×

Sepotong Hikayat Djarum Coklat, Aroma Pekat yang Menenun Ribuan Barisan Code

Djarum Coklat bagi saya adalah bentuk perlawanan dari teknologi yang serba cepat, sekaligus teman bagi saya mengeja ribuan code di layar.

Dalam Artikel Ini

djarum coklat bukan sekadar rokok SKT, melainkan sebatang kretek yang menemani saya mengeja ribuan code

Dalam Artikel Ini

Ada sesuatu yang magis pada kepulan asap kretek tangan di tengah sunyinya malam, tepat saat kursor di layar monitor berkedip-kedip menagih baris kode berikutnya. Sudah hampir satu dekade, rutinitas ini tidak pernah berubah. Di meja kerja saya, di antara tumpukan buku dan kabel-kabel yang melingkar, selalu ada sebungkus Djarum Coklat. Kadang, jika ingin sedikit variasi yang lebih bertenaga, saya menyisipkan Djarum Super atau Djarum Coklat Ekstra. Namun, pada akhirnya, saya selalu pulang pada si bungkus kuning langsat itu.

Bagi sebagian orang,  merokok mungkin hanyalah sebuah adiksi atau sekadar cara menghabiskan waktu. Namun bagi saya, setiap batang Djarum Coklat adalah mitra dialog. Ia adalah saksi bisu dari ratusan aplikasi yang terbangun, ribuan bug yang terpecahkan, dan arsitektur web yang disusun dengan kepala berdenyut. 

Mengisap Djarum Coklat adalah ritme, satu tarikan napas, satu baris syntax. Seolah-olah, aroma cengkeh yang terbakar itu membantu mengurai benang kusut di kepala, mengubah kekacauan logika menjadi deretan fungsi yang berjalan harmonis.

Eksotisme di Tanah Pandeglang Banten

Kenangan saya tentang Djarum Coklat juga membawa saya pada sebuah perjalanan geografis dan kultural yang menarik. Beberapa tahun lalu, saat saya mulai sering menghabiskan waktu di Pandeglang, Banten, tepatnya di lingkungan pesantren milik mertua, pilihan rokok saya ini sempat menjadi perbincangan yang unik.

Di Banten, khususnya di lingkungan santri yang kental dengan tradisi, rokok adalah elemen penting dalam pergaulan. Namun, saat itu, Djarum Coklat dianggap sebagai “barang asing”. Mereka melihat saya merokok kretek tangan (SKT) dengan aroma khas Kudus itu seperti melihat seorang pelancong yang membawa peta dari negeri jauh. Ada tatapan heran, ada gumaman kecil, seolah-olah merek ini tidak “nyambung” dengan lidah lokal yang mungkin lebih akrab dengan merek lain atau lintingan sendiri.

“Kok merokoknya ini, Mas?” tanya salah satu pengurus pondok kala itu.

Saya hanya tersenyum. Bagi saya, ini bukan sekadar soal rasa, tapi soal kenyamanan yang sudah mendarah daging. Namun, sejarah punya caranya sendiri untuk bekerja. Perlahan tapi pasti, aroma Djarum Coklat mulai menyusup ke sudut-sudut pesantren. Dari mulut ke mulut, dari satu obrolan di emperan ke obrolan di teras rumah kayu, rokok ini mulai berpindah tangan.

Baca Juga:  Review Rokok LA Bold, Produk Paling Underrated dari Djarum

Kini, pemandangan di pondok sudah jauh berbeda. Hampir semua orang di sana, dari santri senior hingga para pengajar, tampak akrab dengan bungkus Djarum Coklat. Fenomena ini bagi saya bukan sekadar pergeseran selera pasar, melainkan sebuah diplomasi budaya yang terjadi tanpa paksaan. Sebatang rokok telah meruntuhkan dinding keheranan dan menjadi jembatan persaudaraan yang baru.

Sigaret Kretek Tangan Sebuah Penghormatan untuk Tanah dan Tangan

Mengapa saya begitu setia pada Sigaret Kretek Tangan (SKT)? Jawabannya melampaui urusan nikotin. Merokok SKT, bagi saya, adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada mereka yang berada di hulu industri ini.

Di setiap lintingan yang saya hisap, ada peluh petani tembakau di Temanggung, Madura, NTB, dan wilayah lain, yang menanam dengan penuh doa. Ada harapan petani cengkeh yang memanjat pohon-pohon tinggi demi aroma yang kita nikmati. Mereka adalah pahlawan sunyi yang sering terlupakan dalam hiruk-pikuk regulasi kesehatan global yang kadang buta terhadap kearifan lokal.

Lebih dari itu, ada jari-jemari lentik para buruh linting di pabrik-pabrik Kudus. Saya sering membayangkan betapa telatennya mereka. Ribuan batang dihasilkan setiap hari, namun setiap batang adalah karya tangan manusia, bukan sekadar cetakan mesin yang dingin dan mekanis. Ada sentuhan personal di sana. Ada ketelitian yang menuntut kesabaran tingkat tinggi. 

Membeli dan menghisap SKT adalah cara saya, meski teramat kecil, untuk memastikan bahwa dapur mereka tetap mengepul, bahwa sekolah anak-anak mereka tetap berjalan, dan bahwa tradisi kerajinan tangan ini tidak punah digilas zaman.

Menjaga Warisan, Mengasapi Modernitas

Djarum Coklat, dengan segala kesederhanaan bungkusnya, adalah simbol perlawanan terhadap penyeragaman global. Di dunia teknologi tempat saya bekerja, dunia yang serba cepat, digital, dan seringkali impersonal, merokok kretek tangan adalah cara saya tetap membumi (grounding). Saat saya membangun web yang bisa diakses jutaan orang di seluruh dunia, sebatang kretek mengingatkan saya pada akar, pada tanah, pada cengkeh, dan pada sejarah panjang nusantara.

Baca Juga:  "Merokok Mempercepat Kematian," Ucap Orang yang Tak Mampu Berpikir Jauh dan Adil

Kretek bukan sekadar komoditas, begitu kiranya. Ia adalah warisan budaya. Ia adalah bagian dari sejarah peradaban kita yang mampu memadukan unsur flora lokal menjadi sebuah identitas bangsa. Ketika saya menyulut api ke ujung batang Djarum Coklat, saya merasa sedang merayakan keberlanjutan tradisi itu.

Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah kesetiaan. Dalam sepuluh tahun itu, teknologi web telah berubah berkali-kali. Bahasa pemrograman datang dan pergi. Tren desain berganti rupa. Namun, rasa hangat di tenggorokan dan aroma yang menenangkan dari Djarum Coklat tetap konsisten. Ia adalah “titik tetap” di tengah dunia yang terus berubah.

Mungkin bagi sebagian orang, apa yang saya tulis ini terdengar berlebihan untuk sekadar urusan rokok. Namun, bagi saya, hidup adalah tentang makna yang kita sematkan pada benda-benda di sekitar kita. Djarum Coklat telah menjadi lebih dari sekadar rokok. Ia adalah kawan berpikir, alat diplomasi di pesantren, dan wujud keberpihakan pada ekonomi rakyat kecil.

Di bawah lampu meja yang temaram, malam ini saya kembali membuka sebungkus Djarum Coklat. Menghirup aromanya dalam-dalam sebelum menyulutnya. Di luar, angin malam Sleman berhembus pelan. Di layar monitor, baris-baris kode mulai tersusun rapi. Dan dalam setiap kepulan asapnya, saya menemukan ketenangan untuk terus berkarya, sembari menjaga sepotong warisan budaya tetap hidup di antara sela-sela jari saya.

Sleman, 20 Januari 2026

 

Penulis: Ibil S Widodo

BACA JUGA: Djarum 76 Apel Masih Jadi Rokok Paling Best Seller

 

Ibil S Widodo