DIBALIK KAMPANYE ANTI ROKOK

Bagaimana Sebaiknya Kampanye Kesehatan Tentang Rokok Dilakukan?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pada suatu waktu, saya pernah ditanyai seseorang terkait kampanye kesehatan tentang rokok. Ketika itu, pertanyaannya adalah: kenapa banyak sekali kampanye buruk tentang rokok yang dilakukan oleh pihak kesehatan? Dan kenapa hanya rokok yang dikampanyekan?

Memang sejak masuk tahun 2000an, kampanye negatif tentang rokok semakin digalakkan oleh kelompok kesehatan. Hal ini berjalan seiring banyaknya lembaga swadaya masyarakat yang terlibat dalam kampanye kesehatan tersebut. Artinya, semakin banyak pemain dalam kampanye ini semakin banyak pula materi kampanye yang dipublikasikan.

Pada momen itu pula, semakin banyak pemberi dana yang terlibat dalam kampanye kesehatan ini. Di Indonesia, setidaknya ada dana dari Bloomberg Initiative serta Bill and Melinda Gates Foundation untuk kelompok tadi. Dengan kehadiran dana segar, maka kampanye yang dilakukan pun jadi semakin masif, dan inilah kiranya alasan kenapa ada begitu banyak kampanye negatif kepada rokok, tapi tidak banyak yang menyasar produk konsumsi lain.

Saya tidak mengatakan bahwa tidak ada kampanye kesehatan yang menyasar produk konsumsi lain di luar rokok. Tapi kemudian, jumlahnya memang tidak bakal banyak. Karena kampanye semacam ini hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan Indonesia. Bukan oleh kelompok-kelompok tadi.

Baca Juga:  Jurus Nabok Nyilih Tangan: Siasat Adu Domba pada Isu Pelarangan Iklan Rokok

Kemudian soal volume kampanye yang lebih banyak dilakukan, seorang dokter pernah mengakui jika hal tersebut terjadi lantaran dana kampanye tentang rokok jauh lebih melimpah ketimbang yang lain. Selain dari anggaran kesehatan, dana kampanye ini juga didapat dari sekian persen dana cukai yang masuk ke pemerintah. Jadi, bukannya tenaga kesehatan tidak melakukan kampanye kesehatan selain pada rokok, tapi volume dan dana untuk rokok saja yang kelewat banyak.

Di titik itu, saya kira, menjamurnya kampanye antirokok menjadi wajar. Toh memang dana mereka melimpah. Yang perlu kita sayangkan hanya soal materi dan tidak efektifnya kampanye tersebut.

Hampir seluruh kampanye antirokok dibarengi dengan upaya menakut-nakuti masyarakat agar tidak merokok. Pada konteks ini, ya tidak ada masalah. Toh anggap saja ini tindakan preventif agar orang lain tidak merokok. Bukan masalah yang perlu dibesar-besarkan.

Persoalannya kemudian, hal serupa juga dilakukan pada perokok. Materi kampanye yang menyudutkan perokok jelas tidak bakal diterima. Mending kalau hanya disuruh berhenti merokok, lah ini juga disudutkan sebagai biang kerok di Indonesia. Ya jelas perokok tidak bakal terima dan bodo amat sama kampanye tersebut.

Baca Juga:  Kretek adalah Salah Satu Bukti Kemandirian Bangsa

Sebaiknya memang ketika mau melakukan kampanye, mereka membuat materi yang memang dibutuhkan oleh masyarakat. Buatlah konten edukasi agar para perokok tidak mengganggu hak masyarakat lain. Suruh mereka merokok di ruang yang telah disediakan. Jika materinya seperti ini, saya kira para perokok bakal lebih respect terhadap urusan ini.

Saya yakin, mereka tidak bakal mengeluhkan jika ada kampanye yang mengatakan kalau rokok punya faktor risiko terhadap penyakit. Toh merokok itu pilihan personal, mereka yang melakukan pasti sudah menghitung perkara tersebut. Karenanya lebih baik, dana yang banyak itu digunakan juga untuk mengedukasi perokok. Jika hal ini bisa terwujud, saya kira ke depannya jumlah perokok berengsek bakal semakin berkurang dan hak masyrakat agar tidak terpapar asap rokok bakal lebih terjamin.

Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit