Konspirasi Global Penghancuran Kretek sebagai Upaya “Membunuh Indonesia”

Buku Membunuh Indonesia mengungkap tabir agenda asing yang ingin menghancurkan komoditas kita, seperti gula, kelapa, jamu hingga kretek.

Dalam Artikel Ini

resensi buku membunuh indonesia

Dalam Artikel Ini

Sejarah dan Keunikan Kretek dalam buku Membunuh Indonesia

Penulis membawa pembaca menelusuri akar sejarah kretek yang sangat unik dan berbeda dari rokok pada umumnya. Kretek pertama kali ditemukan oleh seorang warga Kudus bernama Haji Djamhari sekitar akhir abad ke-19. Tepatnya antara tahun 1870 hingga 1880. Menariknya, kretek awalnya diciptakan bukan untuk tujuan komersial, melainkan sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit sesak napas atau sakit dada yang diderita Haji Djamhari. Ia mencoba merajang cengkeh halus-halus dan mencampurkannya ke dalam tembakau supaya asapnya bisa masuk ke paru-paru dan melegakan pernapasannya. Karena terbukti manjur, ramuan ini kemudian menyebar luas ke teman-temannya sebagai obat mujarab, hingga akhirnya berkembang menjadi industri besar di Kudus.

Buku ini menekankan bahwa kretek memiliki identitas yang jauh berbeda dibandingkan rokok putih dari Barat. Jika rokok putih biasanya hanya mengandung campuran dua atau tiga jenis tembakau saja, sebatang kretek bisa berisi racikan lebih dari tiga puluh jenis tembakau yang berasal dari seluruh pelosok Indonesia. Selain tembakau, unsur yang paling khas adalah campuran cengkeh dan saus rempah. Saus ini adalah resep rahasia yang dijaga ketat oleh setiap pabrik. Setiap aromanya bisa terdiri dari puluhan hingga ratusan jenis rasa rempah dan buah-buahan seperti nangka, pisang, atau kayu manis untuk menjaga konsistensi rasa. Nama “kretek” sendiri adalah sebuah onomatope atau tiruan bunyi, yang diambil dari bunyi kretek-kretek yang muncul saat butiran cengkeh terbakar bersama tembakau.

Kretek juga pernah menjadi simbol pergerakan nasional. Sumber buku ini menyebutkan, bahwa diaspora Indonesia di Belanda pada masa lalu menggunakan rokok kretek kelobot (yang dibungkus daun jagung) sebagai simbol identitas diri. Sekaligus rasa bangga sebagai bangsa Indonesia di tanah asing. Kretek sudah dianggap setara dengan warisan budaya lain seperti rendang atau gudeg. Oleh karena itu, buku ini memandang upaya penghancuran kretek bukan hanya soal bisnis. Namun juga serangan terhadap produk kebudayaan yang sudah melekat dalam keseharian dan sejarah perjuangan bangsa kita

Baca Juga:  Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya, Melihat Sejarah dari Sebatang Rokok

Upaya Agenda Global untuk “Menghancurkan Indonesia”

Bagian paling kritis dari buku ini menelanjangi apa yang disebut sebagai “Perang Nikotin”. Penulis mengungkap bahwa terdapat kepentingan bisnis di balik kampanye pengendalian tembakau global. 

Buku ini menjelaskan bahwa nikotin kini menjadi komoditas bisnis yang sangat menggiurkan. Perusahaan farmasi dituding mendanai berbagai gerakan antitembakau bukan murni demi kesehatan. Melainkan untuk menggeser konsumsi nikotin dari rokok ke produk buatan mereka, yakni NRT. Produk-produk ini meliputi permen karet nikotin, koyo (patch), semprotan hidung, hingga obat hirup. Penulis memaparkan data bahwa lembaga dunia seperti WHO melalui Tobacco Free Initiative ternyata disokong dana sangat besar (sekitar 75%) oleh perusahaan farmasi seperti Pharmacia Upjohn, Novartis, dan Glaxowelcome untuk mempromosikan agenda ini.

Selain itu, buku ini juga menyoroti peran Bloomberg Initiative milik Michael Bloomberg. Bloomberg mengucurkan dana puluhan miliar rupiah ke berbagai LSM, universitas, hingga lembaga pemerintah di Indonesia. Tujuannya adalah untuk mendorong lahirnya berbagai aturan ketat, seperti larangan iklan dan kawasan tanpa rokok. Hingga akibatnya, secara perlahan mematikan ruang gerak industri kretek lokal.

Buku ini juga mencatat sebuah ironi besar dalam sejarah persaingan ini. Awalnya, perusahaan rokok putih multinasional seperti Philip Morris dan British American Tobacco (BAT) berusaha membatasi kretek melalui regulasi. Salah satu caranya adalah dengan mendorong aturan batas maksimal tar dan nikotin yang sangat rendah (seperti pada PP 81/1999), yang sangat sulit dipenuhi oleh kretek asli Indonesia karena kandungan alaminya yang tinggi.

Namun, setelah puluhan tahun gagal mengalahkan dominasi pasar kretek secara alami di Indonesia, perusahaan-perusahaan global ini akhirnya mengubah strategi. Alih-alih melawannya, mereka justru mengakuisisi atau mencaplok raksasa kretek lokal. Hal ini terbukti dengan langkah Philip Morris yang membeli Sampoerna pada tahun 2005 dengan nilai fantastis Rp 48,5 triliun. Disusul oleh BAT yang mengambil alih Bentoel pada tahun 2009. Penulis memandang fenomena ini sebagai upaya pihak asing untuk menguasai perputaran uang triliunan rupiah dari industri kretek Indonesia. Lalu melarikannya ke luar negeri.

Baca Juga:  Denyut Nadi Ekonomi Kerakyatan dalam buku Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota

Ketangguhan Industri Nasional dalam Buku Membunuh Indonesia

Industri kretek disebut sebagai satu-satunya industri nasional yang terbukti tahan banting menghadapi berbagai krisis, termasuk krisis moneter 1998. Rahasianya terletak pada mata rantai produksinya yang hampir seluruhnya berada di dalam negeri. Mulai dari modal, bahan baku utama seperti tembakau dan cengkeh, hingga tenaga kerjanya, semuanya berasal dari sumber daya bangsa sendiri. Hal ini membuat kretek memiliki kemandirian yang sangat kuat karena tidak bergantung pada kondisi ekonomi luar negeri.

Sejarah telah menguji ketangguhan industri ini berkali-kali. Sejak zaman kolonial, kretek tetap mampu bertahan melewati berbagai guncangan besar, mulai dari Perang Dunia I, Depresi Besar tahun 1930-an, masa penjajahan Jepang yang sangat sulit, Agresi Militer Belanda, hingga pergantian kekuasaan yang berdarah pada tahun 1965. Puncaknya terlihat saat krisis moneter 1998 melanda Asia. Ketika banyak perusahaan modern di Indonesia bangkrut karena biaya impor yang melonjak, industri kretek justru tetap stabil karena kandungan bahan impornya sangat kecil, yaitu hanya sekitar 4 persen saja. Di saat sektor lain melakukan PHK massal, jumlah pekerja di industri kretek justru tercatat terus meningkat.

 

Halaman Selanjutnya: Penopang Ekonomi yang Vital