetahuan leluhur Nusantara yang sudah dipraktikkan berabad-abad—yang akarnya ada pada laku prihatin, agama, dan keselarasan dengan alam—langsung dipinggirkan dan dicap primitif, irasional, serta membahayakan publik. Otoritas penentu “sehat” dan “sakit” dimonopoli oleh sains Barat. Sehingga, gaya hidup modernitas ini sukses menistakan pengalaman dan pengetahuan orang-orang lokal.
Ujung-ujungnya, masyarakat modern dipaksa menelan mentah-mentah. Bahwa tidak merokok, anti-kopi, dan hidup individualis materialistis adalah gaya hidup sehat yang paling benar. Merokok pelan-pelan dianggap sebagai tindakan subversif publik.
Padahal, apa yang dibangga-banggakan oleh kelas menengah itu sejatinya cuma penjajahan pikiran gaya baru. Kita dihegemoni untuk takut pada tubuh kita sendiri. Dipaksa bergantung pada produk farmasi. Sementara, leluhur kita punya laku hidup sehat yang jauh lebih murah dan sudah teruji oleh zaman.
Resep hidup sehat ala Atmo Diharjo
Mari kita lihat buktinya langsung di lapangan. Atmo Diharjo, seorang sesepuh asal Kedung Poh Lor, Gunung Kidul. Seperti yang bisa kita temukan di halaman 4, usianya sudah menginjak 93 tahun. Tapi di umurnya yang hampir satu abad itu, alih-alih duduk selonjoran nunggu disuapi cucu, Mbah Atmo ini malah kecanduan kerja.
Di halaman 3 dikisahkan bagaimana dia masih asyik merajut bambu untuk membuat kandang ayam. Bahkan, dia pernah menggelindingkan dua batu gunung berukuran raksasa seorang diri ke rumahnya untuk disulap jadi padasan tempat wudhu.
Resep hidup sehat Mbah Atmo sebenarnya sepele, namun butuh tekad baja. Disebutkan bahwa pantangannya cuma tidak makan daging hewan berkaki empat (sukupat) dan kerupuk rambak. Dia lebih milih kelaparan daripada melanggar pantangan itu.
Hiburan Mbah Atmo di malam hari bukan nonton TV. Setelah magrib, dia duduk di musala kecilnya, membuka kitab-kitab kuning kuno warisan kakeknya. Ketenangan dari membaca huruf-huruf Arab itulah yang memelihara kewarasannya. Dibarengi dengan isapan rokok lintingan dari tembakau yang dia tanam sendiri di samping rumah.
Hidup sehat ala Sang Sinse, Sesloki arak sebelum tidur
Berpindah ke Singkawang, ada Tju Njiat Fat alias Sang Sinse. Umurnya sudah 81 tahun. Pak Tju ini hidup lurus. Mendedikasikan sisa umurnya untuk mengobati pasien pakai ramuan Tionghoa, tanpa pasang tarif.
Bahkan, di halaman 18-19 diceritakan kalau ada pasien miskin datang, Pak Tju malah ngasih uang buat nebus resepnya. Tapi jangan salah, kakek ini perokok aktif, peminum kopi, dan punya ritual wajib: minum sesloki arak herbal atau tajok sebelum tidur. Seperti yang diungkap di halaman 20. Menurut Pak Tju, penyakit itu datangnya bukan dari arak atau kopi, tapi dari “rasa takut” yang bikin batin hancur.
Di Gunung Kidul juga ada Mbah Ponco. Lahir tahun 1935, Mbah Ponco sudah kenyang makan asam garam sejarah. Mulai dari merasakan bengisnya penjajahan Jepang sampai tragedi pembantaian politik 1965. Mentalnya sudah ditempa besi panas. Dia tidak pernah takut dengan ancaman dokter soal rokok. Sebab faktanya, dia adalah perokok berat tingwe, yang asapnya selalu mengebul. Untuk urusan makan, hampir sama dengan Mbah Atmo. Mbah Ponco memegang tradisi prihatin warisan kakek-neneknya. Pantang makan daging hewan berkaki empat dan kacang-kacangan biar selalu dapat pertolongan Gusti Allah.
Hidup sehat tak harus konsumsi obat kimia
Sementara di lereng Gunung Merapi, ada sosok bernama Damirih. Usianya 83 tahun. Di keluarganya, umur tembus seratus tahun itu sudah seperti tradisi. Seperti yang dicatat di halaman 38, ayahnya (Romo Yoso) wafat di usia 105 tahun. Sementara kedua ibunya tembus usia 110 dan 90 tahun. Mbah Damirih ini sepanjang hidupnya nyaris tak pernah konsumsi obat kimia dari dokter. Kalau badannya sakit, obatnya cukup ramuan herba pahit-pahitan yang dicabut langsung dari perkarangan ladang. Resep bahagia dan tolak balak masuk angin andalannya cuma satu. Yakni merokok kelembak menyan yang bikin perutnya hangat. Persis seperti anjuran kakeknya.
Kisah lain juga dilakoni Markatam alias Lamijo dari pinggiran Bengawan Solo, Lamongan. Mantan tahanan Penjara Kalisosok dan romusha Jepang ini punya kebiasaan tidur unik. Di halaman 47 diceritakan, dia tidak pernah mau tidur di kasur empuk. Malah lebih memilih gelar tikar di emperan rumah. Tiap malam dia cuma tidur ayam, lantas terbangun (nglawa) untuk jalan kaki menyusuri tanggul sungai atau kuburan. Tak lupa ditemani sebungkus tembakau, cengkeh, dan papir. Pada bulan sela (bulan kesebelas kalender Jawa), Markatam puasa total dan cuma makan pisang. Sedangkan di bulan besar, dia puasa 24 jam dan menolak makan nasi (halaman 48). Barangkali, menyusahkan diri semacam inilah yang jadi jalan menuju kebahagiaan sejati.
Pensiun itu mitos
Orang kota menganggap masa pensiun adalah waktunya rebahan, jalan-jalan ke mal, atau sibuk ngurus cucu tanpa kerja fisik. Tapi bagi mbah-mbah dalam buku ini, pensiun itu mitos. Berhenti bekerja sama saja dengan menggali kuburan sendiri.
Lihat bagaimana etos kerja Mak Nyo (Yohanna), perempuan 86 tahun dari Desa Kelet, Jepara. Suaminya sudah meninggal sejak 1998, tapi dia tetap keukeuh menjaga Toko Bahagia yang dia kelola sejak tahun 70-an. Di halaman 53 digambarkan bagaimana Mak Nyo masih cekatan menimbang beras dari petani dan memencet tombol kalkulator. Anak-anaknya sudah meminta dia istirahat di rumah, tapi ditolak mentah-mentah. Dia tetap berdiri jaga toko dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam. Kalau ditanya soal pantangan medis, Mak Nyo hanya tersenyum. Di usianya yang hampir seabad, dia masih santai menghabiskan 3 batang rokok per hari di sela-sela melayani pembeli. Makannya? Porsi kecil nasi, sambal, sayur bening, dan lauk ikan. Sama sekali tidak butuh diet ala-ala modern.
Di Jember, kita bakal ketemu Haji Misto Abdurrahman. Di umurnya yang lewat dari 80 tahun, dia masih kuat menyiangi sawah dan mengurus sapi. Rahasianya, terungkap di halaman 63. Dia bilang dengan blakasuta: Rokok Klobot Manis Gudang Garam yang dimodifikasi sendiri. Memakai tambahan tembakau dan cengkeh pasar, biar size-nya dua kali lebih besar. Dalam sebulan, Haji Misto bisa menghabiskan 300 batang rokok klobot. Ketika ditakut-takuti kalau rokok itu memicu penyakit, di halaman 64 dia malah menantang untuk bikin lomba rokok.

Bagi Haji Misto, orang zaman sekarang gampang kena stroke justru karena batinnya stres terlalu banyak dilarang makan ini-itu. Sejak ditinggal wafat istrinya tanpa punya anak, sisa hidup Haji Misto diwakafkan untuk membuat “celengan Islam”—menyumbangkan harta dan sapinya untuk bangun masjid, serta beramal buat sesama.
Ampo yang diganti rokok
Tak kalah menarik dari cerita Jainah dan suaminya, Darta, sepasang perantau keras dari Indramayu ke belantara Jakarta. Perkenalan Jainah dengan rokok malah terjadi secara konyol. Waktu hamil anak ketiga, di halaman 72 diceritakan bahwa dia ngidam ampo (tanah liat panggang). Karena di Jakarta, mencari ampo susahnya minta ampun, suaminya membujuknya buat ganti ampo dengan rokok. Sejak saat itu, saat kerja jualan begadang malam-malam, rokok jadi kawan setianya pengusir kantuk. Meskipun sering diejek karena merokok, Jainah masa bodoh. Sekarang, di usia tuanya, dia milih balik ke desa, bahagia manen sayur kangkung dari perkarangan rumah.
Ada lagi Sopawiro, kakek kelahiran 1927 asal Bantul. Profesinya adalah penggali sumur sekaligus “pawang air”. Kerjanya soro (berat) gila. Tapi pantangannya, seperti yang disebutkan di halaman 84. Cukup menolak daging binatang berkaki empat demi menjaga prinsip wong mulya lan sembodo. Di sela-sela memotong jerami atau menggali sumur, tangan dan mulutnya tidak pernah pisah dari isapan tembakau. Sopawiro membuktikan, pikiran yang nggak neko-neko dan badan yang terus digerakkan adalah kunci umur panjang tanpa keluhan medis.
Merokok mati, tidak merokok mati. Maka, merokoklah sampai mati!
Tepatnya di lereng Gunung Sumbing, Temanggung, Atmo Prawiro (83 tahun) menjadikan tembakau sebagai urat nadi hidupnya. Di halaman 120 dia menyebut daun tembakau sebagai “emas hijau” yang menghidupi keluarganya. Tirakatnya ngeri. Di halaman 119 dijelaskan, kakek ini memangkas waktu tidurnya cuma jadi 2-3 jam sehari saja demi tahajud dan memohon rezeki yang barokah di sepertiga malam. Ketika kampanye anti-tembakau menyerang desanya, Atmo Prawiro ngamuk. Di halaman 123, dia mengeluarkan pernyataan pamungkasnya,
“Bekerja tidak merokok jadi tidak kuat. Pedoman saya: merokok ya mati, tidak merokok ya mati, maka merokoklah sampai mati.”
Sementara di Banyuwangi, ada mantan pejabat dan pengusaha keturunan bangsawan Using, Mas Supranoto. Penggagas Perkumpulan Eka Dharma ini rumahnya tak pernah sepi tamu pencari wejangan. Sejak muda, Supranoto adalah manusia rokok dan kopi sejati. Dalam buku ini, digambarkan bagaimana di usia 80 tahun dia menemui tamunya memakai celana pendek sambil mengisap rokok hitam legendaris keluaran pabrikan Kudus. Jalan bahagianya sederhana: mencintai kemanusiaan berdasarkan Pancasila dan meniadakan ukuran materi duniawi dalam menilai kehidupan.
Resep Hidup Sehat yang Sering diabaikan
Buku ini bukan asal-asalan mengumpulkan cerita simbah. Di bagian belakang, penulis menyajikan diskusi sosiologis dan teologis soal rokok yang sering dikubur dalam-dalam oleh kampanye antirokok kelas menengah.
Kalau kita buka halaman 186-187, Kiai Idris dari Jember membedah hukum rokok secara blakasuta. Menurutnya, dalil rokok itu sifatnya Tahsiniyat. Perdebatan haram, makruh, atau mubah itu kondisional. Analogi mengharamkan rokok karena disamakan dengan khamar itu lemah secara medis dan logika. Kiai Idris menyindir keras, “kalau gula dan nasi bisa mematikan buat penderita diabetes, lha kenapa para ulama nggak berani mengharamkan gula dan nasi sekalian?”
Bisri Effendi, mantan peneliti LIPI, juga memberi pandangan. Fatwa dan larangan merokok itu sejatinya masalah politis dan sarat kepentingan elite. Rokok, sama kayak kopi di masa lalu, adalah produk budaya dan komoditas unggulan pertanian rakyat. Dulu kopi sempat dilarang dengan dalih “nggak sehat”. Namun, setelah dikuasai korporasi kapitalis dan dikemas estetik pakai bahasa Inggris, kopi mendadak jadi legal dan bergengsi. Seharusnya, rokok kretek lokal dilindungi negara demi kedaulatan ekonomi, bukan malah digencet pelan-pelan demi kepentingan industri nikotin global.
Kesimpulan dan Resep Hidup Sehat
Membaca tuntas lembar-lembar kehidupan lansia Nusantara di buku ini rasanya ‘plong’. Kita seolah ditampar untuk bangun dari ilusi “gaya hidup sehat” ala-ala modern, tanpa menimbang yang dilakukan leluhur kita.
Kita banyak belajar dari tokoh-tokoh. Atmo Diharjo yang anteng mengaji kitab kuning. Mbah Ponco yang santai menghisap tingwe pasca ’65. Hingga Haji Misto yang terang-terangan ngece orang kaya yang gampang kena stroke. Kita diajari satu filosofi esensial.
Rahasia hidup sehat hingga melampaui waktu itu sepele dan murah. Bekerjalah dengan hati riang tanpa mikir kapan pensiun, laku prihatin (tirakat) nahan hawa nafsu. Jangan kemlinthi merendahkan orang lain, rawat paseduluran, dan pasrah total pada kehendak Gusti Allah. Organ tubuh itu mengikuti batin. Kalau batinnya bebas dari rasa cemas, penyakit juga males mampir.
Jadi, barangkali Gen Z yang hari ini masih pusing akibat layar smartwatch karena takut detak jantung naik, atau yang lagi senam jantung baca ancaman di bungkus rokok. Mending leren dulu. Bikin seduhan kopi tubruk, linting tembakaumu pelan-pelan, seruput, hisap, dan mulailah hidup dengan woles. Sebab, urip iku mung mampir ngombe, ngopi, lan ngudut!
Penulis: Muhammad Ridhoi
BACA JUGA: In Defense of Smokers: Melihat Kejanggalan Praktek Brutal Propaganda Anti Rokok



