OrkesTrawa Tribute To Kretek

Sebuah coretan untuk #TributeToKretek

31 Mei dikenal oleh sebagian banyak orang sebagai hari anti tembakau se-dunia. Pada hari ini, layaknya perayaan earth hour atau earth day, maka ada beberapa komunitas yang kemudian menggunakan momen 31 mei ini sebagai salah satu media untuk mengkampanyekan bahaya tembakau dan sudah pasti rokok.

Saya meyakini bahwa Tuhan tidak sia-sia menciptakan sesuatu, tidak terkecuali tembakau. Kreatifitas manusia pada akhirnya kemudian menghasilkan rokok, kretek dan cerutu dari tembakau. Untuk mengetahui perbedaan antara rokok, kretek dan cerutu bisa dibaca di sini. Beberapa tahun terakhir ini kampanya anti tembakau begitu masif, bahkan dalam artikel ini sebuah LSM menerima sokongan dana untuk melancarkan kampanye anti tembakau di Indonesia.

Saya sih tidak akan menulis panjang lebar tentang kampanye anti tembakau di artikel ini. Bagi mereka yang anti rokok sudah pasti memiliki ribuan link artikel yang memperkuat asumsi mereka tentang bahaya rokok. Begitu juga mereka yang memperjuangkan bahwa tembakau sebenarnya tidak berbahaya, ada ribuan alasan juga bagi mereka sebagai alasan yang mereka anggap logis bahwa tembakau tidak berbahaya.

Sekitar dua bulan yang lalu, kawan-kawan dari Komunitas Kretek menyelenggarakan acara #SinauKedaulatan yang kemudian menggandeng KiaiKanjeng dalam rangkaian acara tersebut. Diawali dengan sebuah Maiyahan di Temanggung yang dihadiri oleh masyarakat Temanggung yang mayoritas adalah petani tembakau. Acara kemudian berlanjut ke Kudus, Semarang, Surabaya dan berakhir di Jakarta bulan lalu.

Acara #TributToKretek yang diadakan kemarin di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki pun bisa dikatakn sebagai rangkaian dari acara #SinauKedaulatan, dimana kawan-kawan Komunitas Kretek menjadi penggerak acara ini. Puncak acaranya adalah OrkesTrawa yang menampilkan kolaborasi antara musik dan stand up comedy. Sudah ditebak sebenarnya siapa audiens yang paling banyak hadir dalam OrkesTrawa ini; penggemar Stand Up Comedy. Publikasi yang sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari ini memang sudah mengumumkan bahwa beberapa komika akan mengisi acara ini.

Ari Sumarsono alias Ari Blothong, yang merupakan salah satu personel KiaiKanjeng memimpin Yogyakarta Simphony Orchestra untuk tampil di acara ini. Penonton yang hadir sudah pasti menduga bahwa para komika yang diundang akan mengisi acara tersebut dengan stand up comedy, dan memang benar adanya. Tetapi, komika tersebut ternyata juga didapuk untuk menyanyikan beberapa lagu yang diaransemen oleh YSO. Jangan berharap merdunya suara mereka, tetapi saya akui acara semalam sangat menghibur. Secara musikal, aransmen-aransemen hasil karya YSO ini memang sangat bagus, dan tidak kalah dengan kelompok musik orkestra yang sudah dikenal oleh masyarakat luas.

Acara yang berlangsung selama 2 jam lebih tersebut benar-benar menghadirkan hiburan yang berbeda dari biasanya. Bagi mereka penggemar stand up comedy tentunya mendapatkan bonus berupa komika-komika yang mereka tonton ternyata bisa bernyanyi, meskipun dengan suara yang pas-pasan. Bagi yang sudah berekspetasi bahwa penampilan Yogyakarta Simphony Orchestra akan menampilkan lagu-lagu dengan aransemen yang bagus pun tidak begitu kecewa meskipun yang bernyanyi adalah para komika.

Sebuah layar lebar yang terpasang di panggung, di belakang para musisi Yogyakarta Simphony Orchestra menampilkan slide-slide gambar yang tentu saja sangat kental dengan Tembakau. Ada satu kalimat yang cukup menggelitik yang ditampilkan dalam layar tersebut; Merokok gak apa-apa, yang penting hafal Pancasila. Konon kalimat ini dikeluarkan pertama kali oleh Agus Mulyadi alias Agus Magelangan. Hanya orang yang selo yang kemudian memperdebatkan kalimat ini. Kalau anda terlalu serius menanggapi kalimat ini, mungkin anda kurang piknik.

Tentu, mereka yang paling beruntung adalah mereka yang datang ke acara OrkesTrawa tersebut tanpa ekspektasi apa-apa. Mereka yang datang dengan sukarela, tanpa melihat siapa yang mengadakan acara tersebut, tanpa ada tendensi bahwa acara tersebut hanyalah acara para Die Hard Tobacco Fans, sehingga mereka justru mendapatkan suguhan hiburan yang memuaskan. Dan layaknya sebuah pementasan, acara ini bagi saya ada sedikit yang saya sayangkan; materi-materi yang dibawakan oleh beberapa komika bisa dibilang sangat vulgar dimana audiens yang hadir tidak semuanya adalah orang dewasa dan tidak semuanya adalah penikmat Stand up Comedy. Tapi, terlepas dari itu saya tidak segan-segan memberikan standing applause kepada Komunitas Kretek dan Yogyakarta Simphony Orchestra tentunya atas apa yang sudah ditampilkan di teater Kecil Taman Ismail Marzuki semalam.

Pada akhirnya dalam kehidupan ini memang tidak mungkin kita memaksakan orang lain untuk memiliki cara berfikir yang sama dengan kita, dalam hal apapun saja, apalagi soal tembakau. Biarlah setiap orang memiliki kemerdekaannya masing-masing untuk memaknai ciptaan Tuhan yang ada di dunia ini. Jangan pernah sekalipun kita memaksakan cara pandang kita kepada orang lain. Setiap orang memiliki kemerdekaannya masing-masing untuk menentukan bagaimana mereka melihat sebuah persoalan di dunia ini.

Bagi anda yang mencintai tembakau dan mengekspresikan kecintaan anda terhadap tembakau dengan merokok, maka merokoklah dengan tetap beretika. Bagi anda yang tidak suka dengan rokok, maka cukuplah anda menghindar dari orang-orang yang sedang merokok, daripada anda senewen sendiri terhadap asap rokok yang ada di sekitar anda. Saya sendiri sangat sepakat dengan pernyataan Cak Nun dalam sebuah Maiyahan yang kurang lebih kalimatnya seperti ini; “Saya tidak pernah menganjurkan orang lain untuk merokok, begitu juga saya tidak pernah melarang orang lain untuk merokok”.

 

Oleh: Fahmi Agustian