Kampanye antirokok awalnya muncul di Amerika pada tahun 1964 dalam laporan Badan Surgeon General yang menyatakan bahwa merokok dapat menyebabkan penyakit kanker paru-paru dan bronkitis. Dari laporan tersebut kemudian menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Badan Surgeon General merupakan kepala organisasi Dinas Kesehatan Masyarakat Amerika Serikat yang menjadi juru bicara negara untuk mengatasi masalah-masalah kesehatan masyarakat. Di dalamnya banyak dokter yang ditugaskan dan diberi kepercayaan oleh pemerintah untuk mengurus kesehatan masyarakat.
Kita sangatlah tahu bagaimana narasi mengenai buruknya rokok di kehidupan sehari-hari. Mulai dari rokok menyebabkan berbagai penyakit bahkan sampai merokok dicap sebagai tindakan yang amoral. Dari alasan-alasan tersebutlah muncul kampanye bahwa rokok harus diperangi, dan dihancurkan. Dalam buku ini sang penulis, Lauren A. Colby menunjukkan bahwa kampanye untuk menentang rokok berpaku pada data statistik palsu, penelitian-penelitian yang tidak teruji maksimal dan hal tersebut merupakan sebuah kebohongan besar.
Benarkah Narasi Antirokok yang Beredar Selama ini?
Setiap tahunnya pemerintah Amerika mengeluarkan berita bahwa ada angka kematian yang berhubungan dengan rokok berkisaran 450.000. Mengenai hal tersebut Lauren A. Colby menceritakan pengalaman seseorang yang tergabung dalam sebuah kelompok berita internet yang berisikan para perokok mempertanyakan dari mana angka tersebut kepada badan kesehatan. Salah seorang anggota tersebut menelpon kepada Badan Kesehatan berkali-kali dengan berbagai orang di badan tersebut yang menjawabnya, dan diketahui tidak ada seorangpun yang bisa menjelaskan bagaimana angka tersebut terkumpul.
Cerita lainnya yang ada dalam buku tersebut pada 19 April 1995 Mary Ellen Haley mengirimkan surat kepada Mercury News di San Jose, California. Dalam surat tersebut Mary menceritakan pengalamannya ketika seseorang yang dicintainya meninggal karena penyakit adenokarsinoma. Dokter yang menanganinya mengeluarkan sertifikat kematian yang menyebut bahwa penyebab penyakit tersebut yang berujung pada kematian disebabkan karena “merokok rokok putih”. Mary mencoba menyakinkan kembali kepada dokter apakah penyakit adenokarsinoma disebabkan oleh merokok rokok putih? Sang dokter tidak yakin akan hal tersebut, tetapi ada panduan dari badan American Cancer Society, ketika seseorang meninggal karena penyakit tertentu dan memiliki riwayat merokok, maka dokter yang menanganinya diinstruksikan untuk memvonis kematian tersebut disebabkan karena merokok. Kejanggalan dalam vonis dokter tersebut tidak adanya bukti ilmiah guna memvalidasi penyebab kematian. Hanya berdasarkan pada instruksi resmi dari suatu badan kesehatan.
Data Statistik Palsu dan Penelitian Yang Tak Teruji Ilmiah
Salah satu negara dengan tingkat perokok yang tinggi ialah Jepang. Dalam buku The Oxford Atlas of The World yang terbit pada tahun 1992 menyebutkan bahwa masyarakat Jepang mengkonsumsi 2515 batang rokok dalam setahun per kapita, dalam kurun waktu 1986-1988. Dan merokok lekat dengan penyebab penyakit kanker paru-paru yang kemudian berujung pada kematian. Tetapi, angka rata-rata penyebab kematian di Jepang adalah 0,5% pada laki-laki. Meski masyarakat Jepang memiliki rata-rata angka yang tinggi dalam konsumsi rokok, seorang laki-laki Jepang memiliki harapan hidup hingga 75 tahun, sedangkan pada perempuan mencapai 80 tahun. Dan hal tersebut merupakan harapan hidup tertinggi di dunia.
Dari pernyataan yang kontradiktif di atas, Kees Van Der Griendt seseorang dari Belanda melakukan penelitian mengenai tingkat harapan hidup di banyak negara dan perbandingan rata-rata kematian yang disebabkan penyakit kanker. Dengan mengumpulkan data dari 87 negara melalui temuan WHO, dari pengumpulan data tersebut ia menyimpulkan bahwasanya suatu negara dengan jumlah perokok yang tinggi memiliki harapan hidup yang panjang serta rata-rata kematian oleh kanker paru-paru yang rendah. Sebagai contoh, Islandia memiliki harapan hidup mencapai 76,6 tahun pada laki-laki, dan 31% diantaranya ialah perokok. Kemudian di Kuba, memiliki harapan hidup pada laki-laki mencapai 74,7 tahun dan 49,3% diantaranya adalah perokok.
Penemuan yang Membantah Antirokok
Penemuan tersebut telah membantah klaim dari antirokok yang menyatakan bahwa perokok memiliki harapan hidup yang tidak lama. Di Amerika kampanye badan kesehatan dan organisasi menyebutkan bahwa merokok dapat mengurangi tujuh tahun harap hidup seseorang. Sedangkan di Eropa yang disebutkan oleh Kees Van Der Griendt dalam websitenya, klaim mengurangnya harapan hidup seseorang mencapai 20 hingga 25 tahun. Dari sini, kita perlu untuk mempertanyakan kembali validitas dari suatu klaim tidak hanya dari satu sudut pandang. Ketika ada klaim yang menyatakan bahwa merokok dapat menyebabkan berkurangnya harapan hidup seseorang karena kanker paru-paru dan serangan jantung, bukti ilmiahnya harus jelas terlihat. Dan tervalidasi jika merokok dapat mengurangi harapan hidup seseorang dan terbukti pada suatu negara dengan tingkat perokok yang tinggi, memiliki harapan hidup yang rendah pula. Tetapi pada kenyataannya berbalik.
Propaganda Rancu Antirokok
Pemerintah dan organisasi antirokok menggelontorkan propaganda dan menyatakan perang terhadap rokok, tetapi narasi yang mereka munculkan selalu berdasar pada suatu hal yang tidak jelas kebenarannya. Bahkan Lauren A. Colby memberikan bukti dari perkataan mantan Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Nasional Kanada, Marc LaLonde. Menyatakan bahwa pesan-pesan kesehatan harus disampaikan secara “keras, jelas, dan tegas” meski tidak didukung oleh bukti atau penelitian ilmiah.
Hal tersebut bisa disebut sebagai kebohongan publik yang diberikan oleh pemerintah. Suatu kebijakan, regulasi, dan pesan-pesan apapun itu harus didasarkan pada fakta dan penelitian lebih lanjut. Kita tidak bisa menyampaikan sebuah pesan tetapi pesan tersebut tidak jelas kebenarannya dan tidak masuk akal. Walaupun begitu, alih-alih memberikan bukti jelas propaganda antirokok terus bermunculan dengan segala macam pesan dan klaim yang palsu.
Perlawanan antirokok tidak berhenti pada klaim-klaim dan pengaruh mereka dalam kebijakan pemerintah. Jika ada seseorang atau kelompok menentang atau mempertanyakan pendapat mengenai rokok dapat menyebabkan berbagai penyakit dan berujung kematian, maka mereka akan dicap sebagai alat propaganda dari perusahaan rokok. Dan dihadapkan dengan berbagai argumen yang mereka gelontorkan.
Apakah Benar Tidak Ada Resiko Ketika Merokok?
Penulis buku menyatakan bahwa selama ia meneliti dan hidup sejauh ini, tidak ada bukti dari kasus merokok dapat menyebabkan berbagai penyakit dan kematian. Lauren A Colby berfokus bahwa rokok bukan menjadi faktor utama dari sebuah penyakit. Ia melihat penelitian-penelitian yang sudah dilakukan dan melihat kesimpulan bahwa jawabannya terletak pada gen masing-masing orang.
Setiap manusia memiliki gen/mutasi gen yang berbeda-beda. Dari yang memiliki gen dengan daya tahan yang kuat maupun lemah. Baik yang merokok atau tidak merokok memiliki ketahanan gen yang berbeda-beda, tidak bisa disamaratakan. Bisa jadi seorang perokok memiliki gen dengan daya tahan kuat dan yang tidak merokok memiliki daya tahan yang lemah. Merokok atau tidak merokok tidak bisa menjadi sebuah patokan apakah seseorang tersebut bisa terkena suatu penyakit dengan alasan tertentu.
Selain terkena penyakit dan kematian, resiko yang sering disebutkan akibat merokok adalah kecanduan. Para antirokok selalu membuat klaim dan menyebut perokok sebagai “pecandu nikotin”. Karena mereka percaya bahwa nikotin dapat menyebabkan kecanduan. Nikotin merupakan zat yang terkandung dalam tanaman tembakau yang memberikan efek rileks ketika dikonsumsi. Dari hal tersebut mereka berasumsi bahwa itu lah yang menyebabkan seorang menjadi kecanduan.
Menurut saya pribadi sebagai perokok, rokok bukanlah sesuatu yang candu. Melainkan sebuah kebiasaan. Beda antara candu dengan kebiasaan. Saya bisa membuktikan hal tersebut ketika saya sedang berpuasa di bulan ramadhan. Seseorang berpuasa selama 13-14 jam menahan makan, minum, dan merokok bagi yang merokok. Dari proses puasa yang saya lakukan, tidak ada reaksi apapun dari tubuh saya ketika tidak merokok. Dan tidak sakau, seperti orang-orang kecanduan narkoba. Maka merokok bukanlah sesuatu yang candu.
Kesimpulan
Dari buku In Defense of Smokers saya belajar bahwa kita tidak bisa menilai suatu hal hanya dari satu sudut pandang. Kita patut mempertanyakan apakah pesan yang kita terima sebuah kebenaran atau bukan. Penulis mencoba mengkaji lebih lanjut dan menemukan banyak kejanggalan dari pesan yang selama ini kita dengan mengenai bahaya merokok dan apapun yang berkaitan dengan rokok. Ia menyebutkan bahwa penelitian-penelitian pada kasus kanker paru-paru dan hubungannya dengan merokok bersandar pada satu ilmu epidemiologi. Tetapi semua penelitian tersebut, hanya berdasarkan pada data statistik, terpaku pada faktor pengikut dan interpretasi yang berbeda dengan jumlah yang banyak.
Buku ini menawarkan perspektif lain yang menarik dan mungkin jarang orang-orang ketahui. Kita bisa gunakan penelitian yang dibuat oleh Lauren A. Colby untuk mempertanyakan apakah informasi selama ini yang kita dapat merupakan sebuah kebenaran atau bahkan kebohongan. Seperti propaganda yang dibangun oleh pihak antirokok, Ketika orang-orang membaca buku ini akan menemukan sebuah kenyataan pahit bahwa pola yang sama telah mereka gunakan selama bertahun-tahun. Penulis menemukan banyak kejanggalan praktek brutal propaganda antirokok dengan menyajikan banyak bukti yang teruji dengan banyak sumber. Propaganda antirokok merupakan upaya penghancuran terhadap industri hasil tembakau untuk melancarkan agenda-agenda mereka dibelakangnya. Seperti bisnis obat dan urusan politik.
Kesimpulan penulis
Penulis tidak berharap banyak mengenai tulisan yang ia hasilkan dibaca oleh pihak-pihak antirokok. Ia sangat percaya bahwa mereka tidak memiliki kepentingan apa-apa dalam buku ini. Penulis hanya berharap kepada para perokok untuk membacanya supaya memiliki senjata berupa fakta-fakta untuk membantah propaganda yang dilakukan oleh pihak-pihak antirokok. Yang mana selalu menghakimi dan menstigmatisasi seseorang yang memilih untuk merokok. Fakta dalam klaim yang dihadirkan oleh pihak antirokok merupakan sebuah pembenaran yang mereka legitimasi untuk larangan merokok dan hal-hal yang masih berkaitan mengenai kebebasan pribadi seseorang.
Lauren A. Colby mencoba menghadirkan fakta yang selama ini jarang diketahui oleh orang-orang dan mencoba membongkar apa alasan dibalik propaganda yang sudah terjadi selama ini. Bahwa patut kita pahami kembali mengenai kebebasan pribadi dan hak seseorang. Sama seperti merokok, merupakan sebuah hak dan pilihan setiap orang. Dan merokok merupakan aktivitas legal yang dilindungi oleh undang-undang. Yang mengerti mengenai kesehatan seseorang adalah diri orang tersebut, yang tahu akan batas diri seseorang adalah orang itu sendiri. Kita tidak memiliki wewenang dalam mengubah kehendak seseorang atas pilihan hidupnya sendiri.
Penulis: Gandi Naufal Faroz
BACA JUGA: Denyut Nadi Ekonomi Kerakyatan dalam buku Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota



