Konspirasi Global Penghancuran Kretek sebagai Upaya “Membunuh Indonesia”

Buku Membunuh Indonesia mengungkap tabir agenda asing yang ingin menghancurkan komoditas kita, seperti gula, kelapa, jamu hingga kretek.

Dalam Artikel Ini

resensi buku membunuh indonesia

Dalam Artikel Ini

Buku Membunuh Indonesia: Konspirasi Global Penghancuran Kretek membahas pelbagai hal yang jarang diketahui. Indonesia yang memiliki komoditas alam yang melimpah, mulai dari kelapa, gula, garam, jamu, hingga kretek, pelan-pelan dibunuh. Bukan dengan senjata atau perang, tapi dengan aturan, kampanye, dan dalih-dalih licik.

Dalam ruang publik modern, wacana antitembakau hampir selalu dikemas sebagai isu kesehatan publik yang seolah netral dan bebas nilai. Namun, buku Membunuh Indonesia: Konspirasi Global Penghancuran Kretek hadir untuk membalikkan asumsi tersebut secara rasional.

Buku ini ditulis oleh Abhisam DM, Hasriadi Ary, dan Miranda Harlan, serta diterbitkan oleh penerbit Kata-kata pada Desember 2011 (228 halaman, ISBN: 978-602-96522-8-3), buku ini meletakkan isu kretek tepat di tengah pusaran geopolitik dan pertarungan modal global. Dilengkapi prolog dari Sabrang Mowo Damar Panuntun (Noe ‘Letto’) serta epilog dari Mohamad Sobary, karya ini tidak sedang membicarakan rokok dalam ruang yang sempit. Melainkan membongkar strategi neokolonialisme ekonomi yang bersembunyi di balik regulasi kesehatan.

Membunuh Indonesia Bukan Hanya Tentang Rokok

Buku ini hadir dengan premis bahwa ada upaya sistematis dan global untuk menghancurkan industri kretek Indonesia dengan menggunakan isu kesehatan sebagai kedok. Penulis—Abhisam, dkk.— memandang bahwa kretek bukan sekadar produk tembakau. Melainkan sebuah produk yang memiliki nilai kebudayaan dan simbol kedaulatan ekonomi nasional. Naasnya, komoditas ini sedang “ditikam” oleh persekutuan kolonialis global.

Kretek disebut sebagai produk kebudayaan sebab ia lahir dari kreativitas unik leluhur kita yang mencampur tembakau dengan cengkeh dan saus rempah khas Nusantara. Kretek bahkan tercatat dalam sejarah sebagai simbol pergerakan nasional. Terutama di kalangan mahasiswa Indonesia yang belajar di Belanda pada masa lalu. Dari sisi ekonomi, kretek adalah industri yang paling mandiri. Sebab hampir seluruh modal, bahan baku, hingga tenaga kerjanya berasal dari dalam negeri sendiri. Ketangguhan industri ini sudah terbukti saat menghadapi berbagai krisis, termasuk krisis moneter 1998. Sebuah krisis di mana industri kretek tetap mampu bertahan dan memberikan sumbangan cukai yang sangat besar bagi negara. Bahkan jauh lebih besar dibandingkan sumbangan perusahaan tambang raksasa seperti Freeport ketika masa itu.

Namun, keberhasilan ekonomi yang mandiri ini sekarang terancam oleh apa yang disebut penulis sebagai “Perang Nikotin”. Buku Membunuh Indonesia ini mengungkap bahwa di balik agenda kesehatan global seperti FCTC (Framework Convention on Tobacco Control), terdapat kepentingan bisnis perusahaan farmasi multinasional yang ingin memasarkan produk pengganti nikotin. Seperti NRT (Nicotine Replacement Therapy) milik mereka sendiri. Isu kesehatan ini juga didorong oleh kucuran dana jutaan dolar dari lembaga asing seperti Bloomberg Initiative kepada berbagai organisasi di Indonesia untuk membatasi ruang gerak kretek melalui peraturan hukum. Abhisam, dkk. juga menyoroti adanya ketidakadilan standar ganda di pasar internasional. Contohnya, Amerika Serikat melarang impor kretek Indonesia dengan alasan kesehatan, namun tetap memperbolehkan rokok mentol buatan dalam negeri mereka sendiri. Ini yang menunjukkan bahwa isu kesehatan sering kali hanya digunakan untuk melindungi kepentingan dagang pihak asing.

Baca Juga:  In Defense of Smokers: Melihat Kejanggalan Praktek Brutal Propaganda Anti Rokok

Pola Penghancuran Komoditas Nasional sebagai Senjata Membunuh Indonesia

Salah satu kekuatan utama buku ini adalah keberhasilannya menarik benang merah antara ancaman yang dihadapi industri kretek dengan nasib komoditas asli Indonesia lainnya. Penulis memaparkan sebuah “sejarah kemunafikan global”, di mana isu kesehatan atau regulasi internasional sering kali digunakan sebagai alat untuk mematikan ekonomi rakyat. Berikut adalah beberapa kasus yang dijelaskan secara mendalam:

Kelapa

Penulis menceritakan kisah sedih para petani kelapa di Mandar dan Selayar yang dulunya berjaya dengan sebutan “emas hijau”. Namun, industri ini mulai hancur pada tahun 1980-an ketika American Soybean Association (ASA) dari Amerika Serikat melancarkan kampanye hitam. Mereka menuduh minyak kelapa berbahaya bagi kesehatan karena mengandung kolesterol tinggi. Padahal, tujuan aslinya adalah untuk melindungi pasar minyak kedelai mereka sendiri agar minyak kelapa dari negara tropis seperti Indonesia tidak bisa bersaing. Amerika bahkan membagikan “alat pelawan lemak” kepada ratusan ribu petani mereka untuk mendorong protes terhadap minyak kelapa. Akibatnya, banyak pabrik minyak kelapa lokal bangkrut dan petani kehilangan mata pencahariannya.

Gula

Indonesia pernah menjadi negara produsen gula terbesar kedua di dunia pada tahun 1930-an. Namun, kini malah berubah menjadi salah satu negara pengimpor gula terbesar. Kehancuran ini mencapai puncaknya pada tahun 1998, ketika IMF memaksa pemerintah Indonesia menandatangani Letter of Intent. Perjanjian ini mewajibkan penghapusan perlindungan bagi petani tebu dan pembebasan bea masuk impor gula menjadi 0%. Akibatnya, gula murah dari luar negeri yang diproduksi perusahaan raksasa seperti Cargill membanjiri pasar. Hal ini mengakibatkan pabrik gula lokal satu per satu tumbang, sebab tidak sanggup bersaing secara tidak adil.

Baca Juga:  Srinthil: Pusaka Saujana Lereng Sumbing, Tembakau yang Tak Ada di Mana pun!

Garam

Mirip dengan gula, industri garam nasional yang sempat swasembada di pertengahan 1990-an harus terpuruk setelah adanya kampanye penggunaan garam beryodium secara wajib. Kampanye ini diprakarsai oleh perusahaan multinasional asal Belanda, Akzo Nobel, dengan dukungan dari UNICEF dan Bank Dunia. Melalui aturan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang ketat, garam rakyat dianggap tidak memenuhi syarat kesehatan. Petani lokal tidak diberikan dukungan teknologi dan modal untuk memenuhi standar tersebut. Akibatnya, pasar garam akhirnya dikuasai oleh produk impor. Sialnya juga, Indonesia yang memiliki garis pantai sangat panjang, justru harus mengandalkan pasokan garam dari luar negeri.

Jamu

Warisan leluhur berupa obat-obatan tradisional juga tidak luput dari serangan. Hegemoni farmasi Barat sering kali memandang rendah jamu, karena dianggap tidak memiliki “uji klinis” yang sesuai dengan standar mereka. Meskipun kemanjurannya sudah terbukti selama berabad-abad secara empiris. Buku Membunuh Indonesia ini juga menyoroti masalah biopirasi, di mana kekayaan alam Indonesia ini “dibajak” oleh perusahaan asing. Contohnya, perusahaan LG dari Korea Selatan yang mematenkan temulawak untuk bahan pasta gigi dan sampo. Ironisnya, manfaat temulawak tersebut ditemukan oleh peneliti asal Indonesia. Namun, karena kurangnya apresiasi dan modal di dalam negeri, kekayaan tersebut justru dipatenkan dan dikuasai oleh pihak asing.

Penulis menekankan bahwa semua kasus ini memiliki pola yang sama. Ada alasan “mulia” seperti kesehatan atau kemajuan ekonomi yang digunakan sebagai topeng untuk menutupi kepentingan bisnis korporasi besar dunia. Dengan memahami pola ini, pembaca diajak untuk lebih kritis terhadap setiap aturan internasional yang masuk dan mulai berani membela kedaulatan ekonomi bangsa sendiri.

Halaman Selanjutnya: Sejarah dan Keunikan Kretek..