petani tembakau

Abu Tembakau Bermanfaat Bagi Petani di Masa Krisis

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Menyoal manfaat tembakau dalam kehidupan sehari-hari tentu sudah bukan hal baru lagi bagi masyarakat. Salah satunya adalah unsur abu tembakau yang dapat dijadikan pestisida nabati. Belakangan ini di tengah mahalnya harga pestisida kimia, petani memanfaatkan unsur tembakau itu untuk menyiasatinya.

Dalam kondisi riskan akibat pandemi, sebagaian besar masyarakat terus tertantang untuk kreatif. Terutama jikia itu menyangkut kebutuhan sehari-hari. Langkanya pupuk bersubsidi serta mahalnya harga pestisida, membuat petani pun harus mencari alternatif solusi.

Seperti halnya yang dilakukan petani asal Sempu, Jawa Tengah, abu tembakau menjadi solusi yang cukup efektif bagi lahan pertaniannya. Tanaman padi yang menjadi sumber penafkahannya menjadi terbebas dari ancaman hama.

Hama berupa wereng dan walang sangit merupakan serangga pengganggu bagi kesuburan padi. Termasuk pula tikus yang kerap menjadi momok di persawahan. Dinyatakan oleh petani, penggunaan abu tembakau ini terbilang ampuh dan murah meriah untuk menghalau hama-hama tersebut.

Tentu saja jika dibandingkan dengan pestisida kimia, penggunaan tembakau jauh lebih terjangkau dan ramah lingkungan. Kalau mau kita kritisi lanjut, penggunaan kimiawi ini tidaklah baik bagi kelangsungan tanah, bedampak terhadap nilai produktifnya.

Baca Juga:  Dinamika Rancangan Perda KTR Solo yang Alot Tapi Demokratis

Di luar itu, sebagaimana kita ketahui, tembakau kerap kali dinihilkan manfaatnya oleh sejumlah kalangan. Hal itu didasari dalil-dalil tentang kesehatan yang memerangkap pikiran konsumen untuk beralih konsumsi. Ini satu hal konyol yang sering kali didengung-dengungkan dalam berbagai kampanye kesehatan.

Dalam konteks ini pikiran kita pun jangan sampai terjebak pada skema politik dagang yang dibunyikan lewat berbagai media melalui sesuatu yang sublim. Tak jarang media menjadi alat untuk menyusun pengetahuan publik sehingga dapat menggeser pemahaman positif tentang tembakau, ataupula hal lainnya.

Contoh sederhananya begini, ketika tembakau diakui dapat membunuh hama persawahan, kemudian logika lempang publik mengaitkannya dengan pesan kesehatan tentang “rokok membunuhmu”. Ajaibnya kemudian, muncullah kesimpulan lugu, tembakau itu ya berarti (memang) pembunuh.

Di sinilah konyolnya ilusi pikiran yang menjebak, kita lantas saja menyetarakan kondisi fisik kita dengan tikus ataupula serangga. Makhluk tuhan yang paling unyu itu jelas jauh berbeda sistem metabolisme tubuhnya dengan kita. Artinya, manusia punya sistem imunnya sendiri, begitupun hama tersebut.

Baca Juga:  Kenaikan Tarif Cukai Mencekik Petani

Bagi saya, menyoal manfaat abu tembakau untuk pertanian ini adalah satu kabar positif yang mengingatkan manfaat lain dari tembakau. Namun, kita juga harus ingat, bahwa semestinya negara harus mampu hadir ketika petani mengalami kesulitan dalam mengakses kebutuhan bertani. Biar bagaimanapun negara harus ambil peran untuk membantu kondisi rakyatnya.

Solusi kreatif yang dipilih oleh petani dengan menggunakan tembakau, ini tentu sifatnya darurat. Kalau saja negara mampu menghadirkan produk alternatif yang ramah lingkungan dan jauh lebih mudah diakses petani, maka kita akan sangat berbangga pada prestasi tersebut.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah