Beberapa waktu lalu, teman saya cerita sambil nangis. Dia baru saja putus dengan pacarnya. Padahal, rencana indah sudah pernah mereka dibicarakan. Ya, apalagi kalau bukan pernikahan. Lalu, apa hubungannya dengan rokok?

Ada satu kebiasaan yang membuat teman saya tidak suka dengan (mantan) pacarnya; karena dia merokok. Sudah banyak nasihat-nasihat yang diberikan kepada pacarnya tentang kebiasannya merokok. Mulai dari dampak bagi kesehatan, asap yang menyebalkan, bau yang tidak enak, dan lain-lain.

Untuk alasan kedua dan ketiga, mungkin memang iya. Wajar saja karena teman saya bukan perokok, maka pantas Ia tidak menyukainya. Hanya saja untuk alasan yang pertama—alasan kesehatan, sudah banyak fakta yang menunjukkan bahwa itu adalah mitos yang sering diamini sehingga menjadi sebuah kepercayaan.

Setiap orang memang berhak memilih. Untuk merokok atau tidak, untuk memusuhi perokok atau tidak. Orang yang merokok tentu mempunyai beragam alasan. Misalnya untuk mencari inspirasi, biar keren, sedang patah hati, galau, atau karena merokok adalah sebuah kenikmatan. Nah, tipe yang tidak memusuhi perokok, adalah orang-orang yang menghargai alasan-alasan tersebut. Sebab, memang harus ada timbal balik. Tidak melulu non-perokok yang harus dihargai.

Sayangnya, hubungan timbal balik itu belum banyak yang menerapkan. Bahkan, masih banyak yang menghujat para perokok. Tema rokok pun seperti tidak pernah habis untuk diperdebatkan, baik dalam seminar-seminar atau dijadikan tema dalam perlombaan poster, kampanye, kepenulisan, dan lain-lain.

“Kalau mau merokok, tolong asapnya sekalian ditelan!” begitu kata teman saya.

Dia melanjutkan cerita. Menurutnya, rokok juga selalu berkaitan dengan masalahnya dengan (mantan) pacar. Misalnya sedang meributkan sesuatu, (mantan) pacarnya langsung dengan santainya menyulut rokok di depannya. Merokok dengan santai. Seperti kesengajaan agar semakin dibenci. Yang akhirnya memang melahirkan kesal bertumpuk-tumpuk.

Melihat fakta ini, ternyata pengaruh rokok tidak hanya sebatas pro-kontra terkait kesehatan saja. Lebih dari itu, masalah percintaan pun tidak terhindar. Meskipun jika dipikir, betapa remehnya melihat bahwa salah satu alasan batal menikah hanya gara-gara rokok. Seandainya bisa saling menghargai, saya yakin teman yang satu ini nggak perlu menangisi mantan yang masih dicintainya.

Padahal, tidak jarang merokok dilakukan untuk menenangkan diri dari masalah-masalah. Serperti pacaran yang dilakukan untuk mencari kebahagiaan. Apa jadinya jika salah satu yang membuat hidupmu bahagia justru dilarang?

Oke, tinggalkan saja pacarmu jika dia sering melarangmu merokok.