Search
tembakau gayo

Masihkah Tembakau Gayo Diminati?

Tembakau Gayo sempat menjadi buah bibir masyarakat Indonesia pada 2020. Tepatnya pada 13 Juli 2020, ketika seorang warga negara Indonesia bernama Azwar diangkut polisi karena dituduh melinting ganja. Padahal, saat itu, hasil tingwe yang dibuat Azwar menggunakan bahan tembakau Gayo. 

Siang itu, 13 Juli 2020, Azwar tengah berada di warung milik adiknya yang bernama Baros. Di sana, Azwar melinting tembakau Gayo menggunakan daun kawung sebagai kertasnya. Setelah itu, dia menyimpan hasil lintingan ke dalam jok motor. Singkat cerita, polisi datang untuk menangkap Baros untuk perkara pengedaran tramadol. 

Azwar yang hanya kebetulan berada di lokasi, ikut digeledah. Tentu saja termasuk jok motornya di mana dia menyimpan lintingan tembakau Gayo. Polisi ngotot bahwa itu adalah tembakau sintetis atau tembakau gorila. Tembakau ini pernah terkenal pada 2017 ketika efeknya disebut lebih berbahaya dari ganja.

Ketika tembakau Gayo dianggap narkoba

Pada akhirnya, keluarga Azwar dan Baros harus membayar Rp8 juta rupiah kalau ingin bebas. Sebelumnya, polisi meminta Rp15 juta, tapi ternyata bisa nego juga. Nilai uang tersebut bukan karangan saya, ya. Kamu bisa menemukan beritanya dengan mengetik kata kunci “tembakau gayo”, “ganja”, dan “tembakau gorila”.

Warnanya memang hijau. Aroma ketika dibakar juga menimbulkan sensasi bau seperti ganja. Maka, tembakau gayo tidak bisa menghindar dari takdirnya “dituduh” sebagai salah satu jenis narkoba. Padahal, nyatanya, bahkan setelah melakukan penelitian, diketahui bahwa tembakau dari Aceh ini bukan narkoba.

Beberapa waktu yang lalu, pengusaha melakukan uji laboratorium untuk membuktikan bahwa tembakau ini bukan narkoba. Dan, benar saja, setelah uji lab, tembakau Gayo aman untuk dikonsumsi. Warna daun yang hijau, yang membuatnya dicurigai, berasal dari daun yang dipanen saat muda. Aromanya memang jadi sangat khas.

Fakta ini membuat popularitas tembakau Gayo semakin menanjak. Apalagi ada pola pikir di mana aroma yang dihasilkan tembakau ini mirip seperti ketika mengisap ganja. Maka, otomatis, semakin banyak orang yang penasaran lantas mencobanya. Namun, sekali lagi, tembakau Gayo tidak menimbulkan efek halusinasi seperti narkoba, ya.

Popularitas tembakau Gayo sempat menanjak

Akhir 2019, ketika pulang dari Jakarta, adik saya, Joditya Jonet (26) membawa sebuah kotak kecil berwarna perak. Sekilas melihat kotak itu, saya mengira dia membawa pulang pomade sebagai buah tangan. Namun, ketika saya perhatikan lekat-lekat, kotak fancy itu adalah tempat tembakau berwarna hijau. Dia pulang membawa tembakau Gayo yang sempat sangat populer di kalangan anak muda Jakarta.

Baca Juga:  Mengulik Sejarah Larangan Kasbon di Etalase Rokok

Sama seperti saya, Joditya perokok yang lumayan berat. Dia sempat mencoba vape. Bahkan berbisnis liquid bersama teman-temannya. Namun, rokok konvensional selalu ada di dalam tasnya. Dia tidak punya satu rokok jagoan. Seperti saya, selera rokoknya berubah sesuai suasana hati. Dan sejak 2018, dia mulai melinting rokoknya sendiri. Kita mengenalnya sebagai aktivitas menyenangkan bernama tingwe (nglinting dewe).

Aktivitas ini menjadi sangat populer karena satu hal, yaitu kenaikan cukai rokok. Sebuah kebijakan yang membuat hati perokok pilu, tetapi malah bisa mempersatukan. Iya, kenaikan cukai rokok membuat banyak perokok sepakat bahwa tingwe adalah solusi, masa depan, perlawanan, sekaligus menjadi usaha mempertahankan warisan leluhur Indonesia, yaitu melinting sendiri hasil tembakau.

Hasilnya, mulai 2019, lalu berkembang sangat cepat ketika pandemi, toko tembakau menjamur. Salah satu efeknya adalah banyak anak muda ingin mencoba lebih banyak jenis tembakau. Salah satu varian yang seperti mendapatkan berkah adalah tembakau Gayo, baik yang berwarna hijau, putih, maupun kuning. Semuanya laku di pasaran.

Berkembang pesat

Tembakau Gayo memang mempunyai rasa dan aroma yang khas. Dan, kita pasti sepakat bahwa sebuah komoditi akan selalu digemari ketika dia mempunyai sisi pembeda dibandingkan kompetitor. Apalagi tembakau Gayo ditanam di ketinggian 1.000 mdpl dan masih organik. Semakin khas ini barang.

Perkembangan tembakau Gayo di Aceh sendiri sangat pesat. Salah satu perusahaan yang memproduksi olahan tembakau gayo adalah PR Bako Gayo. Lokasinya ada di Jalan Uyem Beriring, Kampung Asir-Asir Asia, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah.

PR Bako Gayo berdiri pada 2018. Perusahaan ini merupakan binaan Kantor Bea dan Cukai Lhokseumawe. Kini, perusahaan ini sudah memiliki puluhan karyawan sekaligus menjadi penampung produksi daun tembakau segar yang dihasilkan oleh petani tembakau di Kecamatan Lut Tawar dan Kecamatan Bintang.

Perusahaan rokok ini sudah merambah pasar Sumatera dan Pulau Jawa. Seiring perkembangannya, PR Bako Gayo juga sudah masuk ke pasar internasional, antara lain Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Baca Juga:  Mencari Alternatif Produk Olahan Tembakau

Popularitas tembakau Gayo mengalami penurunan

Setelah toko tembakau menjamur, varian jenis tembakau juga muncul. Karyawan Toko Wiwaha, Edwin (36 tahun), sempat mengungkapkan bahwa pandemi ini menjadi semacam pemicu kenaikan tren tingwe. “Sejak pandemi itu naiknya banyak. Banyak anak-anak muda tertarik mencoba banyak varian. Salah satunya ‘tembakau rasa’ yang selama beberapa bulan ini makin ramai.”

Seiring meledaknya tingwe, bermunculan pula banyak variasi rasa tembakau. Di Toko Wiwaha saja saya menghitung ada lebih dari 15 varian “tembakau rasa”. Mulai dari tembakau beraroma leci, stroberi, vanila, hingga durian. Tembakau rasa dikreasi sendiri oleh toko tembakau untuk menyaingi popularitas vape. “Biar bisa saingan sama vape,” tutur Edwin sambil tersenyum.

Namun, tidak hanya vape yang mendapatkan saingan berat. Beberapa jenis tembakau juga harus berjuang untuk bertahan sebagai top of mind para penikmat tingwe. Tentu saja tembakau Gayo salah satunya. Adalah hal yang lumrah ketika popularitasnya mengalami penurunan karena sirkulasi preferensi dan selera masyarakat.

Persamaan popularitas jenis tembakau dengan budaya tingwe

Popularitas tembakau Gayo pasti akan mengalami masa pasang dan surut. Hal ini tidak berbeda dari budaya tingwe itu sendiri. Edwin, karyawan Toko Wiwaha, mengungkapkan bahwa tingwe adalah warisan. Jadi, akan selalu ada yang meneruskan. Namun, sebagai tren, akan ada saatnya ombak pasang menjadi surut.

Untuk tembakau Gayo, saat ini sudah terbentuk ceruk tersendiri di mana peminatnya sangat setia. Masalah selera memang tidak bisa dihindari. Mereka yang sudah kadung “kena” oleh rasa dan aroma tembakau Gayo yang khas akan selalu setia. Mereka akan bertahan karena gagal menemukan nikmat yang sama di jenis tembakau lain atau rokok pabrikan.

Oleh sebab itu, meski popularitasnya tengah surut, pemuja tembakau Gayo akan selalu pasang. Seperti budaya tingwe itu sendiri. Baik tembakau Gayo maupun tingwe, keduanya warisan leluhur. Penerusnya sudah ada dan pasti berlipat ganda.