Selamat Berpuasa Selamat Merawat Kewarasan

Ada soundscape yang khas dari bangsa majemuk ini dalam memasuki bulan Ramadhan, bulan dimana muslimin-muslimat kembali menjalankan ibadah puasa. Ditandai dengan naiknya harga-harga Sembako. Dan kesibukan antirokok di bulan Ramadhan bukan berarti membuat mereka puasa dari melariskan fitnah bahaya rokok dan bahaya bergaul dengan perokok.  Klaim dan fitnah kerap membiakkan panorama bunyi.

Tetapi tahun ini keriuhan akan penetapan hari pertama puasa tak seriuh tahun lalu deh. Belakangan malah berita tentang larangan terhadap pelantam mesjid yang memutar kaset pengajian, yang kata pak JK hanya memberi pahala buat produsen pelantam belaka. Terbilang bikin semarak komentar di lalin sosmed, alih-alihnya sih soal polusi bunyi.  By the way, kenapa tak sekalian dialamatkan ke kelompok antirokok sih pak, bebunyian mereka itu bukan suara asli lho. Bukan suara asli budaya Indonesia maksud saya. Baca deh bukukretek.com.

Padahal perayaan spanduk-spanduk yang melariskan pencitraan Marhaban yaa Ramadhan atasnama tokoh dan lembaga boleh jadi hanya berpahala buat tukang cetak dan produsen mesin cetak. Seraya itu pula program tontonan dan pesan-pesan sponsor, tak mau kalah berlomba melariskan warna kesalehan. Seperti yang sudah-sudah, keriangan Ramadhan di Indonesia memiliki timbre yang khas. Begitu pun kumretek dari hisapan ke hisapan. Bukankah bangsa yang berdaulat adalah bangsa yang memiliki timbrenya sendiri.

Selain unsur panorama bunyi (soundscape) ngabuburit di jelang buka puasa, dari langgar dan mesjid surplus jama’ah tarawih pada etape pertama Ramadhan adalah panorama keriangan yang Indonesia banget. Ikhlaskan saja jika ada yang mengalami kehilangan sandal atau tertukar di malam tarawih pertama. Ramadhan adalah bulan penuh ujian dan ampunan. Berbaik sangkalah, hilangnya sandal boleh jadi dalam rangka menyusul sandal Bilal di surga. Kita harus bisa bisa berlapang dada.*nyanyi berlagak Duta SO7*

Di minggu selanjutnya undangan bukber, ngabuburit bareng seleb, sahur on the road. Yup. Bulan puasa punya berkahnya tersendiri, wabil khusus bagi PPT (Para Pemburu Takjil). Mereka adalah saudara-saudara saya yang terdampar di jalanan. Ramadhan mengulang tanda yang sama. Simak deh lalu lintas twitter. Apalagi yang diriuhkan kalau bukan komodifikasi godaan puasa dan provokasi bernada fastabiqul khairat.  Oiya hampir lupa, bau surga kaum dhuafa dan manusia gerobak ke mana mereka ya setelah lebaran ?

Sahuuur sahuuur. Dung tak dungdung cess. Sahuuuur sahuuur….

Bulan Ramadhan menjadi bulan pembuktian, dimana mengubah siklus waktu merokok adalah sesuatu yang lumrah bagi perokok yang menjalankanibadah puasa. Seperti halnya mengubah jam makan-ngopi-tidur, tetapi esensi berpuasa di bulan Ramdahan bukan berarti seremeh itu juga. Justru Ramadhan menjadi bulan untuk mempertanyakan kembali kewarasan antirokok.

Ketika tuduhan adiktif itu dialamatkan semata pada rokok, mestinya amplop THR dan parsel lebaran wajib pula diberi label ‘Sedekah Membunuhmu’. Yang kerap dijadikan jalur cuci uang bagi golongan elit penimbun uang kotor. Sedekah bikin adiktif bagi penerimanya, sedekah dapat menyebabkan ini-itu yang berbahaya bagi akal sehat umat. Bukankah syarat wajib yang berpuasa di antaranya adalah berakal sehat ?

 

 

(Visited 250 times, 1 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Ragam