Tembakau Mencegah “Genosida” akibat Virus Ebola

Tembakau Cegah Virus Ebola
Tembakau Cegah Virus Ebola

Kurang dari empat bulan sejak virus Ebola menyebar, 932 warga Sierra Leone, Guinea, Liberia, dan Nigeria meninggal, dan lebih dari lebih dari 1.600 terancam meregang nyawa. Dalam catatan dunia kesehatan, ini merupakan wabah terbesar sepanjang sejarah. Lebih dari separo jumlah yang terinfeksi telah meninggal dunia.

Berbeda dengan virus mematikan lainnya, virus Ebola tidak turut mati ketika penderitanya meninggal. Pada kasus kali ini, orang-orang yang terinfeksi adalah mereka yang merawat saudaranya yang terinfeksi, atau menyiapkan jenazah yang akan dikebumikan. Artinya, bahkan orang yang menolong pun terancam terserang penyakit yang sama. Menghawatirkan.

Penyebarannya semakin massif karena selain menginfeksi manusia, Ebola juga menjangkiti hewan seperti simpanse, kelelawar, atau antelop hutan. Celakanya, lingkungan yang sudah terkontaminasi dengan virus ini juga bisa langsung menginfeksi tubuh manusia. Lengkap sudah, media penyebarannya bukan hanya kontak dengan penderita, tetapi juga hewan dan lingkungan yang terinveksi. Bayangkan apabila yang terinveksi adalah lingkungan rumah sakit, atau instansi publik yang lain.

Kini, Ebola tidak hanya menyerang Benua Afrika, virus ini kini mulai mengancam hingga ke Amerika. Praktis, Ebola pun menjadi perhatian dunia. Meskipun sangat mematikan, pemberitaan Ebola mungkin tidak akan sekencang ini bila virus ini tidak mengancam negara-negara digdaya. Mungkin. Tapi kiranya fakta itulah yang terjadi saat ini. Tapi itu bisa dipahami. Apabila negara-negara besar dengan mobilitas penduduk yang tinggi mulai terinfeksi, maka bencana dunia akan melanda tidak lama lagi.

Virus Ebola menjadi sorotan dunia selain karena sangat mematikan, penyebarannya menghawatirkan, juga karena hingga saat ini dunia kesehatan belum bersepakat atas obat apa yang bisa digunakan untuk mengatasi penyakit ini. Sampai akhirnya perusahaan obat di Negeri Paman Sam Mapp Biopharmaceutical Inc. mengujicoba obat dengan kandungan utama tembakau untuk dua pekerja medis Amerika yang terinfeksi Ebola.

Mengutip Reuters, kini berbagai penelitian medis meyakini bahwa tanaman tembakau bisa memberikan antibodi, bahkan pada keadaan pasien yang sudah genting sekalipun. Dunia kesehatan gundah. Bukan karena pengidap virus Ebola semakin banyak, tetapi karena tanaman tembakau yang selama ini mereka anggap sebagai penyebab bencana dunia ternyata bisa mengatasi ancaman bencana penyakit dunia.

Bak hadirnya mesias, tembakau kini mulai dielu-elukan oleh berbagai kalangan. Padahal sebelumnya tembakau dianggap sebagai persoalan. Tembakau menjadi primadona, bukan karena tembakau konon membuat satu miliar orang di dunia terancam meninggal tetapi karena perannya menyelamatkan miliaran orang dari ancaman kematian.

Kini tembakau menjadi satu-satunya elemen yang mulai dikembangkan sebagai antibodi buatan yang dapat menangkal virus ebola. Penggunaan tembakau sebagai antibodi bagi virus ebola ini sudah melewati uji laboratorium, dan sedang menjalani tahap uji klinis, sebelum akhirnya nanti akan diproduksi massal untuk diedarkan. Dunia sedang optimis atas peran tambakau, hanya segelintir kelompok anti rokok yang barangkali tertunduk lesuh dan tidak bahagia. Segelintir orang yang lebih mementingkan kebohongan industri farmasi agar perut terus kenyang. Barangkali.

Kini sederet penyakit telah diatas oleh tembakau: penyakit Parkinson, mempercepat penyembuhan serangan jantung dan stroke, mengurangi resiko penyakit “Susut Gusi” (Gingival recession), mencegah asma dan penyakit karena alergi, membunuh kuman penyebab Tuberculosis, mencegah kanker kulit, mengurangi resiko terkena kanker payudara, mengurangi radang usus besar, mengobati Down Syndrome, mencegah hipertensi di masa kehamilan, dan berbagai penyakit lainnya. Dan terakhir, tembakau kembali hadir sebagai solusi untuk mencagah ancaman “genosida” akibat ebola.