Aksesi FCTC Rugikan Konsumen Kretek

Petani Tembakau Demo Tolak FCTC
Petani Tembakau Demo Tolak FCTC

Komunitas Kretek menyatakan bahwa aksesi pengendalian tembakau atau aksesi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) selain akan terdampak langsung pada petani, juga akan merugikan hak-hak konsumen kretek.

“FCTC merugikan banyak kalangan, tidak hanya petani, konsumen kretek juga sangat dirugikan,” kata Koordinator Nasional Komunitas Kretek Abhisam DM dalam rilisnya di Jakarta, Rabu (19/3/2014).

Dia menjelaskan, jika ratifikasi dilaksanakan maka akan terjadi standarisasi produk tembakau merujuk pada indikator-indikator global. Pasalnya, FCTC juga tidak membatasi impor. Menurut dia, apabila FCTC disetujui akan terjadi impor besar-besaran terhadap tembakau yang dianggap sesuai standar.

“Kalau ini terjadi, konsumen rokok menjadi tidak punya pilihan. FCTC memaksa kita mengkonsumsi tembakau asing,” tegas Abhisam.

Abhisam menilai, keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang tidak mengaksesi FCTC sebagai keputusan tepat. “Presiden seharusnya memang tidak mengaksesi, FCTC ini kan dampaknya besar,” kata Abhisam.

Menurut dia, sikap SBY yang tidak mengaksesi FCTC selaras dengan aspirasi para petani tembakau di Indonesia. Selain itu, Kementrian Kesehatan sangat tendensius dalam menyikapi isu tembakau. Padahal, menurut dia, masih banyak masalah lain yang lebih berbahaya dibanding rokok.

“Banyak kan produk yang lebih berbahaya bagi kesehatan, ambil satu contoh saja junk food yang menyebabkan obesitas,” kata Abhisam.

Dia juga mengungkapkan, Kementerian Kesehatan tak pernah menganggap junk food sebagai masalah serius. Padahal junk food telah banyak menyebabkan obesitas pada anak.

“Contoh lain, misalnya polusi kendaraan, Kemenkes tak pernah serius menangapi isu ini,” kata Abhisam. Padahal menurutnya, International Agency for Research on Cancer (IARC), cabangan dari WHO yang fokus pada isu kanker pada 18 Oktober 2013 telah merilis data resmi bahwa polusi udara luar sebagai penyebab utama kanker-paru-paru karena mengandung zat sangat karsinogenik.

Sebagai solusi dari permasalahan kesehatan, Abhisam menekankan adanya kampanye perokok etis. “Kalau di dekat anak-anak atau ibu hamil, ya jangan merokok. Kalau di dekat orang, tanya dulu kalau mau merokok, dia terganggu atau tidak,” jelas dia.

Berita di SindoNews