Asal! Bahaya Merokok vs Bahaya Pengangguran

kretekus sehat
kretekus sehat

Setiap 10% kenaikan penganggur menyebabkan kematian naik jadi 1,2%, serangan jantung 1,7% dan harapan hidup berkurang 7 tahun. Begitu menurut Harvey Brenner sebagaimana dikutip Rhenald Kasali (Kompas, 1/12/08). Jika demikian mestinya juga dicantumkan peringatan yang berbunyi: “PENGANGGURAN MENYEBABKAN KEMATIAN, SERANGAN JANTUNG, DAN HARAPAN HIDUP BERKURANG 7 TAHUN.” Dengan peringatan itu kita mengetahui bahaya pengangguran itu seperti kita mengetahui bahaya merokok sebagai ditulis pada bungkus-bungkus rokok, iklan rokok, dan kampanye-kampanye anti rokok. Dengan pemberitahuan ini kebebasan pilihan (freedom of choice) kita diarahkan untuk tidak menganggur dan tidak merokok, karena keduanya sama-sama menyebabkan kematian, serangan jantung dan harapan hidup berkurang.

Badan Kesehatan Dunia (WHO), Pemerintah, dan sejumlah komponen masyarakat anti rokok sudah gencar memberikan peringatan ini kepada masyarakat. Sejumlah regulasi dan aksi kampanye dilakukan untuk mencegah masyarakat dari bahaya merokok ini. Bagaimana dengan bahaya pengangguran?! Jelas ini bukan urusan dan tanggung jawabnya WHO. Dalam masalah rokok ini kepentingan WHO hanya satu, masyarakat dunia, termasuk Indonesia bebas dari rokok.

Bagaimana membuat masyarakat bebas dari rokok? Jawabannya mudah. Musnahkan semua tanaman tembakau. Tutup semua pabrik-pabrik rokok. Apa yang terjadi ketika semua tanaman tembakau dimusnahkan dan semua pabrik tembakau ditutup? Petani tembakau kehilangan sumber nafkah kehidupannya, para pekerja di pabrik-pabrik rokok dan industri-industri terkait kehilangan pekerjaan. Terjadilah pengangguran yang besar. Belum lagi negara yang kehilangan sumber pendapatan dari cukai rokok. Kita keluar dari mulut singa, masuk ke mulut harimau. Pengangguran yang masif itu menyebabkan kematian yang masif, serangan jantung yang masih, dan berkurangnya harapan hidup 7 tahun yang masif pula. Pendapatan negara untuk kesejahteraan rakyat juga turun secara signifikan.

Mungkin itulah saat yang tepat kita mengeluarkan peringatan bahaya pengangguran: “PENGANGGURAN MENYEBABKAN KEMATIAN, SERANGAN JANTUNG, DAN HARAPAN HIDUP BERKURANG 7 TAHUN.” Peringatan ini tentu saja perlu dilengkapi deret panjang bahaya lain pengangguran itu, di antaranya: kelaparan, kemiskinan, kualitas hidup yang buruk, gizi rendah (jika masih ada makan), timbulnya berbagai penyakit, meningkatnya kejahatan dalam masyarakat, semakin banyaknya pengemis, berbagai masalah sosial, dan lain-lain.

Saya tidak tahu apakah kita memiliki dana cukup untuk mengkampanyekan bahaya penggangguran ini; apakah WHO dapat membantu kita dalam pendanaan kampanye bahaya pengangguran ini dan melakukan aksi penghentian pengangguran. Jikapun WHO mau membantu kita, hal ini tentu tidak lepas dari persoalan kepentingan diplomatik dan politik sebagaimana pernah diungkapkan salah seorang penggagas dan pendiri WHO, “my part in the founding of WHO was 90% diplomatic dan only 10% medical. It was politics all the time.” (Lemieux, Financial Post, 2/8/2001). Tetapi saya ragu WHO tertarik membantu pendanaan masalah pengangguran ini. Sebab masalah pengangguran ini bukan bidang garapan WHO. Ini berada di bawah kompetensi International Labour Organization (ILO).

Mungkin saja WHO mau membantu jika kita melakukan manipulasi data dan statistik angka penyebab kematian, serangan jantung, dan berkurangnya harapan hidup akibat pengangguran itu. Umpamanya, kita sebutkan saja bahwa orang-orang yang mati akibat penggangguran itu adalah perokok dan mereka mati karena merokok, bukan karena pengangguran. Persoalannya pada saat melakukan manipulasi data dan statistik itu, kita sudah bebas tembakau dan rokok. Tembakau dan rokok tidak bisa kita kambing-hitamkan lagi. Manipulasi seperti ini hanya bisa kita lakukan ketika masih ada tembakau dan kita masih merokok. Pada saat ada tembakau dan rokok jika yang mati karena serangan jantung akibat menganggur dan kebetulan orang tersebut merokok atau orang tersebut perokok pasif, kita mudah mengatakan bahwa penyebab kematian orang itu adalah rokok. Kita mudah memanipulasi data dan statitistik angka penyebab kematian. Ini tidak bisa kita lakukan lagi ketika kita sudah bebas tembakau dan rokok.

Sedikit saya ingin ceritakan pengalaman pribadi saya di tahun 2008. Pada tanggal 27 November 2008, saya terpaksa masuk dan dirawat di sebuah rumas sakit swasta di Jakarta. Badan saya panas dan trombosit turun. Ada gejala kena demam berdarah.

Karena setelah sekian tahun baru dirawat di rumah sakit lagi, maka saya sedikit memanjakan diri dengan memilih ruang perawatan kelas VVIP. Di kelas ini saya tidak hanya dapat menikmati fasilitas yang jauh lebih bagus, tetapi mendapatkan perhatian khusus para perawat dan dokter. Saya benar-benar di bawah monitoring mereka.

Pada saat dilakukan pemeriksaan rutin oleh perawat, ketika mereka memeriksa denyut jantung saya, nampak ada hal yang tidak beres. Setelah denyut jantung saya diperiksa, perawat yang memeriksanya mulai bertanya, “apakah bapak sering olah raga?” Saya jawab, “dulu sekali. Sudah lama tidak olah raga. Kenapa?” Perawat itu menjelaskan bahwa denyut jantung orang yang suka olahraga sedikit melemah ketika sedang menjalani bed rest. Itu hal yang normal. Dari pernyataan perawat saya menarik kesimpulan bahwa denyut jantung saya melemah. Tidak seperti biasanya. Hal itu pasti bukan karena seperti yang dikatakan perawat itu. Dengan bercanda saya katakan bahwa jika denyut jantung saya melemah, kemungkinan besar karena sudah beberapa hari ini saya tidak minum kopi dan tidak merokok. Mereka tidak menanggapi candaan saya itu. Tetapi mereka minta agar dilakukan rekaman jantung.

Hari berikutnya saya mulai menjalani general check up. Setelah selesai, sore harinya, dua orang perawat ke ruang saya dengan membawa alat rekaman jantung. Setelah dilakukan rekaman jantung, saya penasaran dan menanyakan hasilnya. “Besok dokter sendiri akan menyampaikan hasilnya,” kata seorang perawat. Keesokan paginya dokter yang menangani saya datang menyampaikan kabar baik dan buruk. Kabar baiknya adalah trombosit saya sudah naik. “Tetapi bapak punya masalah kesehatan yang lebih serius. Kemungkinan besar bapak kena jantung koroner,” kata dokter itu dengan wajah serius. Mendengar kabar buruk itu saya agak terkejut dan down. “Bapak merokok?” tanya dokter itu. “Ya, dokter,” jawab saya. “Ya, sudah jelas penyebabnya. Bapak harus berhenti merokok. Sudah punya dokter ahli jantung?” tanya dokter itu dengan ekspresi yang masih serius. “Tidak punya, dokter,” jawab saya. “Mau saya carikan?” Saya tentu tidak dapat menolak tawaran dokter itu. “Mau, dokter. Terimakasih,” kata saya. “OK. Kalau dokternya ada, dia akan langsung datang memeriksa bapak. Bapak harus berhenti merokok,” kata dokter itu mengingatkan saya sekali lagi sebelum pergi.

Setelah dokter itu pergi, istri yang menemani saya saat itu sedikit ngomel, “bandel sih. Sudah berkali-kali dibilang berhenti merokok, masih aja,” katanya. Sore harinya dokter ahli jantung itu muncul di ruang saya. Dokter yang berpostur kecil itu nampak sederhana dan ramah. Dia langsung menanyakan kabar saya dan minta ijin untuk memeriksa saya. “Gimana dokter?” tanya saya penasaran setelah dia melakukan pemeriksaan, “dari hasil rekaman itu katanya saya coroner,” lanjut saya. “Ya, ada indikasi itu. Tetapi untuk kepastiannya dapat diketahui lewat scanning jantung.” Dokter itu kemudian mengatakan bahwa rumah sakit tidak punya alat scanning jantung. Saya harus ke rumah sakit tempat praktek dokter itu. Rumah sakit swasta itu memiliki alat scanning.

Keesokannya saya diantar mobil ambulance ke rumah sakit dokter ahli jantung itu. Di sana saya menjalani scanning jantung. Setelah scanning, seorang perawat yang saya kenal yang melihat hasil scanning di komputer, mengatakan kepada saya bahwa jantung saya dalam kondisi yang baik. Tidak ada penyempitan. Saya penasaran dan ingin melihat sendiri. Saya dipersilahkan melihat hasilnya di komputer. Orang yang menangani gambar jantung saya hasil scanning itu menunjukkan dan menjelaskan kondisi jantung saya berdasarkan gambar itu. “Normal, pak,” katanya. “Bagaimana rupa gambar jantung coroner itu?” tanya saya. Orang itu menunjukkan gambar jantung orang yang kena coroner.

Melihat hasil scanning jantung saya yang normal itu, saya bersyukur kepada Tuhan. Setelah kembali ke rumah sakit tempat saya dirawat, saya minta untuk pulang sore hari itu juga, tanggal 29 November 2008. Trombosit saya sudah normal. Dari hasil general check up, semua organ tubuh saya yang vital juga dalam keadaan normal.

Setelah keluar dari rumah sakit, saya tetap harus mengambil hasil scanning jantung dan berkonsultasi dengan dokter ahli jantung yang sudah memeriksa saya. Pada hari Senin, tanggal 1 Desember 2008, saya mendapatkan Medical Report hasil scanning jantung saya.
Medical Report itu terdiri dari tiga halaman. Halaman pertama menjelaskan kondisi jantung saya yang normal. Halaman kedua berisi informasi penting tentang scan jantung saya itu dan calcium score. Total calcium score saya adalah 0 (nol) yang berarti dalam jantung saya “no identifiable plaque” dan “very low cardiovascular disease risk”. Score 0 ini menempatkan saya pada ranking 10 persen. Artinya, 90 persen dari laki-laki dalam rentang usia 40 – 45 tahun memiliki score calcium yang lebih tinggi daripada score saya. Yang menarik dari laporan pada halaman ini adalah informasi/data mengenai diri saya yang tercantum pada bagian atas. Di situ tertulis Patient ID, Name, Exam Date, Age, Sex, Diabetes, Smoking, Scored by. Semuanya ditulis dengan benar, kecuali satu yaitu pada poin Smoking. Pada poin tertulis “No”. Artinya, saya pasien yang tidak merokok.

Ketika saya bertemu lagi dengan dokter ahli jantung untuk konsultasi lanjutan pada hari Rabu, 3 Desember 2008, saya menyampaikan kesalahan ini kepada dokter yang bersangkutan. “Dokter saya ini perokok sejak SMA kelas satu sampai saat ini. Jadi, jawaban “No” pada Medical Report ini salah,” kata saya. “Oh, kalau begitu jawaban “No” itu diperbaiki saja,” kata dokter sambil mencoret kata “No” itu dan menulis kata “Yes”. Tentu yang diperbaiki itu hanya pada dokumen hasil laporan scanning yang saya pegang. Saya ragukan jika perbaikan itu juga dilakukan pada data yang ada di rumah sakit.

Ini tentu saja kesalahan kecil. Kesalahan administratif yang nampaknya tidak penting. Tetapi bagaimanapun kesalahan pencatatan dapat menunjukkan beberapa hal. Pertama, petugas rumah sakit mengasumsikan bahwa karena hasil scanning jantung saya baik dan normal, berarti saya bukan perokok. Asumsi ini mungkin terjadi karena sebelum di-scanning, saya tidak ditanyai terlebih dahulu apakah merokok atau tidak. Kedua, cara kerja berdasarkan asumsi ini juga dapat terjadi ketika, umpamanya, hasil scanning jantung saya menunjukan penyakit jantung coroner. Petugas mungkin saja akan menulis kata “No” pada poin Smoking itu, walaupun, misalnya, saya sebenarnya tidak merokok. Ketiga, dengan menyatakan bahwa saya tidak merokok, maka hal ini akan menambah satu data yang menjustifikasi kebenaran bahwa orang yang tidak merokok itu bebas dari penyakit jantung. Walaupun fakta yang sebenarnya adalah saya perokok sejak SMA kelas satu sampai dengan saat ini dan menurut hasil scanning jantung dalam keadaan normal. Sebaliknya bisa terjadi. Orang yang tidak merokok, tetapi mengidap penyakit jantung, didata sebagai perokok atau setidak-tidaknya perokok pasif. Keempat, saya tidak tahu apakah kesalahan record seperti ini karena kurang teliti atau disengaja. Tetapi jika kesalahan seperti ini banyak terjadi, maka akan menimbulkan keraguan pada data-data dan statistik akibat buruknya merokok.

Menghadapi pengalaman pribadi di atas saya teringat kisah surat Mary Ellen Haley yang ditulis Lauren A. Colby (2003). Seseorang yang dicintai Haley meninggal dunia karena kanker. Haley mendapat sertifikat kematian. Dalam sertifikat tersebut terdapat baris yang harus diisi dokter mengenai penyebab kematian. Dokter mengisi penyebab kematian “cigarrete smoking” (menghisap rokok). Haley menanyakan kepada dokter yang bersangkutan apakah dokter itu yakin bahwa tumor itu disebabkan oleh menghisap rokok. Dokter itu menjawab bahwa dia tidak yakin mengenai hal itu, tetapi petunjuk-petunjuk (guidlines) yang dikeluarkan oleh American Cancer Society yang menetapkan ketika seseorang meninggal karena kondisi-kondisi tertentu dan orang tersebut merokok, dokter diinstruksikan untuk menulis penyebab kematiannya adalah merokok. Haley meminta dokter itu menghilangkan tulisannya pada sertifikat itu yang menyatakan menghisap rokok sebagai sebab kematian.

Kembali ke persoalan “PENGANGGURAN MENYEBABKAN KEMATIAN, SERANGAN JANTUNG, DAN HARAPAN HIDUP BERKURANG 7 TAHUN”. Kita tidak perlu memanipulasi atau merekayasa data dan statistik kematian, serangan jantung, dan harapan hidup yang berkurang akibat pengangguran. Karena kita semua tahu bahwa pengangguran itu sejak dulu sudah jadi masalah di negeri ini. Akibat-akibat buruknya pun sudah kita pahami bersama.

Beda dengan tembakau dan rokok yang sejak kita merdeka, bahkan sebelum merdeka, belum jadi masalah seperti yang gencar dikampanyekan saat ini. Bahkan, nenek moyang kita, yang belum kenal fast food dan segala macam penyakit yang disebabkan oleh rokok itu, sudah biasa merokok.

Pertanyaannya, bagaimana kita dapat mengatasi pengangguran yang menyebabkan kematian, serangan jantung, dan harapan hidup berkurang 7 tahun ketika kampanye dan aksi anti tembakau dan rokok berhasil membebaskan bangsa ini dari tembakau dan rokok?
Menurut Ketua HKTI, Siswono Yodo Husodo, seperti dikutip mediaindonesia.com (20/1/2009) jumlah tenaga kerja yang terlibat langsung dan tidak langsung dalam industri mencapai 30,5 juta orang. Artinya, angka pengangguran mencapai 30,5 juta orang ketika bangsa ini bebas dari tembakau dan rokok.

Jika benar dan jujur ancaman bahaya rokok itu dan jika membebaskan tembakau dan rokok jauh lebih penting daripada masalah kemiskinan dan pengangguran di negeri ini, maka perang terhadap tembakau dan rokok itu mestinya disertai dengan persiapan yang matang dan mantap mengatasi masalah pengangguran yang timbul akibat perang terhadap tembakau dan rokok. Termasuk di dalam alternatif solusi atas defisit sumber pemasukan APBN dari sektor cukai tembakau yang pada tahun 2009 ini ditargetkan mencapai Rp.48,2 trilium.

Apabila kita hanya ingin memenangkan perang terhadap tembakau dan rokok karena ketakutan kita pada propoganda bahaya merokok itu, tanpa peduli dengan akibat perang terhadap tembakau dan rokok itu jika tujuan perang itu tercapai, maka sejatinya kita hanya menjerumuskan masyarakat dan bangsa ini ke dalam bahaya pengangguran yang juga menyebabkan kematian, serangan jantung, dan harapan hidup berkurang 7 tahun. Suatu bahaya lebih nyata daripada bahaya merokok.