Kearifan Perokok dan Bingkai Antagonisme

Bung Karno merokok

Suka tidak suka, merokok telah menjadi bagian dari budaya masyarakat kita. Di antaranya menjadi bagian dari jamuan untuk memuliakan tamu, dalam beberapa tradisi adat Nusantara ini masih lazim, pula sebagai alat bicara dari kelas-kelas di masyarakat kita. Ambil sederhananya saja, kecenderungan orang muda yang menggemari kretek mild serta kecenderungan orang yang tidak lagi muda menghisap kretek yang konus dan padat.

Kecenderungan inilah yang menjadi aras kita untuk melihat, sekalipun rokok bukanlah semacam kudapan yang dikunyah, namun sejak dulu budaya mengonsumsi tembakau telah mengambil posisi layaknya kudapan. Inilah suatu yang khas dari kemajemukan kita dan menjadi isyarat perwatakan sebuah bangsa. Bersahaja tanpa harus dirumitkan oleh definisi yang dipaksakan.

Sebagian masyarakat kita akan merujuk pada jenis puntung rokok di asbak untuk menandai siapa orang yang bertandang serta kecenderungan lain yang ditafsirkan sendiri. Meski di masa kini ada kecenderungan “berasap” yang menggejala tanpa menyisakan puntung, tetap saja aroma yang berjejak selalu memberi isyarat.

Isyarat ini lazim pula digunakan pada kerja-kerja forensik, yang menyelidiki identitas pelaku kriminal yang mengacu pada barang bukti berupa puntung rokok. Intinya, perokok sangat mudah dikenali, bahkan bisa lekas “dipegang” jika Ia meninggalkan puntung rokoknya setelah melakukan sesuatu, terlepas itu melakukan tindak kriminal ataupun bukan.

Sebut saja hanya perokoklah yang sulit untuk berlaku tidak jujur atau berkilah dari fakta habituatifnya itu. Bahwasannya aktivitas merokok jelas akan meninggalkan kesan yang kuat, dan menjadi cerminan dari suatu perwatakan serta kelas. Ia juga membentuk satu stereotype yang bahkan menyeret kita masuk pada perdebatan di ranah ideologi.

Misal saja film G30S besutan Orba yang berhasil membingkai para aktivis partai yang dicap terlarang itu sebagai golongan antagonis. Meski yang protagonis juga bukan berarti tidak ada merokok. Dikotomi protagonis dan antagonis kerap kali ditentukan oleh siapa (rezim) yang berkepentingan mengendalikan arah sejarah. Arifin C. Noer juga seorang perokok, selaku penyusun naskah film propaganda itu, mau kita posisikan di mana dia?

Upaya yang membingkai rokok sebagai elemen pendukung citra antagonisme masih saja berlaku hingga hari ini. Misal seperti pada berbagai sorotan berita kriminal atau artikel-artikel gosip tentang selebriti. Bahkan  foto anak milisi pemberontak yang sedang merokok pun kerap dikait-kaitkan.

Suka tidak suka, rokok kerap dijadikan barang gorengan pada isu apa saja. Jelaslah pembingkaian itu semata untuk mendiskreditkan perokok, yang mengarah pada segala hal menyangkut keburukan-keburukannya. Padahal uang yang didapat dari cukai rokok dinikmati juga oleh banyak pihak.

Sialnya, masih ada orang yang percaya bahwa problem kemiskinan bersumber mutlak dari mengonsumsi barang legal itu. Budaya merokok lantas dikelompokkan sebagai perilaku orang miskin. Sementara ada golongan yang jauh lebih konsumeristik demi kemewahan hidupnya, melulu dalih yang dilariskan, “dia mampu karena dia punya duit” dan klisenya yang berduit disebut sebagai orang kaya.

Padahal para perokok juga banyak yang mampu dan berduit. Perkara begini dalam persfektif kretekus; kaya adalah akumulasi (nilai) kesalihan sosial. Maka untuk mengikuti gaya hidup bermewah-mewah seperti bos First Travel misalnya, bukan perkara berduit atau tidak berduit, Jelas pula bukan persoalan dia merokok atau tidak.

Akibat pemaksaan paradigma semacam tadi, properti penunjang pemuliaan terhadap tamu saja sudah berganti. Ketiadaan asbak dari meja ruang tamu ataupun meja rumah makan menjadi salah satu isyarat. Perokok biasanya lekas paham jika kedapatan kondisi semacam itu. Artinya, kita tidak dipersilakan untuk merokok di dalam. Boleh jadi kita hanya diizinkan merokok di luar ruangan itu.

Antagonisme tidak hanya dialamatkan pada pribadi-pribadi belaka. Dalam eskalasi kepentingan rezim standarisasi, upaya memaksakan paradigma itu terlihat lebih terang adanya. Indonesia terus saja terbingkai sebagai aktor yang keras kepala, terutama dalam menyikapi traktak FCTC yag didorong oleh para komprador industri farmasi. Hal ini bisa ditengarai dari ragamnya pemberitaan yang membahas indeks kemiskinan dan kesehatan yang dilatari persoalan rokok, namun tidak pernah indeks kebahagiaan dari berkah sosial masyarakatnya ikut serta dilariskan.

Seiring waktu, pemaknaan berkah sosial itupun mengalami pergeseran makna. Terlebih ketika cukai rokok terus naik dan naik dan naik. Syukurnya perokok selalu punya cara menyiasati itu semua dengan segenap modal kearifannya, meski semakin hari semakin tersandera bingkai antagonisme itu.