simplifikasi cukai

Konsumen Rokok Menolak Simplifikasi Cukai

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Simplifikasi cukai itu merugikan, tidak hanya bagi industri, petani, atau buruh, tetapi juga pada konsumen. Asal tahu saja, persaingan sehat yang saat ini terjadi di tataran pabrikan sebenarnya menguntungkan konsumen. Semakin ketat persaingan, semakin beragam pilihan yang didapatkan konsumen.

Pada dasarnya, persaingan antar brand itu selalu menguntungkan konsumen, apa pun produknya. Dalam persaingan ponsel pintar, persaingan brand untuk memberikan produk dengan value for money yang tinggi membuat konsumen bisa memilih ponsel sesuai dengan kebutuhan dan budget mereka. Sementara untuk rokok, pun bisa memilih mana selera rasa dan harga yang pas di kantong.

Karenanya, simplifikasi atau upaya penyederhanaan tarif cukai hanya bakal membawa penyeragaman belaka di produk rokok. Mending kalau penyeragaman ini membuat persaingan menjadi ketat. Karena, pada urusan simplifikasi cukai, justru yang terjadi adalah bakal matinya pabrikan kecil menengah karena kalah modal dengan pabrikan besar.

Begini, simplifikasi cukai itu ditujukan untuk menyamaratakan tarif cukai di semua merek rokok. Jadi nantinya, tidak ada lagi rokok golongan dua atau tiga. Semua bakal berujung pada satu tarif cukai yang membuat perusahaan kecil diberikan tarif cukai yang sama besar dengan pabrikan besar.

Baca Juga:  3 Kritik Perokok Terhadap Rilis YLKI

Apakah itu adil? Tentu saja tidak. Karena memang keberadaan golongan cukai selama ini diberlakukan untuk melindungi industri kecil. Jika nantinya kebijakan ini berlaku, tentu saja yang membuatnya menjadi tidak adil adalah negara. Toh memang sejak dulu negara tidak pernah memperlakukan semua pihak dengan benar-benar adil dan bijaksana.

Kembali ke sektor konsumen, seandainya simplifikasi cukai diberlakukan, maka nantinya hanya akan ada rokok bercukai dengan tarif yang mahal. Ujung dari kebijakan ini, untuk konsumen, ada dua; pertama rokok ilegal menjadi pilihan dan merajalela, dan kedua hanya akan membuat orang kaya saja yang bisa membeli rokok.

Orang kaya, mau semahal apa pun rokok, tetap bisa membelinya. Sementara kaum yang hidup pas-pasan seperti kita tidak bisa lagi mendapatkan hal rekreatif yang terjangkau. Mau nonton di bioskop setiap hari ya mahal, makan enak ngga bisa, mau sebats ya dipaksa bayar cukai mahal. Berengsek bener dah negara ini.

Pada akhirnya, ketika hal itu terjadi, konsumen rokok bakal beralih ke produk yang lebih murah seperti tingwe atau rokok ilegal. Kalau tingwe sih ya masih oke, tapi kalau rokok ilegal ini yang agak riskan. Namun, hal-hal semacam ini agaknya tidak bisa terhindarkan jika kebijakan simplifikasi cukai benar-benar dilakukan.

Baca Juga:  Cukai Rokok Sudah Naik 10%, Lalu Perokok Dapat Apa?

Sebenarnya, konsumen tidak bakal terlalu ambil pusing dengan segala kebijakan. Kalau rokok mahal, kita bisa beralih ke yang lebih murah. Atau kalau pun diilegalkan, kita bisa beralih ke produk lain. Simpel dan tidak merepotkan.

Hanya saja, saya sebagai konsumen yang baik dan punya perhatian lebih pada negara hendak menyarankan saja sih. Itu, kalau cukai disederhanakan, yang bakal rugi ya negara. Tidak hanya akan berkurang pendapatan cukai, tetapi juga kemudian harus didemo dan memikirkan nasib penghidupan puluhan ribu orang yang hidup dari bisnis tembakau. Begitu saja sih.

Komunitas Kretek

Komunitas Asyik yang Merayakan Kretek Sebagai Budaya Nusantara