Memahami Grade Tembakau dan Kerja Para Grader di Temanggung

Gudag tembakau, tempat grader melakukan seleksi tembakau yang diantar petani.

Rofi’I adalah orang pertama yang saya temui di Temanggung, seorang petani tembakau dari desa Tlilir. Lelaki berperawakan kurus itu tidak pernah bosan membimbing saya untuk mengenal lebih dekat persoalan tembakau di Temanggung. “Pokoknya, selama berada di sini, kalian harus belajar banyak soal tembakau,” ujarnya siang itu.

Sepanjang jalan menuju desa Tlilir, pandangan mata terfokus pada hamparan tanaman tembakau di ladang. Memasuki desanya, pandangan mata beralih pada jemuran-jemuran tembakau di sepanjang jalan.

Di rumahnya, sajian teh hangat menambah obrolan kami saat itu. Mulai dari cerita pengalamannya saat ikut demonstrasi di Jakarta sampai membicarakan perpolitikan di Temanggung. Siang itu memang tidak terlalu banyak membicarakan budidaya tembakau. Obrolan lebih banyak mengenai pengalaman unik yang Rofi’i rasakan.

Usai berbincang hangat, Rofi’I mengantarkan kami ke Rumah Sugito. Sesama petani Temanggung. Lokasinya tak jauh dari rumah Rofi’i. Di rumah Sugito lah kami menetap selama 8 hari.

Hari pertama di Temanggung, kami diajarkan langsung bagaimana cara menggulung tembakau yang baik dan benar. Kebetulan di rumah, rofi’I sedang melakukan proses penggulungan tembakau yang sudah kering. Proses ini dilakukan jika hari sudah petang. Di sela-sela mengajari saya cara menggulung, saya bertanya mengenai jenis tembakau.

“Ini masuk grade apa, Pak?”

“Kalo yang ini masuk grade D, bisa dilihat dari warnanya. Dominan warna merah tapi ada sedikit warta kuningnya” kata Rofii

Bagi orang awam macam saya, pemahaman untuk mengetahui perbedaan grade tembakau sangat perlu. Apalagi agenda ke Temanggung memiliki tujuan yangsangat jelas; belajar mengenai tembakau. Jadi segala pengetahuan mengenai tembakau harus kami pahami.

Dengan ramah, Rofi’i menjelaskan satu persatu grade tembakau. Grade A biasanya tembakau berwarna hijau, berbeda dengan grade B yang tembakaunya berwarna hijau kuning. Sedangkan grade C memiliki ciri tembakau kuning keemasan.

Semakin tinggi kelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan semakin bagus, layaknya grade D yang memiliki warna dominan merah didampingi dengan kuning. Tembakau grade E akan dominan pada warna hitam dan didampingi warna merah. Sedangkan jika tembakaunya sudah grade F maka akan berwarna hitam.

Untuk kelas yang tinggi di Temanggung, diduduki grade G dan H yang memiliki ciri-ciri warna hitam yang mengkilap. Perbedaan pada dua grade inilah terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma dari tembakau akan semakin keras. “Kalau tembakau saya sendiri sih belum pernah sampai G. Apalagi H. Paling sering sih antara grade D sampai E,” tutur Rofi’i.

Tembakau kemloko dalam penjemuran.

Sebagai petani tembakau, mengikuti proses perawatan tembakau adalah upaya yang wajib dilakukan. Ciri tembakau yang bagus saat dipanen berwarna kekuningan merata dari atas sampai bawah. Tetapi faktor pengeraman tembakau, kecukupan sinar matahari waktu penjemuran, dan ketepatan waktu pemasukan ke dalam keranjang akan sangat mempengaruhi kualitas tembakau.

Selama di Temanggung saya sempat bertemu dan melihat langsung kerja-kerja yang dilakukan para grader. Dua yang saya temui, Koh Yopi dan Koh Hendri. Di gudang milik Koh Yopi, saya tak banyak berbincang mengenai pekerjaannya. Hanya bisa mengamati dia saat bekerja. Sedangkan di tempat Koh Hendri, selain melihat dia bekerja, saya berbincang banyak dengannya.

Selaku konsumen kretek, saya tak banyak yang tahu bahwa mutu sebuah rokok ternyata sangat ditentukan oleh keahlian khusus yang tidak dimiliki semua orang. Pencium tembakau atau grader adalah salah satu unsur penting dalam dunia pertembakauan. Posisi ini menjadi penting mengingat tidak setiap orang bisa menjadi grader. Butuh penciuman yang tajam dan pengalaman mumpuni untuk dipercaya industri rokok dalam penentuan kualitas tembakau.

Grader biasanya hanya bekerja ketika musim panen tembakau tiba. Mereka akan menciumi satu persatu gulungan tembakau petani untuk ditentukan kualitas dan harganya. Semakin baik kualitas yang dimiliki daun tembakau, harganya akan semakin mahal.

Para grader inilah yang menentukan kualitas sebuah daun tembakau hasil panen petani. Di hidung para mereka, nasib petani dan industri rokok dipertaruhkan. “Kerjaan ini memang menentukan kualitas tembakau sebelum masuk ke pabrik,” kata Koh Hendri sambil mempraktikkan cara dia bekerja.

Kretek yang baik, selain perlu memiliki campuran yang tepat, juga harus menggunakan bahan terbaik. “Kalau saya terserang pilek atau hidung saya bermasalah ya tidak bekerja,” pungkasnya. Selain itu, tak ada lembaga formal untuk menjadi grader. Perlu pengalaman bertahun-tahun untuk bisa membedakan kualitas tembakau.

Para grader tidak harus mendatangi satu per satu lokasi petani tembakau. Para petani akan membawa sampel tembakaunya ke tempat gudang. Sampel ini berupa gulungan tembakau yang diikat kertas berwarna cokelat. Mereka bisa melakukannya langsung ke gudang atau melalui pengepul yang ada.

Setelah menentukan kualitas tembakau, grader akan menentukan harganya. Ketika penjual mengantarkan tembakau ke gudang, ada tukang cocok yang bersiap di depan gudang. Tukang cocok ini bertugas mencocokkan sampel tembakau dengan stok tembakau yang baru datang di gudang. Tukang cocok adalah orang kepercayaan grader. Mereka harus bekerja dengan teliti dan tidak mudah disuap.

Profesi grader memang asing bagi sebagian orang. Orang yang melakoni profesi ini bertugas menganalisis tembakau saat proses jual beli. Ia harus mengukur kelaikan tembakau-tembakau yang akan dibeli perusahaan rokok. Makanya, perlu pengalaman bertahun-tahun untuk bisa membedakan kualitas tembakau. Kita harus mengakui bahwa rokok yang kita hisap, ada jasa dari para grader atas penciumannya. Kualitas dan rasa dari kretek yang Anda hisap saat ini menjadi nikmat karena kerja keras mereka menentukan kualitas tembakau.

(Visited 139 times, 31 visits today)