Review Rokok Artha Sena, SKT Murahan yang Cocok Untuk Wong Kalahan

Dalam Artikel Ini

rokok artha sena, rokok murah cocok untuk wong kalahan

Dalam Artikel Ini

Lagi-lagi penyelamat ekonomi datang, Artha Sena muncul dengan harga cuma Rp12 ribu per dua puluh batang. Rokok murah ini cocok buat kamu yang mau ngebul tapi tetap irit.

***

Sebagai wong kalahan di era ekonomi sulit ini, saya selalu menekan pengeluaran rokok saya demi bisa menabung. Sudahlah kalah di semua hal, rokok pun harus ngirit. Meski saya sedikit menghela nafas lega ketika mendengar kabar bahwa cukai rokok tak naik tahun 2027.

Meski begitu, saya tak boleh lengah. Sesekali merokok enak tak masalah. Tapi, harus diatur juga pengeluarannya. Untungnya, ada satu rokok keluaran PT. Rukun Global Indonesia yang menyelamatkan saya. Rokok murah ini dibanderol dengan harga Rp12 ribuan saja di toko kelontong. Sudah dapat 20 batang pula. Namanya: Artha Sena.

Desain bungkus yang tak seperti rokok murah

Dibandingkan desain rokok Artha yang sebelumnya, Artha Sena ini punya bungkus yang cukup bagus. Sebab sekilas saya meiihatnya seperti Win Filter. Tapi ini subjektif, lho. Saya menilainya: meski murah, tapi bungkusnya tak murahan.

Artha Sena didominasi oleh warna merah maroon. Di tengah bungkusnya, ada tulisan “Artha” dengan font latin. Pula, ada elemen warna kuning yang menjadi background judul merk ini. “Sena” tertulis kecil dan berwarna merah, tepat di atas tulisan “Artha”. 

Menariknya lagi, bungkus ini juga menonjolkan kalimat “Handmade Product” di bawah tulisan “20 “ dan “Kretek”. Menunjukkan betapa bangganya mereka menyuguhkan hasil padat karya ini. 

Dan, ini yang paling menarik. Awalnya saya pikir, elemen berwarna kuning ini cuma warna solid biasa. Ternyata tidak. Ketika saya tak sengaja melihatnya dari sisi samping, ternyata ini adalah hologram. Elemen kuning itu menampilkan tulisan “Sena” yang lainnya, berbaris memenuhi elemen kuning itu.

Baca Juga:  Macam-macam Rokok Dengan Harga di Bawah Rp 10 ribu

rokok artha sena
Hologram Artha Sena (Ridhoi/Komunitas Kretek)

Makanya, ini sebabnya saya berpikir bahwa desain rokok murah ini tidak terasa murahan. Sepakat?

Aroma yang ‘biasa aja’, tapi rasanya ‘nggak biasa’ juga

Kalau soal rasa, jujur saya tidak terlalu mempermasalahkannya. Selama rokok itu masih ngebulable, ya, sikat aja. Tapi, kalau terlalu aneh juga saya tetap permasalahkan juga. 

Tapi, dari segi aroma Artha Sena ini jujur saja terlalu biasa saja. Ya, saya tidak sekali dua kali mencoba rokok murah. Hampir sebagian besar hidup saya ditemani oleh rokok murah seperti Lodjie, Artha, Lakon, dan SKT yang nggak terkenal lainnya. Kalau boleh saya bilang juga: aroma khas rokok murah. 

Tapi, soal aroma itu minor. Selanjutnya, saya mencoba membakarnya. Biasanya saya benci satu hal ketika mencoba rokok murah: terlalu padat sampai susah dihisap. Sayangnya, Artha Sena tidak demikian. Tarikan pertamanya benar-benar enteng. Tak seberat yang saya bayangkan. Terlanjur saya underestimate dengan aromanya. Malah diruntuhkan oleh tarikannya yang enteng.

Pun, kalau biasanya saya pikir, “pasti batang lainnya ada yang terlalu padat,” itu juga salah. Berbatang-batang saya hisap Artha Sena ini, tak ada yang terlalu padat ataupun terlalu kopong. Konsisten semua. Padahal bisa dibilang, batang rokok ini juga punya ukuran yang lumayan besar, atau king size. Beda dengan Artha yang sebelumnya, rokok ini malah lebih cocok bagi saya.

Rasanya juga—walau tak seeneak Djarum Super Kretek atau Dji Sam Soe—tetap lumayan. Sopan sekali masuk ke tenggorokan, seperti pamit dulu sebelum memenuhi paru-paru saya. Ini yang membuat saya semakin terkejut dan spontan bertanya pada Artha Sena ini, “lu beneran rokok murah?”

Baca Juga:  Ketika Masyarakat Temanggung Lebih Suka Bawa Tembakau daripada Rokok Pabrikan

Wangi tembakau dan cengkehnya tak terlalu menusuk. Namun tetap terasa gurih di lidah. Serta aftertaste yang nggak bikin eneg juga. 

Artha Sena yang mampu membuat saya berpaling

Saya akui bahwa Artha Sena ini sudah mampu membuat saya berpaling dari Lodjie Menthol favorit saya. Selain karena harganya yang murah, rokok ini benar-benar cocok buat saya yang pekerja keras (anjay). Berjam-jam menghadap laptop, sampai tak sadar kalau rokoknya terbakar sia-sia. Tapi kalau cuma Artha Sena, mah, tinggal bakar lagi. 

Sayangnya rokok ini sepertinya belum banyak beredar di toko kelontong area Jogja. Padahal dengan harganya yang cuma dibanderol Rp12 ribu, saya pikir ini rokok pasti bakal jadi incaran wong kalahan. Atau memang, jangan-jangan saya susah menemukannya karena laku keras? 

Tapi, dengan isi 20 batang, saya yakin rokok ini akan mampu jadi penyelamat mereka yang sedang ngirit soal rokok. Ya, daripada rokok ilegal, ini sudah cukup bagi saya. Apalagi kalau ditemani kopi Starbucks Rp80 ribu, rokok ini pasti bakal terasa lebih nikmat.

Penulis: Muhammad Ridhoi

BACA JUGA: Lodjie Menthol: Rokok Murah, Tapi Rasanya Nggak Murahan, Cocok Buat Rokok Harian!

Muhammad Ridhoi