Srinthil: Pusaka Saujana Lereng Sumbing, Tembakau yang Tak Ada di Mana pun!

Srinthil, tembakau asli Temanggung adalah tembakau yang unik. Dari buku ini, pembaca dapat mengetahui secara mendalam soal tembakau Srinthil.

Dalam Artikel Ini

srinthil tembakau unik asal temanggung

Dalam Artikel Ini

Di awal buku, penulis menceritakan bagaimana ia melihat aktivitas para petani tembakau di Kecamatan Kledung, Temanggung. Ia menceritakan bagaimana ia melihat aktivitas petani tembakau yang sedang menjemur tembakau. Ia juga baru mengetahui jika papan rajutan bambu yang dipakai untuk menjemur tembakau tersebut bernama “rigen”.

Bergeser dari situ, penulis juga menceritakan bagaimana ia menemani neneknya menjual cengkeh di pasar yang berada di daerah Kandangan, Temanggung. Selain menggunakan beberapa lembar uang untuk pembayaran, neneknya juga menawarkan untuk barter dengan tembakau yang akan digunakan untuk “nyusur” atau menginang. Ia melihat bagaimana neneknya mencampurkan bahan-bahan yang digunakan untuk menginang, lalu mencampurkannya dengan tembakau.

Kata neneknya, menginang bisa mengurangi bau mulut dan mengharumkannya. Kapur sirih untuk menguatkan gigi dan tembakau untuk membunuh kuman dalam mulut. Pengalaman tersebut menjadi salah satu gambaran awal mengenai bagaimana tembakau tidak hanya digunakan sebagai bahan untuk membuat rokok, tetapi juga memiliki fungsi lain dalam kehidupan masyarakat.

Ada beberapa pihak yang menganggap bahwa rokok dan kretek itu berbeda. Rokok sendiri merupakan gulungan tembakau yang dibungkus dengan kertas atau daun nipah. Sedangkan kretek adalah gulungan tembakau yang di dalamnya berisi cengkeh atau kemenyenan, lalu untuk pembungkusnya bisa berupa kertas, daun nipah, dan juga klobot atau daun jagung. Karena itulah, kretek berbeda dengan rokok jenis lainnya, karena ia berisi cengkeh.

Tembakau dalam Kehidupan Sosial dan Budaya

Penulis pernah menghadiri aksi demonstrasi yang digelar oleh petani tembakau di Jakarta. Saat itu, ia sedang mengambil video untuk dijadikan sebagai video dokumenter. Lalu ia juga melihat dan mendengar bahwasanya petani tembakau menganggap bahwa wacana kebijakan pemerintah untuk mengganti tembakau dengan tanaman lain itu akan membatasi ruang gerak tembakau dan belum tentu tanaman lain pengganti tembakau tersebut bisa tumbuh di tanah tersebut.

Para petani tembakau juga menganggap bahwasanya gerakan antitembakau yang disuarakan oleh pihak-pihak tertentu adalah mereka yang memiliki produk tembakau, tetapi kecewa karena tembakau mereka kalah kualitas dan kalah nikmat dengan tembakau asli Indonesia.

Maka dari itu, petani tembakau mengadakan ritual “miwiti” yang digelar untuk mewujudkan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Ritual ini digelar setiap awal musim tembakau.

Para petani tembakau juga menganggap bahwa tembakau ini bukan hanya komoditi. Tembakau juga memiliki unsur penting dalam ritual-ritual tradisional yang sering diadakan oleh masyarakat, khususnya di Jawa. Tembakau tersaji pada ritual-ritual tersebut melambangkan empat unsur alam, yakni angin, air, tanah, dan api. Hal itu juga dapat dianggap sebagai penyeimbang antara manusia dengan alam.

Selain itu, tanaman tembakau juga memiliki fungsi lain yang bisa diambil untuk kehidupan sehari-hari. Contohnya, batang tembakau yang sudah kering bisa digunakan sebagai pengganti kayu bakar dan air dari tembakau yang busuk bisa digunakan sebagai insektisida alami.

Pertemuan dengan Tembakau Srinthil

Penulis juga bercerita, ia pernah melihat tembakau Srinthil ini ditawarkan kepada salah satu anggota polisi yang saat itu membantu untuk mengamankan aksi demonstrasi para petani tembakau. Dari situlah, penulis penasaran dengan tembakau tersebut dan mencari dusun penghasil Srinthil di Temanggung. Pada akhirnya, ia menemukan Dusun Lamuk Legoksari atau sering disebut Lamuk Legok.

Dusun Lamuk Legok memiliki cerita rakyat yang berkaitan dengan Wali Songo. Ada seorang murid dari Sunan Kudus bernama Ma Kuw Kwan, dia ini dikenal juga sebagai Ki Ageng Makukuhan. Pada saat itu, Ki Ageng Makukuhan berlari dari kejaran prajurit Capiturang. Dalam pelariannya, Ki Ageng Makukuhan juga mendalami Islam dengan berguru dengan Sunan Kalijaga. Namun, Sunan Kalijaga juga mengajarkan bertani.

Suatu saat, Sunan Kalijaga mengutus Ki Ageng Makukuhan untuk menyebarkan Islam ke daerah Kedu, Temanggung melalui mengajarkan bertani. Usaha ini tidak sia-sia dan wilayah Kedu akhirnya terkenal akan hasil pertaniannya.

Sunan Kudus yang mendengar keberhasilan Ki Ageng Makukuhan, akhirnya mengutus salah satu santrinya untuk memberikan berbagai macam bibit tanaman, yang salah satunya adalah tembakau. Namun, pada saat itu, bibit tanaman tembakau tersebut belum memiliki nama.

Ki Ageng Makukuhan juga sempat didatangi oleh warga yang meminta obat untuk warga yang sakit. Setelah memberikan tumbuhan yang tak memiliki nama tersebut, akhirnya warga tersebut sembuh dan mengatakan bahwa: “Iki tambaku” atau “Inilah obatku”. Akhirnya tanaman tersebut dinamakan sebagai tambaku atau versi singkatnya adalah “mbako”.

Lalu, Ki Ageng Makukuhan mengutus santrinya untuk menyebarkan benih-benih tanaman, salah satunya bibit tembakau, di wilayah yang cekung. Wilayah itulah yang saat ini disebut sebagai Dusun Lamuk Legok.

Santri itu bernama Dewi Sri Kuning, Dewi Sri Lulut, dan Dewi Sri Ijo. Di mana, masyarakat desa pada saat itu percaya bahwa jamur kuning yang muncul di daun tembakau pada saat pemeraman adalah jelmaan Dewi Sri Kuning, sementara Dewi Sri Lulut adalah ulat lulut yang ada di daun tembakau.

Asal-Usul Nama Srinthil dan Kepercayaan Masyarakat

Karena keampuhan tembakau ini, seorang warga bernama Mbok Rondo mengutus suaminya untuk mencari daun tembakau tersebut untuk dijadikan obat. Setelah sembuh, Mbok Rondo menyimpan sisa-sisa daun tembakau tersebut yang pada akhirnya berubah menjadi lengket dan muncul puthur atau jamur berwarna kuning.

Asal usul kata Srinthil ini berawal dari “Sri-ne nginthil”, yang menunjuk pada Dewi Sri yang mengikutinya. Dewi Sri sendiri dalam masyarakat Jawa dipercaya sebagai dewi yang mengendalikan kehidupan, kekayaan, dan kemakmuran. Maka dari itu, petani tembakau yang ada di Dusun Lamuk Legok meyakini bahwa tembakau yang dimiliki oleh petani tersebut berubah menjadi tembakau Srinthil adalah pertanda keberkahan Dewi Sri akan selalu mengikuti dirinya.

Akibat dari keberkahan itulah, tembakau Srinthil ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Tembakau Srinthil pernah menyentuh harga Rp1,25 juta/kg, sedangkan tembakau biasa atau tembakau rajangan hanya pernah menyentuh harga Rp125 ribu pada harga tertingginya.

Empat Jenis Tembakau Srinthil

Ada empat jenis tembakau Srinthil yang dihasilkan oleh Dusun Lamuk Legok.

  • Srinthil Ajer

Srinthil ini memiliki warna yang hitam pekat dan beraroma buah nangka dan salak. selain itu juga saat pengeraman terasa lumer, hingga daun dan batangnya hampir tidak terlihat.

  • Srinthil Ngelar Kumbang

Srinthil ini memiliki warna hitam dan ada warna kebiruan jika terkena cahaya. Warna biru tersebut seperti warna biru yang ada di bulu kumbang. Srinthil ini juga memiliki aroma buah nangka dan salak.

  • Srinthil Nyambel Iler

Srinthil ini memiliki warna hitam pekat. Ketika dilihat dari jauh saat dijemur, di atasnya terdapat fatamorgana yang mirip dengan aspal yang terkena panas.

  • Srinthil Nawon Madu
Baca Juga:  Mereka yang Melampaui Waktu, Tak Pernah Sekalipun Menganggap bahwa Rokok Sumber Penyakit

Srinthil ini memiliki warna hitam kemerahan atau hitam kejinggaan yang mirip dengan perut lebah madu. Ada juga petani yang menamainya Srinthil Abang dan Srinthil Mbrambang. Aroma yang dihasilkan seperti aroma bunga melati.

Karena aromanya yang begitu kuat, ketika ingin mencoba merokok tembakau Srinthil, disarankan untuk dicampur dengan tembakau lainnya. Hal ini dikarenakan efek yang dihasilkan akan terasa memabukkan jika tembakau Srinthil ini tidak dicampurkan dengan tembakau lainnya.

Kehidupan Masyarakat Lamuk Legok

Dalam buku ini, diceritakan juga bagaimana penulis ingin membuat video dokumenter mengenai Dusun Lamuk Legok dan Srinthil. Di musim rajang tembakau, para tetangga biasanya saling membantu satu sama lain untuk merajang tembakau yang sudah dipanen. Hal itu juga sudah mulai luntur, karena kebanyakan warga sudah memiliki mesin untuk merajang tembakau.

Selain itu, kebiasaan warga Dusun Lamuk Legok juga menyediakan jamuan makan untuk disuguhkan kepada tamu. Apabila suguhan tersebut ditolak, maka tamu tersebut akan dianggap tidak sopan ataupun tidak menghormati tuan rumah.

Warga Lamuk Legok juga sensitif terhadap orang-orang yang anti dengan tembakau. Hal itu karena kampanye antirokok atau antitembakau sudah gencar di media massa. Aksi penolakan tembakau tersebut memaksa mereka untuk mendirikan sebuah organisasi yang dinamai “Laskar Kretek”.

Maka dari itu, banyak warga dusun yang lebih waspada terhadap orang-orang yang membawa kamera ataupun jurnalis. Aksi penolakan tembakau menjadi salah satu ancaman bagi warga Lamuk Legok. Padahal, mereka bisa mendirikan rumah mewah dan bertingkat-tingkat karena adanya tanaman tembakau.

Kemandirian Warga dalam Mengelola Sumber Air

Di Dusun Lamuk Legok, warga mengandalkan mata air sebagai sumber air mereka. Warga dusun tidak memiliki sumur, dikarenakan mereka harus menggali tanah yang sangat dalam untuk mencapai sumber air tersebut.

Karena penduduk semakin banyak dan mata air sudah mulai susah untuk ditemukan, maka warga Lamuk Legok mulai membuat penampungan air dusun. Pengadaan dan pengelolaan sumber air ini didanai oleh hasil swadaya masyarakat melalui jimpitan sewu selawe. Misal, jika hasil penjualan tembakau warga tersebut Rp1 juta, maka iuran yang dikenakan adalah Rp25 ribu.

Ini juga menjadi salah satu bukti bahwa dari tanaman tembakau, warga Lamuk Legok sudah mulai mandiri untuk menghasilkan sumber air tanpa menggunakan air dari PDAM.

Varietas Tembakau yang Berpotensi Menjadi Srinthil

Warga Lamuk Legok tidak pernah cepat mengambil kesimpulan bahwa “tembakau tersebut adalah tembakau Srinthil”, melainkan “berpotensi menjadi tembakau Srinthil”. Hal itu dirasa oleh petani tidak ingin mendahului kehendak Yang Maha Kuasa.

Maka dari itu, ada empat varietas tembakau yang berpotensi menjadi tembakau Srinthil, yaitu varietas Genjah, varietas Kemloko 1, varietas Kemloko 2, dan varietas Kemloko 3.

Varietas Genjah merupakan varietas lokal yang berasal dari Dusun Lamuk Legok, sedangkan varietas Kemloko 1, Kemloko 2, dan Kemloko 3 merupakan varietas dari Balittas (Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat) Malang.

Para petani lebih sering menanam varietas Kemloko 1 dan Kemloko 2. Tidak banyak petani tembakau yang menanam varietas Genjah dikarenakan menghasilkan Srinthil dengan jumlah yang sedikit.

Sedangkan varietas Kemloko 3 menghasilkan Srinthil dengan kualitas yang kurang bagus. Hal ini dikarenakan daunnya yang terlalu besar, masa panennya lama, rentan ditumbuhi jamur luwuk putih, dan tinggi pohonnya terlalu tinggi.

Tingkatan Kualitas Tembakau

Kualitas tembakau juga diukur dari tingkatan yang berbeda. Semakin tinggi posisi daun, maka semakin tinggi kadar nikotin yang dihasilkan oleh tembakau tersebut. Daun tembakau yang memiliki kadar nikotin yang tinggi ini juga memiliki potensi untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas yang bagus.

Menurut para petani tembakau, ada 9 tingkatan dalam menentukan kualitas tembakau dari tanaman tembakau, yakni grade A-I.

  • Daun 17-18, grade I.
  • Daun 15-16, grade H.
  • Daun 13-14, grade G.
  • Daun 11-12, grade F.
  • Daun 9-10, grade E.
  • Daun 7-8, grade D.
  • Daun 5-6, grade C.
  • Daun 3-4, grade B.
  • Daun 1-2, grade A.

Cara lainnya untuk melihat kualitas tembakau adalah melihat dari anjangan daun tembakau yang sedang dijemur. Semakin gelap warna tembakaunya, maka semakin tinggi kandungan nikotinnya. Namun, sudah jarang tembakau Srinthil dengan grade H-I.

Faktor yang Memengaruhi Kualitas Srinthil

Kualitas tembakau Srinthil juga bergantung pada beberapa faktor, antara lain: cuaca, jenis tanah, letak kemiringan tanah, dan “bun”.

Cuaca panas menjadi kondisi terbaik untuk menghasilkan tembakau Srinthil, sedangkan jika cuaca dingin atau lembab akan membuat biji tembakau busuk dan jika kondisinya hujan, maka tanaman tembakau rentan membusuk karena terendam air.

Jenis tanah juga menjadi faktor penting lainnya dalam menghasilkan jenis Srinthil di Dusun Lamuk Legok. Jenis tanah tersebut juga menjadi indikator dalam menghasilkan kualitas Srinthil.

Tanah jenis Lincat, Wadas Kuning, dan Weden akan menghasilkan tembakau Srinthil jenis Nawon Madu. Sedangkan tanah jenis Nyabuk akan menumbuhkan tembakau Srinthil jenis Nyambel Iler.

Tanah jenis Lincat

Memiliki kandungan tanah liat dan terdapat kerikil dan bebatuan yang lebih besar dari kerikil atau biasa disebut “brangkal”.

Tanah jenis Wadas Kuning

Merupakan tanah dengan lapisan tanah dan pasir yang mengeras dan cenderung berkerikil.

Tanah jenis Weden

Merupakan tanah yang bercampur dengan pasir, kerikil, dan brangkal.

Tanah jenis Nyabuk

Tanah ini cenderung berwarna hitam yang tidak memiliki batu dan kerikil di dalamnya.

Kandungan nikotin yang dihasilkan oleh tembakau Srinthil juga dipengaruhi oleh letak kemiringan tanah. Semakin banyak terkena sinar matahari, maka daun tembakau akan menjadi lebih hangat, itu yang membuat kadar nikotin yang dihasilkan semakin banyak.

Biasanya, petani tembakau yang memiliki tanah yang terhalang oleh bukit akan menanam 1 bulan lebih awal, ketimbang petani yang memiliki tanah yang menghadap langsung dengan matahari. Untuk tembakau Srinthil yang dihasilkan dari tanah yang terhalang bukit, masa pemeraman akan jauh lebih lama 1 malam. Sedangkan untuk dari segi harga, tidak akan jauh berbeda.

Lalu faktor terakhir adalah “Bun”. Bun sendiri merupakan kabut tipis yang sengaja dimasukkan ke dalam ruang pemeraman melalui lubang ventilasi agar embun mengendap pada daun tembakau yang sedang diperam.

Bun ini berfungsi untuk menetralisir suhu yang terlalu panas di ruang pemeraman. Penetralan suhu dilakukan untuk menjaga suhu yang tidak terlalu panas. Apabila suhunya terlalu panas, maka itu akan berpengaruh pada mutu rajangan tembakau yang membuat tembakau bisa menjadi busuk.

Penilaian Mutu Srinthil dengan Pancaindera

Kualitas tembakau Srinthil juga bisa dinilai dengan mengandalkan pancaindera manusia. Mutu tembakau Srinthil bisa dilihat dari warnanya, pegangannya, dan aromanya.

Baca Juga:  Konspirasi Global Penghancuran Kretek sebagai Upaya "Membunuh Indonesia"

Untuk warna, semakin hitam warnanya maka semakin tinggi mutunya. Jika daun tembakau dipegang, ketebalan sedang adalah ketebalan yang bagus. Ketebalan sedang itu seperti memegang tumpukan kawat.

Lalu untuk aromanya, semakin harum, aromanya lebih dalam, dan segar, maka semakin bagus mutu tembakau Srinthil tersebut.

Biasanya, penilaian mutu tembakau Srinthil ini dilakukan oleh “grader” di hari ketiga pada saat dijemur atau anjangan. Itu adalah waktu yang terbaik, karena di hari ketiga daun tembakau cenderung sudah memiliki wujud dan warna yang tetap, dengan kondisi yang sudah kering namun tampak basah.

Empat Belas Tahapan Pengolahan Tembakau

Ada 14 tahap, di mana tembakau itu ditanam, lalu dijual.

  • Pemilihan Waktu Tanam

Petani biasanya menggunakan perhitungan kalender musim atau pranata mangsa yang menjadi panduan mereka dalam memilih waktu tanam.

  • Pemilihan Bibit

Pemilihan benih dilakukan pada bulan Agustus–September, di mana para petani akan menyeleksi bibit-bibit tembakau.

  • Perolehan Bibit

Proses penyemaian dilakukan pada bulan Desember–Januari. Sebagian besar petani Lamuk Legok melakukan penyemaian secara mandiri.

  • Membuat Terasering

Pembuatan terasering ini dilakukan untuk menahan erosi tanah. Hal ini dikarenakan kebun yang ada di Dusun Lamuk Legok terletak di lereng gunung dan kondisi tanahnya cenderung berpasir.

  • Menanam

Penanaman tembakau yang dilakukan oleh petani Lamuk Legok dilaksanakan pada musim kemarau. Hal ini karena cuaca yang panas dan cerah menjadi masa terbaik untuk menanam tembakau.

  • Merawat

Perawatan ini dilakukan dengan penyiraman secukupnya, pemupukan, dan membasmi hama, memotong pucuk bunga tembakau, dan membersihkan tunas.

  • Panen

Pada proses panen, biasanya petani akan memetik daun tembakau pada pukul 08.00–11.00. Hal ini dikarenakan daun tembakau sudah kering tak ada air ataupun embun. Proses panen juga membutuhkan berhari-hari. Biasanya mereka akan memetik daun yang paling bawah terlebih dahulu (grade A-B), lalu berselang hari kemudian akan ke daun yang berada di tengah (grade C-F), lalu yang terakhir adalah daun yang paling tua (grade G-I).

  • Menimbang dan Menggulung

Setelah daun dipetik dan dibawa turun dari ladang, daun-daun tersebut disortir dan ditimbang. Setelah itu, daun-daun tembakau segar ini digulung atau diikat menjadi beberapa ikatan kecil dengan posisi tulang daun sejajar.

  • Menata Imbon

Ikatan-ikatan daun tembakau segar tersebut kemudian ditumpuk dan ditata secara rapi di dalam ruangan yang dibuat dari papan kayu.

  • Memeram

Daun tembakau yang ditata dalam imbon tadi akan didiamkan selama beberapa hari. Dalam proses ini, daun tembakau yang berpotensi menjadi Srinthil akan terlihat ketika daunnya berwarna kuning dan muncul bintik cokelat.

  • Rajang

Proses merajang biasa dilakukan saat dini hari. Daun tembakau akan dipotong tipis-tipis, setelah itu dimasukkan ke dalam ember untuk dibawa ke tempat penjemuran.

  • Nganjang

Proses nganjang adalah proses penjemuran daun tembakau yang sudah dirajang. Proses nganjang dilakukan selama berhari-hari.

  • Pengembunan

Pengembunan ini dilakukan dengan cara memasukkan gulungan tembakau ke dalam keranjang, lalu dibungkus dengan plastik agar menjaga kelembapan supaya kondisinya stabil saat terkena embun.

  • Pengemasan

Proses ini adalah tahapan di mana tembakau yang sudah digulung akan dikemas dengan keranjang khusus yang dibuat dari pelepah pisang kering.

Ritual dan Tradisi Sepanjang Musim Tembakau

Warga Dusun Lamuk Legok juga memiliki ritual atau tradisi yang selalu dilakukan sepanjang musim tembakau.

  • Nyecel/Lekas Macul

Ritual ini dilakukan petani untuk mengawali pencangkulan tanah pada saat akan memulai olah lahan. Ritual ini dilakukan dengan cara membakar kemenyan yang dijepit bilah di atas api. Pada saat membakar kemenyan, petani akan memanjatkan doa dan harapan.

  • Lekas Nandur/Nglekasi

Ritual ini dilakukan sebagai pertanda petani akan memulai menanam tembakau. Doa yang dipanjatkan adalah mengharap keselamatan dan kelancaran pada saat menanam tembakau.

  • Miwiti/Lekas Petik

Ritual ini dilakukan untuk mengawali pemetikan daun tembakau. Ritual dilakukan secara mandiri dengan menyajikan sesaji.

  • Tungguk

Ini merupakan ritual yang dilakukan saat pertengahan pemetikan daun tembakau. Ritual ini juga menyajikan sesaji.

  • Kepungan Jenang Candil

Ritual ini dilakukan menjelang proses rajang tembakau. Di mana ritual ini juga menyajikan sesaji, yakni jenang candil.

  • Merti Desa

Ritual ini dilakukan untuk menjunjung rasa syukur atas satu tahun musim tembakau. Warga Lamuk Legok juga berharap untuk selalu diberikan rezeki yang melimpah dan barokah untuk menghadapi musim tanam tembakau selanjutnya.

  • Nyukuri Kali

Ritual ini dilakukan setelah panen tembakau. Ritual ini dilakukan dengan mencari sumber air. Setelah itu, sumber air itu akan dibersihkan sebagai rasa syukur atas air yang telah diberikan.

  • Numbali Desa

Ritual ini sudah jarang dilakukan oleh warga Lamuk Legok. Ritual ini diharapkan warga Lamuk Legok dapat dijauhkan dari berbagai penyakit.

Sistem Penjualan Tembakau Srinthil

Kelebihan dari petani tembakau yang memiliki tembakau Srinthil, para petani tidak perlu repot-repot untuk menawarkan tembakau mereka ke para calon pembeli. Biasanya, para calon pembeli akan mengantri untuk menawarkan harga tertingginya. Apalagi, harga tembakau dari Dusun Lamuk Legok nyaris tidak pernah turun jatuh karena tempatnya yang istimewa.

Yang unik lagi adalah, tembakau Srinthil ini dijual seperti proses lelang. Di mana jika ada calon pembeli yang tidak sepakat dengan harga yang ditawarkan oleh petani atau petani tidak sepakat dengan harga yang ditawarkan oleh calon pembeli, maka calon pembeli selanjutnya akan menawarkan lagi dengan harga yang sudah dipersiapkan. Begitu terus, hingga tembakau Srinthil ini habis dibeli.

Pada akhirnya, Srinthil menjadi gambaran mengenai hubungan antara manusia, tanaman, alam, tradisi, dan ekonomi yang saling berkaitan. Keberadaannya tidak hanya dinilai dari harga jual yang tinggi, tetapi juga dari proses panjang dan pengetahuan masyarakat yang menyertainya. Keistimewaan Srinthil membuatnya memiliki posisi tersendiri bagi petani Lamuk Legok, sekaligus menjadi bagian dari identitas masyarakat yang terus dipertahankan di tengah perubahan zaman.

Penulis: Aderifqi Dian Maulana

BACA JUGA: Resensi Buku Kretek Pusaka Nusantara