Cacatnya Antirokok di Forum Ilmiah

Tentu kesal rasanya menjadi Hasan Aoni Aziz, Sekretaris Jendral Gabungan Perserikatan Perusahaan Rokok Indonesia pada hari minggu lalu. Sudah datang jauh-jauh dari semarang karena diundang menjadi pembicara, begitu datang ke lokasi malah ditolak oleh panitia acara.

Ya, pada Diskusi Panel Jalan Panjang Menuju FCTC yang diadakan Himpunan Mahasiswa Pendidikan Dokter UIN Jakarta mengundang Hasan Aoni untuk menjadi salah satu pembicara. Ia diundang sebagai perwakilan Gappri, dan telah menyiapkan materi presentasi untuk diskusi itu.

Namun, ketika sudah di Jakarta, Hasan dihubungi bahwa Ia ditolak menjadi pembicara. Alasannya agar acara berjalan dengan baik. Tentu hasan tak terima begitu saja, mengingat Ia sudah datang jauh-jauh dari Semarang hanya untuk mengikuti diskusi yang sedianya ilmiah.

Sayang, ketika sampai di Auditorium Utama Harun Nasution UIN Jakarta, Hasan bukan hanya dikesalkan karena keputusan sepihak panitia yang membatalkan dirinya menjadi pembicara. Disana, Ia juga tidak diperbolehkan masuk sebagai peserta oleh panitia. Agar acara berjalan lancar, menurut panitia.

Siapapun akan kesal diperlakukan seperti ini. Apalagi Hasan datang untuk mengikuti forum ilmiah, dan sudah mempersiapkan materi yang tentunya ilmiah. Sayang, forum ilmiah ini sudah tidak adil sejak diskusi belum dimulai.

Dalam diskusi sendiri, yang terasa bukanlah seperti forum ilmiah yang diadakan. Dari ketiga panelis, tidak ada yang mewakili industri tembakau. Tidak ada perwakilan kementrian Perindustrian ataupun Gappri disana. Diskusi pun tidak berjalan baik, karena ngaretnya acara dalam waktu 2 jam, sesi diskusi hanya berjalan sebentar. Agenda ini seperti menjadi ajang doktrinasi pada mahasiswa kedokteran saja.

Hakim Sorimuda Pohan, selaku salah satu pembicara menyatakan bahwa berbicara dengan kubu pro tembakau tak ubahnya berbicara dengan burung beo. Apapun yang ditanyakan, jawabannya akan sama. Tentu, menurut saya, ini adalah penghinaan eksplisit yang rasanya tak pantas keluar dari mulut seorang dokter terhormat.

Belun lagi kalimat yang keluar dari mulut pembicara lain yang menyatakan bahwa senat di Amerika itu bodoh-bodoh. Bahkan, baginya, berbicara dengan mereka sama seperti berbicara dengan tukang becak Indonesia. Tentu sebuah pernyataan yang tidak ilmiah dalam forum yang katanya ilmiah.

Seperti itulah forum ilmiah yang dilakukan oleh Antirokok. Mereka berbicara seperti malaikat yang berupaya menyelamatkan Indonesia dari kepunahan, padahal cacat logika dan attitude mereka dalam forum ilmiah bukan seperti cendikiawan ataupun dokter yang terhormat. Mungkin, prilaku tukang becak di Indonesia lebih baik dari mereka.