Fenomena Pengepulan Daun Cengkeh Mengancam Kelestarian

Fenomena Pengepulan Daun Cengkeh Mengancam Kelestarian

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Dalam sejarahnya cengkeh adalah bagian yang tak terpisahkan dari produk kretek. Bahkan sampai saat ini, industri kretek kita sangat bergantung dari pasokan petani dalam negeri. Konten kretek semuanya berasal dari negeri sendiri sejak dahulu. Ini membuktikan bahwa kretek adalah salah satu komoditas yang dari hulu-hilirnya membantu bangsa ini tetap berdaya dalam hal ekonomi, sosial maupun budaya.

Di Munduk sendiri panen cengkeh tertunda lantaran cuaca yang kurang mendukung pada tahun-tahun sebelumnya. Namun, banyak petani yang masih mendapatkan penghasilan dari perkebunan cengkeh, salah satunya dari daun cengkeh. Umumnya daun-daun tersebut dijual ke pengepul untuk diambil minyaknya.

Harga per kilogramnya berkisar Rp 4.000 sampai 5.000 untuk yang sudah kering, harga yang bagi banyak petani cukup menjanjikan, setidaknya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ketertundaan panen pada dua musim lalu sebetulnya terlunasi oleh panen raya tahun ini. Namun penjualan daun-daun cengkeh ini masih tetap berlangsung di Munduk, juga beberapa daerah lainnya di Buleleng.

Dinilai dari kelestarian lingkungan hidup ketiadaan daun-daun cengkeh dari tanah perkebunan dapat memicu munculnya bencana erosi tanah. Untuk kita ketahui, perkebunan cengkeh di Munduk umumnya berada di lereng-lereng bukit. Daun-daun cengkeh yang rontok ke tanah secara alami membawa tugas mulia yang dikandungnya yakni menjaga ekosistem.

Pada daun cengkeh terkandung fungisida yang mampu mengentaskan hama jamur putih yang membiak di akar dan batang pohon. Seiring waktu pengepulan daun-daun cengkeh ini kemudian menjadi satu fenomena sejak kurun tahun 2011-an, tidak jarang petani memetik daun-daun yang masih muda untuk dikeringkan. Hal ini jelas membahayakan bagi kelestarian pohon cengkeh itu sendiri. Nutrisi cengkeh sebagian besar didapat dari daun-daun yang ada di pohonnya.

Jika sudah kekurangan nutrisi, sudah pasti pohon cengkeh menjadi rentan terserang hama kutu putih. Lain itu, petani juga tidak seberapa intens memberi pupuk untuk perkebunannya. Seakan tidak memahami betul bahwa nutrisi yang dibutuhkan oleh cengkeh juga memberi arti lebih bagi kualitas cengkeh yang kelak dipanen. Umumnya pemberian pupuk hanya dilakukan sekali dalam setahun oleh petani.

Bli Komang Armada salah satu petani di Munduk yang menyesali fenomena itu, dia sangat melarang betul para tenaga penggarap yang di bawah asuhannya melakukan pengepulan daun-daun cengkeh. Perhatiannya terhadap pohon-pohon cengkeh jauh lebih intens dibanding para petani kebanyakan yang hanya memberi pupuk sekali dalam setahun. Diharapkan olehnya ini dapat menjadi teladan, karena sulit baginya mempengaruhi petani dengan bahasa larangan, lantaran apa yang mereka lakukan bukan sesuatu yang ilegal.

Dia hanya bisa memberi teladan tentang tata laku perawatan kepada kebun miliknya. Meski sudah ada pembatasan yang dikeluarkan oleh Bupati Buleleng, yakni terkait izin produksi penyulingan daun cengkeh pada tahun 2015 yang lalu, hal itu tak bisa sepenuhnya mencegah aktivitas pengepulan tersebut. Tetapi setidaknya dapat mengurangi semakin berkembangnya industri penyulingan.

Konon secara hitung-hitungan memanen daun-daun tersebut lebih menjanjikan lantaran saban 15 sampai 25 hari saja sudah bisa memanennya kembali. Berbeda dengan memanen cengkeh yang hanya bisa dilakukan setahun sekali. Pada tahun sebelum dikeluarkannya pembatasan izin penyulingan, pernah terjadi pencemaran yang cukup hebat yang mengancam ekosistem sungai. Limbah penyulingan yang dibuang ke sungai membuat air sungai menjadi keruh.

Di Munduk harga per kilogram cengkeh saat ini sudah tembus sampai Rp 90.000. Tidak seperti komoditas lainnya, cengkeh dapat disimpan bertahun-tahun, para petani cengkeh kerap menjadikan rempah-rempah khas Nusantara ini sebagai investasi. Bisa kapanpun saja dijual seturut keperluannya.

Jauh sebelum memasuki tahun 2000-an, menurut Bli Komang, jumlah bunga pada tiap pucuk itu bisa sampai 50-an banyaknya. Tetapi seiring waktu, bahkan sekarang jauh semakin berkurang jumlahnya. Hal yang dinyatakannya ini semua akibat dari perilaku manusia yang kurang peduli terhadap anugerah alam yang dititipkan, baik berupa pohon cengkeh maupun ekosistem yang melingkupinya. Alam ini punya bahasanya sendiri, punya logika yang kadang enggan dipahami oleh kita. Manusia sebetulnya tinggal membangun harmoni saja menjalin isyarat dari kehendak alam, agar tercipta kesinambungan yang saling menyempurnakan.

Baca Juga:  Benarkah Filter Rokok Mengandung Darah Babi?
Komunitas Kretek

Komunitas Asyik yang Merayakan Kretek Sebagai Budaya Nusantara