Dua Humor Gus Dur Soal Rokok

Gus Dur memang kontroversial. Semasa menjabat sebagai Presiden Republik, tak sedikit ucapannya yang membuat orang emosi. Menyebut anggota DPR sama seperti anak Taman Kanak-kanak, meski aksi anggota DPR yang emosi memang terlihat seperti anak-anak. Namun, dibalik semua sikap nyelenehnya, Gus Dur adalah salah satu Negarawan yang punya selera humor yang baik.

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid memang unik. Dalam situasi genting dan sangat penting pun dia masih sering meluncurkan joke-joke yang mencerdaskan. Gitu aja kok repot, menjadi kalimat pamungkas yang mengkritik lawan politiknya dengan cara santai.

Sebagai seorang yang dibesarkan dalam budaya santri, Gus Dur pun memiliki cerita menarik soal rokok. Berikut adalah dua humor yang diceritakan Gus Dur soal Rokok:

Mati Ngerokok

Semasa belajar di Mesir, Gus Dur punya teman asal Aceh, namanya Yas. Kamar mereka bersebelahan. Orang ini, tutur Gus Dur, betul-betul perokok berat. Ke mana pun dia pergi, pasti di kantongnya selalu terselip dua bungkus rokok. Satu sudah dibuka, satu lagi buat cadangan.

“Bagi dia, ngerokok itu jangan sampai ketelatan,” tutur Gus Dur. “Makanya si Yas selalu bawa dua bungkus.”

Saking sayangnya pada temannya ini, Gus Dur menasihatinya, “Yas, apa kamu enggak pernah baca tulisan di majalah bahwa tiap satu batang rokok itu bisa memendekkan umur 30 detik?”

“Lho, kamu ini gimana. Sekarang coba kamu itung sudah berapa tahun umurmu diperpendek oleh rokok itu.”

Sambil menyulut sebatang lagi, Bung Yas menimpali, “Ya, tapi kalau saya enggak merokok, besok saya bisa mati.”

Santri Dilarang Merokok

“Para santri dilarang keras merokok!” begitulah aturan yang berlaku di semua pesantren, termasuk di pesantren Tambak Beras asuhan Kiai Fattah, tempat Gus Dur pernah nyatri. Tapi, namanya santri, kalau tidak bengal dan melanggar aturan rasanya kurang afdhol.

Suatu malam, tutur Gus Dur, listrik di pesantren itu tiba-tiba padam. Suasana pun jadi gelap gulita. Para santri ada yang tidak peduli, ada yang tidur tapi ada juga yang terlihat jalan-jalan mencari udara segar.

Di luar sebuah rumah, ada seseorang sedang duduk-duduk santai sambail merokok. Seorang santri yang kebetulan melintas di dekatnya terkejut melihat ada nyala rokok di tengah kegelapan itu.

“Nyedot, Kang?” sapa si santri sambil menghampiri “senior”-nya yang sedang asyik merokok itu. Langsung saja orang itu memberikan rokok yang sedang dihisapnya kepada sang “yunior”. Saat dihisap, bara rokok itu membesar, sehingga si santri mengenali wajah orang tadi.

Saking takutnya, santri itu langsung lari tunggang langgang sambil membawa rokok pinjamannya. “Hai, rokokku jangan dibawa!” teriak Kiai Fatta.