Benarkah Perokok Setuju Cukai dan Harga Rokok Naik?

Dalam Artikel Ini

cukai rokok

Dalam Artikel Ini

Pada masa sulit seperti sekarang, di mana ekonomi lesu dan pendapatan menurun, saya dan kita tak akan ada orang yang sepakat untuk kenaikan harga untuk produk apapun, termasuk rokok. Karena itu, riset CISDI yang menyatakan jika perokok setuju harga rokok naik terdengar sangat tak masuk akal.

Dalam risetnya, CISDI menyatakan jika lebih dari 7 dari 10 perokok aktif mendukung kenaikan harga rokok dan tarif cukai. Mereka bilang jika para perokok sepakat kalau harga rokok naik. Karena itu, mereka menuntut pemerintah untuk menaikkan tarif cukai dan harga rokok setinggi mungkin.

Melihat hasil riset tersebut, saya jadi teringat riset lain yang menyatakan jika masyarakat puas pada kinerja pemerintahan busuk ini. Saya juga teringat tingkat kepuasan pemerintah pada beberapa menteri yang nyatanya bikin banyak masalah di republik ini. Biasanya, melihat hasil riset itu masyarakat kemudian berkomentar jika risetnya dimanipulasi, disetting sejak awal agar hasilnya terlihat bagus.

Riset, Representasi Publik, dan Manipulasi Persepsi

Memang riset adalah riset, tapi memanipulasi hasil riset adalah hal yang sudah biasa terjadi di rezim ini. Jika hasil risetnya adalah masyarakat puas terhadap kinerja pemerintah, mungkin yang menjadi responden dalam survei atau riset itu adalah anggota TNI yang gajinya naik rata-rata 8% tahun ini. Atau mungkin yang menjadi responden adalah pemilik dapur MBG dengan jumlah dapur di atas puluhan. Coba kalau tukang cilok yang menjadi responden, pasti isinya cuma protes karena harga tapioka naik tak masuk akal.

Baca Juga:  Ke Mana Larinya Cukai dan Pajak rokok?

Pun dengan riset yang menyatakan jika perokok setuju harga rokok naik. Di rezim suram seperti sekarang, mana ada orang yang sepakat jika harga komoditas naik. Sudahlah cabai mahal, harga tepung melambung, masa rokok yang jadi hiburan terjangkau untuk rakyat mau dinaikkan tinggi harganya.

Kalau pun risetnya benar perokok mendukung, pastinya yang jadi responden bukan bapak-bapak yang mumet kesulitan mendapatkan bensin. Atau jika memang ada yang setuju, pastinya yang jadi responden bukan orang-orang mumet menghadapi rezim ini.  Coba yang mereka riset adalah bapak-bapak tertekan rezim, kalau ketemu riset macam ini sudah diusir itu surveyor.

Lagipula, masyarakat hari ini sudah muak oleh survei yang berisi kebohongan semacam itu. Saking seringnya pemerintah menganggap masyarakat bodoh, kita menjadi terlalu mudah untuk tahu hasil riset yang by agenda setting macam begini. Cuma, kecewanya, masa ya risetnya CISDI jadi selevel lah dengan kerja-kerja rezim pencitraan ini.

Kenaikan Cukai dan Harga Rokok Membuat Perokok Turun Kasta

Tanpa naik saja, sudah begitu banyak perokok yang turun kasta. Memilih kelas rokok yang lebih terjangkau, menurunkan gengsi dan cita rasa demi bisa tetap ngebul. Mereka yang bisa mengisap marlbor atau Sampoerna Mild semakin sedikit, yang mengisap Aroma Mile atau Djarum 76 semakin banyak. Yang melinting, sudah jadi agenda harian.

Baca Juga:  Beberapa Salah Kaprah Tentang Kenaikan Cukai Rokok

Jadi, jika ada yang menanyakan kepada kami harga rokok mau naik atau tidak, pasti akan dijawab kami maunya presiden dan wakil presiden yang turun dari jabatannya.

Aditia Purnomo