5to7_movie
5to7_movie

Baru pertama kalinya aku mempunyai pacar seorang perokok. Awalnya aku yang bukan seorang perokok ketika mendapatkan pacar seorang perokok, cukup khawatir dengan aktifitas merokoknya yang nantinya dalam prasangkaku akan kerap mengganggu. Jujur saja aku tidak menyukai paparan kepulan asap rokok. Tapi kalau mau ditanya kenapa aku bisa berpacaran dengannya, jawabannya adalah kami saling mencintai dan menghargai (please gak usah pake ciye ciyean yak!!)

Sebenarnya kekhawatiran yang aku dapati hanya berdasarkan satu pengalaman pribadi yang tidak bisa digeneralisir. Ya, pengalaman pribadi bertemu  seorang perokok yang waktu itu merokok di depan mukaku dengan cueknya di sebuah tempat makan.

Nah sebenarnya sewaktu sebelum kami berpacaran, beberapa kali dia merokok saat kami sedang bersama. Sehabis makan pasti dia merokok, saat berkumpul dengan teman yang lainnya dia juga merokok. Tapi entah kenapa meskipun ia merokok, aku tidak merasa terganggu sama sekali.

Karena itulah aku memutuskan tidak masalah sama sekali berpacaran dengan seorang perokok. Menurutku kuncinya adalah aku menghargai hak dia untuk merokok, pun sebaliknya dia menghargai hakku sebagai bukan perokok.

Saat berada di rumah makan misalnya. Usai makan biasanya ia merogoh saku untuk mengeluakan rokok serta korek, bagusnya, ia tak lupa tengok kanan-kiri terlebih dahulu sebelum menyulut rokok. Ya, ia selalu memastikan tak ada anak kecil dan ibu hamil di dekatnya. Jika datang ibu hamil atau anak kecil memilih tempat duduk tak jauh dari kami, ia buru-buru mematikan rokoknya.

Pun ketika ia selesai makan lebih dulu daripada aku, ia akan meninggalkan meja makan sejenak untuk menghisap rokok di luar rumah makan tersebut.

Selama pacaran lebih dari dua tahun, kami sudah mengunjungi berbagai tempat makan, dari  tempat makan di pinggir jalan, sampai restoran mahal (sombong dikit mah gak apa ya). Dari banyaknya tempat makan itu, tentu memiliki suasana serta kondisi yang berbeda, ada yang memiliki ruangan khusus merokok, ada yang tidak.

Jika kami memilih tempat yang tersedia khusus untuk merokok atau tempat makan yang menyediakan asbak di atas meja, ia tak ragu untuk menyalakan rokok. Yang so sweetnya tak lupa ia bertanya “Masalah gak kalau aku merokok didekat kamu? Kalau berjauhan aku kan gak bisa jauh dari kamu meski cuma sepeninggalan sebatang rokok,”. Sorry agak lebay sih buat diekspos.

Ya, intinya dia tahu tempat di mana ia bisa merokok dan tempat dimana ia tidak boleh merokok. Bahkan, ia memintaku agar tak takut untuk menegur orang yang merokok di kendaraan umum ataupun orang yang merokok bukan pada tempatnya.

Selama kami berpacaran, perilaku menghargai hak bukan perokok dan menjaga etika demikian konsisten ia lakukan. Meskipun kadang sempat beberapa kali ia lalai, disitulah kewajibanku untuk mengingatkan, dan ia tidak marah ketika diingatkan oleh diriku.

Pernah suatu waktu, kami melihat orang yang membuang puntung rokok sembarangan dengan cara melempar di jalan saat berkendara sepeda motor, tak hanya aku yang ngedumel  dengan hal itu, ia juga. Sambil ngedumel ia berkata “Orang yang buang puntung rokok sembarangan kayak gitu pasti cuek sama lingkungan sosialnya, apa susahnya sih jadi perokok etis? Gue aja yang perokok juga bisa,” ketusnya.

Dari apa yang aku lihat dari perilaku merokoknya yang etis, aku jadi paham bahwa bertanggung jawab kepada sesama itu bisa dimulai dari hal yang paling sederhana. Kalau sudah bertanggung jawab, saling menghargai hak tentunya akan menjadi perkara yang mudah.