Penopang Ekonomi yang Vital
Buku Membunuh Indonesia ini memaparkan bahwa kretek adalah penopang ekonomi yang sangat vital. Dengan kontribusi cukai yang mencapai Rp 62 triliun pada tahun 2010, kretek menjadi penyumbang pendapatan negara yang luar biasa besar. Sebagai gambaran nyata, angka ini jauh melampaui kontribusi perusahaan tambang raksasa seperti Freeport yang pada saat itu hanya menyumbang sekitar Rp 20 triliun bagi negara. Padahal, selama ini sektor pertambangan yang dikuasai asing sering dianggap sebagai penyumbang terbesar, namun kenyatannya kretek yang merupakan industri lokal justru memberi hasil yang lebih nyata bagi kas negara.
Selain itu, industri ini menjadi sandaran hidup bagi jutaan rakyat Indonesia. Data tahun 2009 menunjukkan bahwa dari hulu hingga hilir, industri kretek menyerap sekitar 30,5 juta tenaga kerja, mulai dari petani tembakau dan cengkeh di desa-desa hingga buruh linting di pabrik-pabrik. Karena perannya yang sangat besar dalam menjaga kedaulatan ekonomi dan menghidupi rakyat kecil, penulis menegaskan bahwa industri kretek seharusnya mendapatkan perlindungan serius dari negara, bukan justru dibatasi oleh regulasi yang didikte oleh kepentingan asing
Kesimpulan
Membunuh Indonesia adalah sebuah gugatan terhadap ketidakadilan sistem ekonomi global yang merugikan negara berkembang seperti kita. Penulis ingin menunjukkan bahwa dunia internasional sering kali tidak adil karena menerapkan standar ganda. Mereka memaksa negara berkembang membuka pasar selebar-lebarnya, sementara mereka sendiri mati-matian melindungi industri dalam negerinya. Buku ini mengajak pembaca untuk lebih kritis dan tidak menelan mentah-mentah setiap regulasi internasional yang masuk. Kita harus sadar bahwa sering kali terdapat agenda bisnis terselubung di balik alasan-alasan yang terdengar “mulia”, seperti isu kesehatan atau hak asasi manusia, yang sebenarnya digunakan sebagai alat untuk mematikan komoditas unggulan nasional kita.
Penulis mengingatkan bahwa neokolonialisme tidak lagi menggunakan senjata, melainkan melalui kebijakan dan “putar lidah” yang halus. Jika kita hanya diam dan mengikuti semua aturan asing tanpa mempertanyakan kepentingannya, maka pelan-pelan kekayaan alam dan identitas budaya kita—termasuk kretek—akan habis dikuasai oleh asing. Kita diajak untuk tidak menjadi seperti “Malin Kundang” yang silau dengan modernitas Barat, hingga tega meremehkan warisan kearifan lokal bangsa sendiri.
Sebagaimana pesan dalam prolog dan epilognya, buku ini bukan untuk mereka yang merasa sudah berada di zona nyaman. Jika Anda merasa sudah cukup dengan apa yang ada dan tidak peduli apakah informasi yang Anda terima selama ini benar atau palsu, maka membaca buku ini mungkin akan membuat pikiran Anda merasa sangat terganggu. Namun, buku ini sangat penting bagi mereka yang masih peduli pada kemandirian dan jati diri bangsa. Mohamad Sobary dalam epilognya bahkan mempertanyakan apakah kita sudah kehilangan rasa kebangsaan karena lebih memilih membela aturan asing daripada nasib jutaan petani dan buruh di negeri sendiri. Akhirnya, Buku “Membunuh Indonesia: Konspirasi Global Penghancuran Kretek” ini adalah sebuah ajakan untuk berani berdiri tegak, jujur pada diri sendiri, dan berjuang mempertahankan kedaulatan ekonomi Indonesia agar tidak terus-menerus didikte oleh kepentingan global
Penulis: Alfianaja Maulana
BACA JUGA: Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya, Melihat Sejarah dari Sebatang Rokok



