Seiring berkembangnya isu kenaikan harga rokok dan dampaknya pada industri, wacana untuk memperluas penyaluran tembakau ke industri selain kretek kian berkembang. Wacana ini dikembangkan agar nantinya para petani tembakau tidak lagi bergantung pada industri kretek yang saat ini menyerap hampir seluruh hasil produksi tembakau Indonesia.

Wacana ini telah berkembang cukup lama seiring ditemukannya beragam manfaat yang bisa didapat dari tanaman tembakau. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman ini bisa dimanfaatkan selain untuk dijadikan bahan baku utama kretek. Misal, pemanfaatan tanaman tembakau untuk biofuel.

Memang, tanaman ini sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk banyak hal. Bukan hanya bisa dimanfaatkan sebagai alternatif energi, namun tembakau juga bisa dimanfaatkan sebagai biopestisida , obat diabetes, antibodi,  anti kanker, serta produk farmasi lainnya. Jadi, adalah kenyataan tembakau memiliki banyak manfaat serta bisa dimanfaatkan untuk hal selain kretek.

Namun, pemanfaatan tembakau untuk skala industri yang masif di Indonesia hari ini masih dan hanya bisa dilakukan oleh industri kretek. Walau ada kemungkinan untuk pengembangan sektor yang lain, tapi keadaan saat ini masih mengatakan bahwa tembakau baru bisa dimanfaatkan dalam skala besar oleh industri kretek.

Selain itu, para petani tembakau di Indonesia tidak mempunyai alat dan teknologi yang memadai untuk memasok tembakau bagi industri selain industri kretek. Karena, saat ini para petani hanya mampu menjual daun tembakau kering kepada industri.

Memang, pemanfaatan tembakau untuk industri selain kretek dapat meminimalisir tekanan terhadap para petani tembakau. Mengingat saat ini kampanye anti tembakau begitu gencar dilakukan oleh para aktivis kesehatan yang berupaya mengendalikan tembakau. Tapi itu saja belum cukup, diversifikasi bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.

Seperti yang telah dibahas diatas, pemanfaatan tembakau dalam skala besar belum mampu dilakukan oleh industri selain kretek. Selain itu nilai ekonomis yang bakal didapatkan para petani dari industri lain belum bisa menyamai besaran yang didapatkan dari industri kretek.

Apalagi, industri kretek selama ini banyak melakukan pendampingan terhadap para petani selama proses tanam berlangsung. Mulai dari persiapan tanam hingga proses pasca panennya industri kretek melakukan pendampingan agar tembakau yang dihasilkan petani memiliki standar kualitas yang baik.

Kalau memang negara dan para aktivis kesehatan itu telah mampu menyiapkan alternatif industri yang mampu menyerap tembakau dari para petani, bolehlah wacana ini diteruskan hingga tataran praktis. Namun selama hal tersebut belum mampu dilakukan, sebaiknya negara membuat regulasi yang tidak memberatkan industri kretek dan stakeholder yang terlibat dalam industri ini.