Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya, Melihat Sejarah dari Sebatang Rokok

Dalam Artikel Ini

Resensi Buku Kretek Jawa

Dalam Artikel Ini

Rokok: Dunia Ajaib yang Tidak Musnah

Bab ini ditulis oleh Pengajar Program Magister Ilmu religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, yakni Romo Budi G. Subanar. Beliau memperluas pembacaan melalui tulisan “Rokok: Dunia Ajaib yang Tidak Musnah.”

Judulnya saja sudah membuat kita bertanya tanya kan? Kok isa, ya?

Kok bisa, rokok bertahan melewati perubahan dan tekanan zaman? Gak bisa musnah.

Jawabannya tentu tidak sederhana. Rokok bertahan karena industri, perdagangan, kebiasaan, budaya, dan konsumen membentuk jaringan yang saling berkaitan.

Namun buku ini juga memperlihatkan sesuatu yang sering hilang dalam perdebatan tentang rokok: manusia manusia yang berada di belakang industri. Ada petani yang menanam tembakau, petani cengkeh. Buruh yang mengolah bahan. Pelinting yang bekerja dengan tangan. Ada pula pedagang, pengusaha, dan para penikmat rokok Kretek yang menjadi konsumen.

Ketika seseorang berbicara tentang industri Kretek, seluruh mata rantai itu sebenarnya sedang dibicarakan. Seperti anatomi tubuh, seujung kuku jempol kaki terluka seluruh tubuh akan merasakan sakitnya.

Kudus: Kota Santri yang Melahirkan Industri Kretek

Salah satu bagian paling menarik dalam buku ini adalah pembahasan mengenai kota Kudus, yang kelak mendapat julukan sebagai Kota Kretek.

Nama Kudus berasal dari kata bahasa Arab Al-Quds, yang merujuk pada kota suci Yerusalem. Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq menempatkan jejak Islam yang kuat di kota tersebut. Salah satu peninggalannya adalah Masjid Al-Aqsa atau Masjid Menara Kudus yang menjadi jejak paling penting dari perjalanan dakwahnya.

Sunan Kudus sendiri termasuk Wali Sanga dan mempunyai hubungan keilmuan dengan Sunan Kalijaga. Beliaulah yang mengembangkan dakwah dengan pendekatan njawani dan yang memberi ruang kepada kebudayaan masyarakat setempat.

Ironisnya, kota santri ini kemudian menjadi salah satu pusat industri Kretek terbesar di Indonesia. Dan dari Kudus pula berkembang keterampilan juru linting Sigaret Kretek Tangan. Tangan yang kemudian menjadi mesin pertama industri Kretek di Kudus.

Para pelinting bekerja cepat. Mereka mengukur tembakau, memasukkan cengkeh, menggulung, merapikan, dan menghasilkan lintingan dalam jumlah besar. Kecepatan tangan mereka menentukan produktivitas.

Keterampilan itu tidak lahir dalam satu malam. Pekerja mendapatkannya melalui pengalaman dan kebiasaan.

Di sinilah Kretek menunjukkan wajah manusianya.

Nitisemito dan Revolusi Sebuah Merek

Kalau Haji Djamhari menjadi nama yang melekat pada kisah penemuan Kretek, maka Nitisemito menjadi nama yang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan industri Kretek.

Karena hal itulah, Nitisemito dikenal sebagai Raja Kretek.

Pada bab ini, halaman 138-139, ada kisah sang raja Kretek dengan produk andalannya; Kretek Tjap Bal Tiga yang menjadi penanda awal bagi pabrikasi rokok di Indonesia. Melalui produk Kretek Tjap Bal Tiga, Nitisemito mulai mengubah skala bisnis Kretek. Ia memahami bahwa produk membutuhkan identitas, distribusi, dan promosi. Karena itu, ia menggunakan berbagai cara yang pada masanya tergolong berani untuk mengenalkan produk Kretek Tjap Bal Tiga.

Nitisemito
Nitisemito. (Eko Susanto/Komunitas Kretek)

Sebelum Kretek Tjap Bal Tiga menjadi terkenal, Nitisemito pernah menggunakan nama-nama merek yang terdengar unik dan nyeleneh, seperti Kretek Tjap Kodok Mangan Ulo, Tjap Soempil, Tjap Djeruk, yang pada akhirnya menjadi produk andalan Kretek Tjap Bal Tiga. Merek merek unik dan nyleneh tersebut kemudian menjadi bagian dari sejarah kreativitas pemasaran kretek.

Nama nama unik dan nyleneh produk Kretek itulah yang kemudian menjadi identitas. Identitas berubah menjadi merek. Dan merek lalu menjadi kekuatan ekonomi.

Dari sini pembaca bisa melihat bahwa industri Kretek sebenarnya sudah mengenal strategi pemasaran jauh sebelum istilah branding menjadi bahasa sehari-hari sekarang ini.

Bukankah sampai saat ini produk kretek juga masih mengggunakan nama nama unik dan nyleneh, ‘kan? Coba sebutkan apa nama rokokmu?

Van der Reijden dan Kretek sebagai Industri

Buku ini tidak hanya mengandalkan kisah tokoh.

Penelitian Van der Reijden membantu memberikan gambaran tentang skala industri kretek pada masa kolonial. Data dari Van der Reijden mengenai banyaknya pabrik Kretek di Kudus memperlihatkan bahwa Kretek sudah berkembang sebagai kegiatan ekonomi besar sejak masa Hindia Belanda.

Van der Reijden adalah seorang peneliti dan pejabat pemerintah kolonial Belanda yang bekerja pada instansi perburuhan di masa Hindia Belanda. Ia dikenal luas berkat karya laporannya yang mendalam mengenai kondisi perburuhan dan perkembangan pabrik rokok di Jawa. Laporannya berjudul Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java (Laporan Survei mengenai Kondisi Kerja dalam Industri “Strootjes” dan Rokok Pribumi di Jawa) yang terbit antara tahun 1934–1935, menjadi data penting yang ada dalam buku ini.

Angka tahun diterbitkannya penelitian Van der Reijden tersebut sangat penting karena membantah anggapan bahwa industri Kretek baru tumbuh ketika perusahaan-perusahaan modern hadir. Padahal masyarakat lokal sudah membangun industrinya jauh lebih awal. Mereka mengembangkan produksi sejak sistem “Abon” rumahan hingga pabrikasi dan perusahaan rokok. Sejak dulu pengusaha lokal juga sudah memberdayakan tenaga kerja masyarakat sekitar, pemasaran, dan merek melalui pengalaman mereka sendiri.

Mengenal Sistem Abon

Sistem Abon ialah pekerja rumahan yang mengerjakan bahan bahan Kretek dari rumah rumah masyarakat karena pekerja belum tersentralisasi. Sistem Abon berlangsung antara tahun 1920-an.

Untuk mengetahui tentang sistem “Abon” silakan baca halaman 135, dengan bab berjudul; Dari “Abon” Rumahan hingga Pabrik. Dalam bab ini Anda bisa mengetahui sejak kapan perusahaan rokok mulai membangun pabrik. Dari sistem Abon berganti dengan pekerja yang bekerja tersentralisasi di dalam pabrik rokok. Kehadiran produk Kretek Tjap Bal Tiga menjadi penanda awal dibangunnya pabrik rokok pertama di Kudus. Karena sejak itu, sentra sentra industri rokok mulai tumbuh di Jawa Tengah dan Jawa Timur mulai ikut membangun pabrik.

Itulah salah satu alasan mengapa sejarah Kretek layak ditempatkan sebagai bagian dari sejarah ekonomi Indonesia.

Buruh, Pasar Tiban, dan Ekonomi yang Tumbuh di Sekitar Pabrik

Ketika pabrik Kretek di Kudus berkembang, ribuan buruh datang dari berbagai daerah di Jawa Tengah, termasuk Demak dan kota-kota di sekitarnya. Kehadiran mereka kemudian menciptakan kebutuhan baru. Pedagang datang. Warung tumbuh. Jasa transportasi berkembang. Dan pasar tiban pun muncul.

Kebutuhan sehari hari buruh linting kemudian menjadi sumber penghidupan bagi orang lain.

Pemandangan semacam ini sebenarnya masih mudah ditemukan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sebuah pusat kegiatan ekonomi hampir selalu melahirkan ekonomi lain di sekelilingnya.

Karena itu, ketika ngomongin industri Kretek, kita tidak cukup hanya menghitung jumlah pabrik dan nilai produksinya. Kita juga perlu melihat orang-orang yang menggantungkan kehidupan pada keberadaan industri tersebut.

Halaman Selanjutnya: Temanggung dan Tembakau Srintil