Rokok Kiai

Di satu pesantren di Jombang, Jawa Timur, santri-santri dilarang merokok. Dan mbah kiai pengasuh pesantren tidak segan-segan memberikan takzir (hukuman) setimpal pada santri yang melanggar. Namun ada saja santri nakal yang melakukan pelanggaran.

Beberapa gelintir santri yang tidak tahan ingin merokok mencari-cari kesempatan di malam hari, pada saat gelap di sudut-sudut asrama atau di gang-gang kecilnya, atau di tempat jemuran pakaian atau di pekarangan kiai.Satu malam seorang santri perokok ingin melakukan aksinya. Ia bergegas ke kebun blimbing. Ia dekati seorang temannya di kejauhan sedang menyalakan rokok.

“Kang, join rokoknya!”, katanya sambil menyodorkan jari tengah dan telunjukknya.

Temannya langsung menyerahkan rokok yang dipegangnya.

Santri perokok langsung mengisapnya. “Alhamdulillah, nikmatnya” katanya. Diteruskan dengan isapan kedua.

Rokok semakin menyala, dan dalam gelap dengan bantuan nyala bara rokok itu lamat-lamat ia melihat siapa yang sedang dimintai rokok. Namun santri belum yakin dan diteruskan dengan isapan ketiga. Rokok semakin meyala terang. Ternyata, teman yang dia mintai rokok adalah kiainya sendiri.

Santri kaget dan ketakutan. Dia langsung kabur. Lari tunggal langgang tanpa sempat mengembalikan rokok yang dipinjamnya.
Sang kiai marah besar: “Hei rokok saya jangan dibawa, itu tinggal satu-satunya”.

*Diambil dari buku Gusdur Menertawakan NU.