Vape

Ketika Vape Dianggap Berbahaya Bagi Kesehatan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sejak produk tembakau alternatif bernama rokok elektrik atau vape marak beredar di Indonesia, ikut berkembang juga isu-isu yang membenarkan keberadaannya. Katanya, rokok elektrik lebih sehat dari rokok konvensional. Katanya, rokok itu berbahaya sementara itu tidak. Kalau mau konsumsi tembakau, mending gunakan vape saja. Jangan rokok. Begitu kira-kira isu-isu yang diedarkan.

Saya sebagai perokok sih awalnya santai-santai saja. Toh saya percaya bahwa setiap barang konsumsi itu memiliki faktor risiko terhadap penyakit. Jangankan rokok atau vape, nasi saja memiliki potensi tersebut. Meski kemudian, menjadi jengah juga ketika terus-menerus mendengar ocehan semacam ini dari para vapers garis keras.

Yang menjadi semakin menyebalkan adalah, para vapers ini menganggap bahwa pengguna konsumen rokok adalah orang-orang sesat yang harus segera disadarkan. Bagaimana cara menyadarkannya, tentu saja dengan membimbing mereka untuk mengonsumsi vape. Walau kemudian, kita akhirnya paham jika hal macam begini hanya politik dagang belaka.

Vape, rokok elektrik, atau produk alternatif tembakau lainnya, pada akhirnya mengandung nikotin. Ingatkah kalian tentang segala bentuk kampanye antitembakau yang menyatakan bahwa nikotin itu berbahaya. Artinya, seandainya rokok dianggap berbahaya, ya secara otomatis vape yang mengandung nikotin pun menjadi berbahaya. Itu kalau kita mau menganggapnya jadi berbahaya ya.

Baca Juga:  Kepada Ibu Menteri Kesehatan, Rokok Tidaklah Dilarang Ketika Pergi Haji

Di sini letak ketidakadilan dalam berpandangan terjadi. Hanya karena produk yang dikonsumsinya ini tidak dibakar terlebih dulu maka rokok elektrik dianggap menjadi lebih sehat. Padahal, berdasar ragam penelitian yang ada, kelompok antirokok akhirnya juga memberikan stempel berbahaya kepada vape dan rokok elektrik. Tapi ya karena kepentingan dagang tadi, yang terjadi di Indonesia justru dorongan agar regulasi terhadapnya menjadi lebih lunak ketimbang rokok.

Hal semacam ini cukup sering terdengar dalam setahun terakhir. Bahkan oleh beberapa pihak, rokok elektrik dianggap menjadi solusi untuk menurunkan prevalensi perokok di Indonesia. Dengan adanya aturan yang lebih lunak pada vape, diyakini orang-orang tidak lagi akan merokok. Iya sih tidak merokok konvensional, tapi ya mengisap rokok elektrik yang artinya sih tetap saja orang-orang masih merokok.

Meski kemudian, seperti yang sudah saya sampaikan di atas, kelompok yang mengaku antirokok pada akhirnya tetap tidak bisa mengelak dari posisi vape yang tetap dianggap berbahaya dalam sudut pandang kesehatan mereka. Setidaknya hal ini telah disampaikan Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Prof Hamka, Ony Linda. Dalam argumennya pada sebuah berita, Ia menolak tegas segala bentuk promosi rokok elektronik melalui kampanye pengurangan bahaya merokok.

Baca Juga:  Prevalensi Perokok Anak dan Larangan Display Rokok

Menurutnya, rokok elektrik tetap memiliki kandungan berbahaya seperti folmaldehid. Jadi tidak bisa dianggap bahwa rokok elektrik seperti vape bakal lebih sehat dari rokok konvensional. Dengan begitu, saya kira, regulasi terhadap vape sebenarnya tidak perlu dibedakan (begitu jauh) dengan aturan rokok yang ada. Apalagi jika untuk rokok regulasi dibuat diskriminatif, sementara vape malah mengakomodasi stakelholder terkait.

Sebenarnya, jika melihat hal ini, saya lebih ingin melihat para konsumen vape dan kretekus bersatu padu bersama berjuang melawan isu negatif yang ditimpakan pada tembakau. Tidak perlu lah kretekus dan vapers malah ribut sendiri. Toh kita sama-sama konsumen, sama-sama berkepentingan terhadap produk yang kita konsumsi.

Karena dengan ribut sendiri, yang diuntungkan dari pertikaian itu ya kelompok antirokok atau kelompok dagang berkepentingan. Dengan bersatu, kita bisa sama-sama membuktikan bahwa produk hasil olahan tembakau tidak bisa menjadi faktor tunggal penyakit atau kematian. Perlawanan terhadap diskriminasi konsumen dapat terbangun dengan baik, dan kita bisa mendapatkan hak untuh sebagai konsumen. Hanya dengan begitulah kedaulatan konsumen bakal terwujud sepenuhnya.

Baca Juga:  Manunggaling Kretekus dan Petani Tembakau
Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit