Framming Antirokok yang Menganggap Bahwa Rokok Adalah Sumber dari Segala Penyakit

Rokok dianggap sebagai penyebab dari segala penyakit. Entah mengapa, tapi memang itu agenda antirokok agar produk rokok semakin dibenci.

Dalam Artikel Ini

framing rokok penyebab segala penyakit

Dalam Artikel Ini

Entah mengapa, rokok jadi penyebab segala penyakit. Jadi kayak karakter antagonis di sinetron azab; selalu muncul di setiap masalah, terutama soal kesehatan.

Kanker akibat rokok. Serangan jantung akibat rokok. Impotensi akibat rokok. Gangguan kehamilan dan janin akibat rokok. Kata siapa begitu?

Ya, begitu nyatanya isi peringatan di bungkus rokok. Kita semua tahu dan pernah membacanya. Pertanyaannya, emang benar rokok faktor tunggal segala penyakit? Ya, belum tentu.

Rokok Memang Punya Faktor Risiko, Tapi Produk Lain Juga

Sebelumnya, harus diakui bahwa rokok punya faktor risiko, sama seperti produk lain. Gula, misalnya, juga punya faktor risiko jika dikonsumsi berlebihan. Semua tahu apa risikonya.

Tapi ya tetap dikonsumsi. Itu sebabnya konsumsi rokok diregulasi dengan batasan usia. Boleh merokok kalau sudah berusia di atas 21 tahun. Kamu harus sudah dewasa dulu, sudah mengetahui risiko dulu, baru diperkenankan merokok.

Nah, seiring berjalannya waktu, semakin banyak pemberitaan atau artikel yang mengampanyekan tentang bahaya rokok. Isinya menyebut rokok bisa menyebabkan penyakit ini dan itu. Semakin ke sini, semakin panjang daftarnya.

Mengapa Rokok Selalu Dikaitkan dengan Banyak Penyakit?

Mau bagaimana lagi, memang begitu cara kerja antirokok. Membangun citra negatif soal rokok. Soal validitas klaimnya itu belakangan. Sebab tujuannya, ya, biar kebencian pada rokok semakin besar.

Baca Juga:  Bahaya Laten Anti-antian dan Betapa Dekatnya Mereka Dengan Radikalisme

Coba kalian ketik di mesin pencarian. Tulis nama penyakit apa pun, lalu tambahkan kata “rokok” di belakangnya. Pasti ada saja artikel terkait. That’s simple!

Tadi saya sudah coba cari: “cantengan rokok” Lalu muncul artikel seputar sakit cantengan. Di dalamnya ada bagian yang menjelaskan bahwa kebiasaan merokok dapat menghambat penyembuhan cantengan.

Kandungan nikotin dalam rokok mempersempit pembuluh darah, sehingga aliran oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan untuk menyembuhkan luka dan bengkak di jari menjadi sangat berkurang. What the??????

Rokok, Cantengan, Budeg, sampai Jomblo?

Itu bukan satu-satunya. Kalian juga akan menemukan artikel yang mengaitkan rokok dengan gangguan pendengaran alias budeg. Ada juga yang mengaitkan rokok dengan rasa mules alias kebelet pup. Macam-macam.

Coba buktikan sendiri. Tulis: “jomblo rokok.” Kalian mungkin saja menemukan artikel yang menjelaskan nasib suram kalian di percintaan itu karena kalian perokok. Lagi-lagi, soal benar dan salah ya belum pasti.

Pokoknya rokok diamini sebagai penjahat penyebab segala penyakit. Begitulah target antirokok.

Framing Media dan Narasi tentang Rokok

Tentu saja bukan berarti rokok itu malaikat berfilter. Tapi ada kecenderungan sebagian pemberitaan membahasnya seperti benda mistis berkekuatan absolut.

Seolah-olah satu batang rokok punya kuasa menentukan si A sakit ini, si B sakit itu. Padahal, di era manusia modern, masalah hidup itu paket kombo.

Baca Juga:  Kampanye Antirokok Menguntungkan Industri Rokok Asing

Ada gula, ada juga polusi udara. Ada stres, ada juga makanan ultra-proses. Lalu ada juga pola tidur, dan lain sebagainya.

Ada orang yang sarapan kopi gula tiga sendok. Siangnya mi instan pakai nasi. Malamnya kopi dengan gula tiga sendok. Lalu, dilanjut begadang. Tapi ketika badan memberontak, rokok langsung jadi terdakwa tanpa proses sidang.

Perlu digarisbawahi, ini bukan artikel kesehatan. Tidak perlu berdebat soal itu. Fokusnya ada pada framing pemberitaan, perang narasi, dan bagaimana citra suatu hal bisa diciptakan oleh media.

Hal ini sudah berlangsung dan dilestarikan bertahun-tahun. Isunya terus direpetisi. Padahal mungkin yang seharusnya dikurangi adalah pikiran buruk dan fearmongering, bukan rokoknya.

Tapi mau bagaimana lagi. Memang begitu cara kerja antirokok.

Penulis: Aris Perdana

BACA JUGA: Hasil Studi: Kegelisahan hingga Kemiskinan Picu Penyakit Jantung, Rokok Jadi Kambing Hitamnya