RUU Perkorekapian

Korek dan rokok, dua barang yang tak bisa dipisahkan, seperti cerita Romeo dan Juliet atau Adam dan Hawa. Tak ada korek, manusia akan susah menemukan api. Jika tak ada api, rokok hanya barang mati yang tak bisa dinikmati. Iya, jika diibaratkan tubuh manusia, korek adalah jantung yang memiliki fungsi vital dan harus dijaga kesehatannya.

Korek, tentu sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia, apalagi di kalangan para perokok. Kalau sampai sehari tak ada rokok yang disulut korek, bisa-bisa para perokok kehilangan produktifitasnya. Begitu penting dan vital fungsi korek, sehingga tak jarang, operasi Curanrek (pencurian korek) di kalangan para perokok kerap terjadi, biasanya saat Si Empunya sedikit meleng dan terbius sebuah obrolan yang mengalihkan perhatian. Pencurian korek tentu sangat maklum, –para perkok beranggapan—tak punya rokok tak apa, asalkan korek selalu ada. Ketika korek ada, permasalahan bisa merokok tentu tidak terlalu menjadi bebankehidupan yang memprihatinkan.

Banyak orang yang tidak memedulikan dan menyadari betapa mengagumkannya “nilai” di balik Si Korek yang malang ini. Anggapan kebanyakan orang itu, korek tak lebih dari barang mungil yang hanya bisa mengeluarkan api. Untung saja ada Sopo yang rela tak tidur berminggu-minggu hanya demi memikirkan hal ini. Persis seperti para filusuf Yunani yang sedang kebingungan memikirkan bagaimana cara membayar utang-utang negaranya.

Perkara mikir memang sudah menjadi hobi Sopo. Hal itu sudah tidak rahasia lagi. Semua masyarakat desa sudah tahu, kecuali Sopo sendiri yang kadang tidak menyadari segala tindak tanduknya. Itulah Sopo, manusia abnormal yang selalu dipandang paling normal oleh orang-orang di sekitarnya.

Entah kesambet Jin apa, –yang pasti bukan JIN (Jemaat Islam Nusantara); sebuah singkatan ciptaan Habib Rizieq– pagi-pagi sekali Sopo menyeret Marijos dan Marno menuju toko Wak Kaji Damri untuk memborong semua korek yang ada di toko tersebut. Mengetahui tingkah ndoronya, Marijos dan Marno hanya saling pandang dan geleng-geleng kepala. Ada sebuah kesimpulan yang mereka sepakati dalam hati, yaitu Sopo sedang kumat edan.

Tak ada pertanyaan yang keluar dari mulut Marijos dan Marno. Bukan mereka tak berani bertanya. Mereka hanya menunggu, sampai Sopo membacotkan sendiri tingkah polahnya tersebut. Hanya tinggal sabar dan menunggu waktu untuk mengetahui kegendengan lelaki jomblo berkepala empat tersebut.

Sesampainya di Basecamp Pengglandang, setelah meletakkan puluhan lusin korek, Sopo beringsut keluar. “Letakkan saja koreknya di meja. Ojo sampe dibuka sakdurunge aku mulih!” Marijos dan Marno hanya ndomblongmelihat kelakuan Sopo yang semena-mena dan membuat emosi.

Jancok tenan kelakuane menungso kui. Edan, orak waras!” Begitulah Marijos, ia akan memaki jika orang yang dimaki sedang tidak ada di depan matanya. Sedangkan Marno, hanya diam mendengarkan rekannya misuh-misuh.

Ono opo to, Jos? Senenganmu mblibeni wong turu!” Sambil membetulkan sarungnya yang mlorot, Marbot mendekati kedua temannya yang sedang emosi dan kebingunan oleh polang tingkah pimpinannya.

“Ini lho, Bot, Ndoro Sopo membuat ulah lagi. Kita lagi enak-enak maen PS dipaksa ikut ke toko Wak Kaji Damri. Kukira mau dibelikan udud, eh malah seperti ini yang dia borong.” Kata Marno sambil menunjuk puluhan lusin korek yang bertumpuk di atas meja.

Marbot ikut geleng-geleng. Gerangan apa yang membuat Sopo kembali berulah lagi. “Pasti Sopo punya alasan.” Marbot mencoba menanangkan kedua rekannya.

“Iya. Punya alasan. Mungkin dia mau bikin bom, buat melawan ISIS yang mencoreng nama Islam. Dia mau ke Timur Tengah. Mau jihad. Mau membanti para pejuang berjenggot yang njancuki!” Marijos semakin menggebu-gebu memaki Sopo.

Menungsone tadi di mana?” Tanya Marbot. Belum sempat dijawab oleh kedua temannya, tiba-tiba Sopo kembali dengan Wak Kades lengkap dengan perangkatnya. Melihat hal itu, ketiga partner Sopo tambah kebingungan. Wak Kades dan perangkatnya juga tampak demikian, bingung tidak ketulungan.

“Lihat Wak Kades, semua korek ini akan saya pasrahkan kepada sampean. Dan saya mohon, korek-korek ini nanti dibagikan kepada seluruh perokok di desa ini!” Ujar Sopo sambil ndidingi tumpukan korek tersebut.

“Maksudmu opo, Po?” Wak Kades tampak makin kebingungan.

Sopo seperti orang tuli, bukannya pertanyaan Wak Kades ditanggapi, ia malah terus nggremeng, “Pokoknya, setelelah korek ini dibagikan, Wak Kades harus membuat peraturan. Barang siapa yang ketahuan mencuri korek teman ngopinya, maka sanksinya melebihi maling ayam! Sepakat?”

“Ini ada apato, Po?” Giliran Wak RW angkat bicara.

Lagi-lagi Sopo mbudek (pura-pura tuli). “Korek itu memiliki banyak fungsi dan manfaat. Sudah seharusnya ia dimuliakan dan dijaga betul. Bahkan kalau perlu, harus ada undang-undang khusus yang memberikan perlindungan terhadapnya. Seharusnya para penegak hukum memberi sanksi para pencuri korek!” Sopo mengambil duduk dan seisi Basecamp mengikutinya.

Tampaknya, semua orang yang sedang memperhatikan Sopo sudah kelelahan. Tak ada yang bertanya lagi, apalagi menyela dhawuhny Sopo. Tentu Wak Kades dan lainnya memahami, bahwa berdebat dengan Sopo tak ubahnya seperti Patkai adu mulut dengan Kera Sakti. Buang tenaga pasti, bikin pinter belum tentu. Biarkan saja, maka semuanya akan terang.

Tumben-tumbennya, pada situasi seperti ini Sopo tidak klepas-klepus menikmati kreteknya. Sesekali ia menerawang ke langit-langit Basecamp yang semakin dipenuhi kerak-kerak. “Jadi begini, Wak Kades dan teman-teman.” Sopo menurunkan tensi nada bicara. “Kemarin saya ngopi dengan para pemuda. Kami diskusi masalah rokok yang ternyata sebab revolusi maupun reformasi bangsa ini. Tapi ada yang aneh…”

“Apa yang aneh, Po?” Wak Kades berbasa-basi.

“Yang aneh polo berbikirnya para pemuda. Kalau sudah membincang sesuatu, mereka selalu lupa akan sesuatu yang sebenarnya menjadi faktor sesuatu tersebut. Contohnya, kalau sudah ada doktrin bahwa seorang ibu yang harus lebih dihormati, maka penghormatan kepada bapakknya terkesan ala kadarnya.”

“Terus, hubungannya dengan korek?” Tanya Marijos.

Kowe emang dedel, Jos! Manusia kadang tak terlalu mamu memikirkan sebab atas segala sesuatu. Hanya sebab terciptanya sebuah janin saja, yang akan selalu mereka pikirkan. Hal-hal lain, mana pernah?”

“Terus, hubungannya dengan korek?” Marijos tampak kesal, sehingga ia mengulangi pertanyaan yang belum dijawab Sopo. Semuanya menunggu dan menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Sopo.

“Kalau otakmu cerdas, seharusnya tak butuh penjelasan lebih lagi! Gua nggak mau ngejelasin lebih detail lagi. Kalau pengen tahu ya sinau, ojo ngandalke takok!” Selalu begitu. Sopo tak pernah tuntas dalam menjelaskan segala sesuatu. Ia ingin teman-temannya ikut berpikir, karena ia sendiri belum tentu tahu apa yang ia omongkan.

“Kata pepatah; malu bertanya sesat di jalan,” Marijos menyanggah.

“Pepatahe kui lagi mendem pas ngucapke kalimat kui. Yang benar itu, malu belajar menyesatkan pikiran! Itu yang betul,” jawaban yang sarat pembelaan Sopo. “Sudahlah, yang penting, saya mohon Wak Kades bersedia membagikan ini kepada seluruh pemuda kampung! Jangan biarkan mencuri korek menjadi budaya di tongkrongan, karena hal itu dapat mengotori kesucian kopi beserta tongkrongannya. Kalau ada yang menaganggap wajar kui wong gendeng! Sakitnya kehilangan korek itu melebihi sakitnya dijajah saudara sendiri!”

Hari itu, Wak Kades beserta perangkatnya, Marijos, Marbot, dan Marno mengetuk setiap rumah dan membagikan korek-korek hutangan dari toko Wak Kaji Damri. Malamnya, mereka kembali berkumpul untuk menyusun RUU Perkorek Apian. “Indonesia harus bersih dari segala tindak pencurian, termasuk pencurian korek yang sudah dianggap budaya!”

(Visited 375 times, 2 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Ragam