Pentingnya Rokok Bagi Wartawan yang Bercita-cita Punya Alphard

Jika anda mencari pekerjaan yang memberi keuntungan lebih bagi perokok, jadilah wartawan. Weladalah, serius lho ini. Alasannya bukan karena jurnalis kerap bertugas di luar ruangan, sehingga bebas mengisap kretek, putihan, atau malah klobot.

Memang betul, wartawan (Ibu Kota) relatif bebas merokok kapanpun tanpa harus pusing nongkrong di tangga darurat gedung, seperti kebanyakan kretekus kerah putih perkantoran Jakarta.

Kasihan lho, mereka itu baju boleh berdasi tapi giliran mengisap kretek, harus sembunyi bagai pesakitan dari satpam yang sering patroli sampai tangga darurat. Puk-puk jauh buat kaum perokok kerah putih ibu kota.

Di luar gaji (yang mengenaskan), jurnalis perokok bahkan boleh dibilang lebih beruntung dibanding sesama kaumnya di kilang minyak. Sama-sama di ‘lapangan’, tapi orang minyak jelas berniat bunuh diri karir seandainya berani klepas-klepus sewaktu jam kerja.

Tapi inti yang mau saya ceritakan, dari pengalaman yang belum seberapa meliput isu-isu ekonomi (dan isu internasional), kebiasaan merokok membantu wartawan ingusan seperti saya mencari berita atau informasi menarik.

Salah satu yang paling membekas misalnya pada gelaran APEC 2013. Saya mampir ke area merokok di Nusa Dua Convention Center Bali, ketika sesi pertemuan para CEO memasuki rehat.

Siapa sangka, di area 4X4 itu, anak presiden yang kesohor didampingi beberapa ajudannya asyik merokok. Seperti biasa, area merokok di manapun selalu mempunyai keajaiban. Setiap orang mudah merasa senasib, sehingga obrolan ringan berjalan lancar. Kapan lagi bisa basa-basi dengan anak presiden, ya to?

“Lho, ngerokok juga mas?”

“Hehehe, iya.”

“Ikut forum yang tadi atau ada acara lain mas di Bali?”

“Jadi begini…” (dan kami mulai ngobrol ngalor ngidul)

Berkat obrolan sepanjang isapan dua batang kretek itu, saya dan dua teman wartawan perokok lainnya mendapat cerita-cerita menarik dari si mas, walaupun sifatnya off the record.

Lain waktu, akibat meminjamkan korek, saya bisa akrab dengan seorang pedagang di Pasar Induk Cipinang. Dia kemudian memberi petunjuk di mana saya bisa mencari pemain nakal kerap menimbun beras impor.

Kali lain, sewaktu merokok di luar gedung perundingan Pemerintah RI-Freeport, saya tak sengaja menguping percakapan beberapa ‘orang dalam’ (kebetulan ngabur dari ruang rapat untuk rehat tembakau). Mereka keceplosan ngobrol dalam suara keras, kalau isu tarik ulur smelter mencapai kesepakatan akhir.

Informasi itu jadi petunjuk penting untuk mengkonfrontir pejabat terkait soal kebenaran tambang AS itu akhirnya mendapat keringanan ekspor. Padahal beberapa bulan sebelumnya, sampai rapat terakhir, pemerintah terus menggembar-gemborkan retorika nasionalis soal pengaturan operasional tambang asing.

Oh iya, pejabat berstatus perokok aktif sebetulnya bejibun. Ambil contoh di era SBY, yang secara terbuka mengakui dirinya perokok adalah mantan Menteri Keuangan Chatib Basri.

Sesudah rapat melelahkan membahas uang negara di DPR, Chatib beberapa kali kedapatan merokok. Dan wartawan yang menemaninya mengisap kretek bisa ngobrol lebih rileks soal tugas bendahara negara.

Atau anda mungkin belum lupa, pada saat pelantikan Jokowi Oktober 2014, Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri dan Menteri Pembangunan Desa Marwan Ja’far sempat dilabrak paspampres akibat merokok bareng wartawan di pinggiran Istana Negara. Dan paling monumental, aksi Susi Pudjiastuti mengepulkan asap di tangga lapangan belakang Istana membuat media manapun membikin feature unik sisi lain pelatinkan menteri yang biasanya khidmat (kalau bukan membosankan).

Anda berhak menuding beberapa contoh informasi yang saya dapat ketika merokok di atas sekadar nasib mujur. Tapi saya berkukuh percakapan dengan narasumber penting – apalagi bersedia diajak ngobrol saat merokok – lebih cair, luwes, dan penuh kejutan (yang positif tentunya untuk berita kita).

Buat pemegang jabatan publik (atau politik), salah satu sumber berita favorit –  merokok di depan umum punya risiko negatif. Membiarkan wartawan hadir di momen tersebut artinya gestur seseorang siap menjadi dirinya sendiri, dus lebih terbuka.

Bayangkan, sebagai pejabat mereka tidak bisa sembarangan merokok. Saya dengar ada menteri yang hanya berani merokok di ruang kerja atau basement, demi menjaga citranya.

Anang Hermansyah saja langsung merasakan pahitnya ‘dosa rokok’ usai dikecam gara-gara terpotret merokok di ruang rapat DPR (padahal, saya kasih tahu ya, gedung DPR itu sebetulnya asbak raksasa).

Justru, setelah berkarir di dunia kuli kuota internet ini (karena istilah kuli tinta dan disket sudah invalid) ada imej wartawan yang terbukti basi. Yaitu gambaran jurnalis menulis berita  – di mesin tik –  sambil merokok. Itu barangkali pola kerja wartawan zaman Harmoko masih mengumumkan kenaikan harga sembako.

Bila saya amati di banyak kementerian (ini hanya berlaku untuk jenis pewarta harian yang memakai sistem posting), wartawan seringkali terbagi dalam tiga kubu kalau menyangkut tembakau.

Mereka yang antirokok (sehingga sering nongkrong di ruang pers ber-AC), jurnalis perokok (yang nongkrong di tempat makan atau area gedung terbuka), serta kaum ‘avonturir’ (mereka ini jurnalis yang mungkin tidak merokok, tapi sengaja nongkrong di tempat kongkow para perokok karena lokasinya strategis. Tujuannya mencegat narasumber penting yang lewat atau berusaha kabur dari kejaran media).

Di dunia liputan isu-isu ekonomi Jakarta, cuma wartawan bursa efek saja yang tidak bisa dibagi ke tiga kategori tersebut. Semua nongkrong di ruang pers yang luar biasa berasap. Wartawan perokok maupun yang bukan, mampu hidup rukun dalam harmoni mengagumkan. Sungguh spesies wartawan bursa ini perlu diteliti lebih lanjut.

Ada juga sih kategori lain. Wartawan yang menghajar habis-habisan industri rokok (karena meliput isu kesehatan), serta wartawan pejuang tembakau (biasanya menggarap ekonomi sektor riil). Tapi kategorisasi ini rada absurd juga sih.

Saya mengenal teman yang merokok tak putus-putus walaupun nyaris saban hari menguber pejabat Kementerian Kesehatan. Di sisi lain, ada juga sobat wartawan benci asap rokok, walaupun tulisannya menghabisi FCTC.

Yah begitulah pengamatan yang saya catat terakhir kali enam bulan lalu.

Saat ini saya ‘dikandangkan’ (istilah bagi jurnalis yang ditarik ke kantor). Jelas rokok ikut masuk kandang. Kalau mau klepas-klepus, harus ke luar ruangan, yah walau cuma butuh 10 langkah. Saya tetap lebih beruntung dibanding sobat wartawan yang kantornya ada di lantai 12 (dan akhirnya bernasib ngenes seperti kaum perokok kantoran lainnya).

Pengalaman-pengalaman di lapangan yang saya catat di atas mungkin saja berubah. Bisa jadi tak ada lagi wartawan merokok di tangga Gedung Kemenko Perekonomian. Atau ternyata spesies wartawan bursa yang damai sentosa di ruangan penuh asap rokok sudah punah.

Apapun itu, saya meyakini fungsi sosial rokok membantu pekerjaan jurnalis, seringkali dalam cara tak terduga. Lebih-lebih karena kita tak pernah tahu siapa yang sedang dipinjami korek, lantas kita ajak berbincang. Mereka mungkin tokoh penting, barangkali cuma orang biasa. Tapi, setiap manusia pasti punya kisah menarik untuk diceritakan, bukan?

Semakin banyak kenalan baru berkat kretek dan smoking area, jelas keuntungan besar seorang wartawan. Banyak jaringan pastinya modal sosial penting buat menapaki karir lain (apalagi ketika mulai bosan menghadapi kenyataan gaji wartawan di Indonesia terus-menerus menyedihkan).

Jaringan ini cocok menjadi bekal membuka usaha konsultan media, misalnya. Kalau sakses, ujung-ujungnya bisa naik alphard, sebagaimana kisah inspiraitf mas Kokok Dirgantoro, sang idola anak muda masa kini. Ya, walaupun mas Kokok enggak merokok, tetap keren to, bisa mengikuti jejaknya berkat merokok? Pokoknya gitu deh.

Kalau sudah begini, nikmat kretek apalagi yang mau saya dustakan?

(Visited 1,287 times, 1 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Ragam

Tags: