Toko Wiwoho adalah toko tembakau yang berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka. Toko ini telah berhasil melampaui waktu. Tahun ini, usianya genap 107 tahun. Toko legendaris ini selalu diwariskan secara turun-temurun. Bahkan, bisnis ini sanggup membuat kalangan Gen Z tertarik pada jagat pertembakauan.
***
Langit tampak teduh saat saya memacu motor hari itu. Saya melaju di Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 4. Ada satu toko tembakau yang sangat ingin saya kunjungi. Konon, toko ini sudah berdiri kokoh sejak zaman penjajahan.
Toko Wiwoho tampak lengang ketika saya tiba di sana. Hanya terlihat beberapa motor terparkir di area trotoar depan. Bangunannya memang tampak cukup usang. Namun, toko ini seakan punya daya tarik magis tersendiri. Saya merasa toko ini terlihat cukup vintage. Desain logonya saya pikir juga tidak terlalu lawas.

Saya ikut memarkir motor di depan toko tersebut. Saya sempat bersinggungan dengan pria paruh baya berjaket ojek daring. Ia tersenyum hangat menyapa saya. Saya pun membalas sapaan itu dengan ramah.
Ketika masuk, aroma tembakau langsung tercium sangat kuat. Kira-kira ada seratus lebih aroma tembakau yang saling tercampur. Sangat sulit bagi saya untuk mendeskripsikan rupa aromanya. Sebab, memang ada seratus lebih jenis tembakau dijual di Toko Wiwoho.
Toko Wiwoho Jadi Rujukan Tembakau Incaran Gen Z
Pertama kali datang, saya tak langsung menyapa sang penjual. Saya justru tertarik dengan berbagai jenis tembakau pajangan. Ada tembakau Mole seharga Rp40 ribu per satu ons. Ada pula tembakau Kedu yang dibanderol dengan harga serupa.
“Mau cari tembakau apa, Mas?” sapa sang penjualnya ramah. Pria tersebut kemudian baru saya ketahui bernama Daniel (48).
Karena penasaran, saya mencoba menanyakan sebuah tren. Saya bertanya tembakau apa yang sedang banyak digemari muda-mudi. Daniel langsung mengarahkan saya ke sudut meja paling barat. Sambil menunjuk, ia memperlihatkan stoples aneka ragam tembakau.
“Ini, Mas. Kebanyakan anak muda suka sama tembakau racikan pabrik,” imbuhnya sambil membuka stoples.
Saya segera meminta tester tembakau racikan Samsu. Membuat saya jadi teringat masa-masa sulit saat masih kuliah dulu. Dulu, saya sering membeli tembakau ini ketika ekonomi sedang seret.
Daniel memberikan saya alat lintingan, sehelai papir, dan lem. Setelah selesai melinting, saya mencoba bertanya kepadanya. Mengapa tembakau racikan ini sangat digemari oleh anak muda?
Daniel bercerita banyak Gen Z mulai tertarik budaya melinting. Jumlahnya memang belum sebanyak orang tua pencari tembakau murni. Namun, Toko Wiwoho tetap menjadi rujukan utama anak-anak muda. Terutama, bagi mereka yang masih awam soal dunia tembakau.
Kata Daniel, banyak anak muda yang sering meminta rekomendasi. Tentu kasusnya persis seperti yang saya lakukan hari ini. Di sela obrolan santai, saya memesan setengah ons tembakau tersebut.
Sejarah Toko Wiwoho Sejak Zaman Penjajahan Belanda
Saat pesanan dilayani, muncul seorang wanita paruh baya. Ia mengenakan kaus hitam bertuliskan huruf khas China. Namanya adalah Sri Wahyuni (62). Ia menyapa saya dengan senyuman yang sangat ramah.
Saya langsung menduga ia adalah pemilik Toko Wiwoho saat ini. Tak mau melewatkan kesempatan, saya langsung membalas sapaannya.
Saya memperkenalkan diri sebagai pengunjung dari Komunitas Kretek. Sri mempersilakan saya menikmati tembakau yang baru dibakar. Sebagai informasi, Sri adalah pemilik toko generasi ketiga. Ia merupakan anak kandung dari Bapak Wiwoho. Ibunya yang bernama Setyowati sudah tidak bisa mengelola toko. Oleh karena itu, toko ini akhirnya diwariskan kepada Sri.
“Dulu toko ini dikenalnya Toko Mbah Petruk, Mas. Karena ini ada wayang di belakang. Dulu bapak suka mengoleksi wayang,” terang Sri Wahyuni sambil menata etalase.
Menurut Sri, toko ini sudah berdiri sejak tahun 1919. Tempat ini digadang-gadang sebagai toko tembakau pertama di Jogja.
“Dulu depan toko ini masih hutan. Tugu Jogja ini masih kecil. Nggak sebesar sekarang,” imbuhnya menjelaskan.
Toko ini konon menjadi langganan kompeni pada zaman penjajahan. Namun, ukuran bangunannya dulu belum sebesar yang sekarang.
Mewariskan Bisnis Tembakau Kepada Generasi Z
Kami pun mengobrol cukup panjang hari itu. Sri memberikan saya rekomendasi beberapa tembakau langganan anak muda. Ada juga varian tembakau rasa seperti Virgin dari Taru Martani. Saya pun langsung membelinya.
Di tengah obrolan, Sri bercerita soal pewarisan Toko Wiwoho. Toko legendaris ini rutin diwariskan ke setiap generasi penerus. Saya sempat berpikir mengapa toko ini bisa bertahan lama. Barangkali ada wejangan khusus dari para generasi pendahulunya. Sri Wahyuni pun membalas rasa penasaran saya dengan ramah.
“Nggak ada, Mas. Saya bingung kalau ditanya gitu. Nggak ada pesan-pesan juga dari oma. Ya, saya mewarisi yang sudah ada saja. Nanti juga diwariskan ke anak saya juga,” ungkapnya sambil tertawa kecil.

Sri bercerita bahwa anaknya juga tertarik dengan dunia tembakau. Saat ini, anaknya yang bernama Cindy (25) sedang membuka toko. Toko tembakau tersebut diberi nama Acintala Tobacco. Bisnis itu dikembangkan karena Cindy ingin berbisnis seperti ibunya. Keinginan itu muncul kuat setelah ia lulus dari bangku kuliah.
“Anaknya juga baru lulus dari Amikom. Dia bilang pengin berbisnis seperti mamanya. Saya juga mendukung keputusannya. Sekarang belum ada satu tahun sudah punya dua toko,” sambungnya bangga.
Daniel ikut menimpali cerita dari sang pemilik toko. Ia menyebut anak Sri sudah lama ikut menjaga toko. Dari rutinitas itu, Cindy perlahan mulai sangat mencintai bisnis tembakau.
Cerita tersebut membuat saya merasa semakin sangat penasaran. Namun, saya harus undur diri karena banyak pembeli mengantre. Saya tak ingin mengganggu bisnis yang sangat moncer ini. Apalagi, Daniel menyebut omzet harian Toko Wiwoho bisa mencapai Rp2 juta.
Suatu saat nanti saya berencana mengulik cerita Cindy. Saya ingin tahu lebih dalam soal pemilik Acintala Tobacco tersebut. Saya sangat penasaran bagaimana Gen Z mau meneruskan jejak orang tua. Sebuah langkah berani untuk terjun menjaga warisan bisnis tembakau nusantara.
Penulis: Muhammad Ridhoi
BACA JUGA: Toko Tembakau Tobeko Yang Populer Di Jogja



