Rokok dan para tokoh dunia, keduanya memiliki hubungan yang sangat dekat. Begitu pun di Indonesia, para tokoh bangsa ini juga memiliki kedekatan yang erat dengan segala macam rokok khas Indonesia, mulai dari rokok yang dilinting sendiri hingga rokok kemasan. Hal tersebut tak dapat dipungkiri dan sudah tercatat dalam sejarah perjalanan bangsa ini.

Kedekatan para tokoh tersebut dengan rokok bukan tanpa alasan. Sebut saja Pramoedya Ananta Toer. Pria yang akrab disapa Pram, bahkan meminta sebatang rokok menjelang kematiannya. Baginya, setiap hisapan adalah nafas kehidupan bagi para petani tembakau untuk menghidupi anak-anaknya.

Dalam kisah lain disebutkan bahwa Haji Agus Salim (Dubes RI pertama untuk Kerajaan Inggris, yang juga Pahlawan Nasional) ditanya oleh seorang tamu dalam sebuah jamuan diplomatik di London. Saat itu, Agus Salim sedang menghisap rokok kretek, dimana aromanya menarik perhatian seorang diplomat pada jamuan diplomatik tersebut. “Tuan menghisap apa?” tanya Diplomat itu kepada Agus Salim. Agus Salim menjawab, “Inilah yang membuat nenek moyang Anda sekian abad lalu datang dan kemudian menjajah negara kami.” Jawaban tersebut menjadi tamparan bagi para imperial Barat saat itu.

Tokoh nasional lain yang juga memiliki kedekatan erat dengan rokok, diantaranya adalah Bung Karno, Jenderal Soedirman, S.M. Kartosoewiryo, Chairil Anwar, Sultan Hamengkubuwono X dan lain sebagainya. Sedangkan tokoh dunia, diantaranya Albert Einstein, Josep Stalin, Steve Jobs, Mao Tse Tung (dibaca : Mao Zedong), Fidel Castro, Winston Churchill, Nikita Kruschev, Jawaharlal Nehru, Marshall Tito, Charles de Gaulle,  Ho Chi Minh, John F. Kennedy dan masih banyak lagi lainnya.

Tokoh-tokoh yang telah disebutkan di atas bukan sembarangan tokoh. Mereka adalah orang-orang yang memiliki pengaruh untuk mengubah dunia melalui pikiran dan karya-karyanya.

Mengenai Pangeran Diponegoro. Kita mengetahuinya saat mendapatkan pelajaran sejarah di sekolah. Ia merupakan salah satu sosok Pahlawan Nasional yang gigih berperang menentang penjajah Belanda pada perang yang disebut sebagai Perang Jawa (1825-1830).

Pangeran Diponegoro lahir pada 11 November 1785 di Yogyakarta. Nama kecilnya Bendoro Raden Mas Ontowiryo. Ia meninggal saat berada di pengasingannya di Makassar pada 8 Januari 1855.

Sosok Pangeran Diponegoro menjadi bahan kajian banyak peneliti. Salah satunya adalah Peter Carey, sejarawan Universitas Oxford yang telah meneliti Pangeran Diponegoro selama 30 tahun. Peter mengungkapkan bahwa dia mengetahui Pangeran Diponegoro saat ia mencari referensi penulisan tentang Revolusi Prancis. Ketika membongkar arsip dan pustaka, matanya bertatapan dengan lukisan sosok Pangeran Diponegoro yang menurutnya “mistis dan magis”.

Setelah itu, Peter mulai menuliskan buku tentang Pangeran Diponegoro. Buku yang sudah ditulisnya, diantaranya, Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (2014) dan Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa (2012). Dalam buku Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa (2012), Peter mengungkapkan ada banyak aspek tentang Pangeran Diponegoro.

Diantaranya Pangeran Diponegoro sangat suka merokok. Ia membuat rokoknya sendiri dengan gulungan daun jagung. Rokok jenis ini disebut Rokok Klobot.

Walaupun tidak disebutkan dengan jelas mengenai maksud Pangeran Diponegoro merokok seperti yang diutarakan oleh Pramoedya Ananta Toer maupun Haji Agus Salim. Yang perlu ditegaskan dalam hal ini adalah Pangeran Diponegoro merupakan seorang perokok dan rokok yang dihisapnya adalah Rokok Klobot, padahal pada saat itu Rokok Pipa juga tak kalah populer di kalangan bangsawan kerajaan dan pejabat-pejabat tinggi pemerintahan Hindia Belanda. Terlebih, Pangeran Diponegoro juga dekat dengan kalangan bangsawan kerajaan.

Perlu diketahui bahwa sejak Christoper Columbus melihat komunitas lokal di Trinidad dan Tobago menghisap tembakau dengan menggunakan pipa pada 1498. Budaya menghisap tembakau dengan menggunakan pipa ini kemudian dibawa oleh Christoper Colombus ke benua asal mereka, benua Eropa, untuk diperkenalkan dan disebarluaskan.

Ternyata budaya yang dibawa oleh Columbus itu menjadi populer di masyarakat Eropa sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat Eropa. Kemudian budaya merokok dengan pipa ini dibawa oleh penjajah Belanda ke ke lingkungan kerajaan-kerajaan di seluruh Nusantara.

Sedangkan menurut Thomas Stamford Raffles dalam buku History of Java yang ia tulis, kebiasaan merokok masyarakat Nusantara khususnya Jawa sudah dimulai sejak tahun 1601. Dalam naskah Jawa Babad Ing Sangkala menyebut bahwa kemunculan tembakau diikuti kebiasaan merokok bersamaan dengan mangkatnya Panembahana Senopati antara tahun 1601 hingga 1602.

Selain itu, dalam naskah Babad Tanah Jawi juga disebutkan bahwa Roro Mendut meracik tembakau dan cengkeh kemudian dibungkus dengan gulungan daun jagung kering untuk dijual sebagai upayanya membayar pajak kepada Kerajaan Mataram. Artinya, baik Rokok Klobot maupun Rokok Pipa, muncul dalam waktu yang hampir bersamaan di masyarakat Nusantara. Juga mengartikan bahwa hidup dan kebiasaan merokok Pangeran Diponegoro jauh setelah munculnya Rokok Klobot dan Rokok Pipa.

Pangeran Diponegoro patut dikenang sebagai Pahlawan Nasional bukan hanya karena kegigihannya berjuang menentang penjajah Belanda pada Perang Jawa, tapi juga karena nasionalismenya pada budaya dan produk Tanah Air. Hal ini merupakan perwujudan dari kecintaan Pangeran Diponegoro pada bangsa dan negara sendiri.