Akhir pekan kemarin saya baru saja menonton film di bioskop. Awalnya, saya sempat malas ketika melihat daftar tayang film yang ada. Tidak ada film menarik, batin saya. Tapi daripada kedatangan ke bioskop ini sia-sia, akhirnya dengan terpaksa saya memilih film Negeri Van Oranje sebagai tontonan penutup akhir tahun 2105. Meski dalam benak menggerutu, lagi-lagi film roman picisan yang menjadi barang jualan akhir tahun.

Selesai nonton, meski masih kurang puas, saya jadi tergerak untuk menulis ini. Tentu saya tidak akan membicarakan konten film maupun kritik terhadapnya, kalau mau nulis begitu di Cinema Poetica saja. Itu pun kalau diterima.

Sebenarnya, menurut saya, film ini cukup recommended untuk ditonton anak bangsa. Bukan apa-apa, ada satu hal yang yang membuat saya mau membantu promosi film ini, yaitu hadirnya rokok kretek dalam beberapa scene adegannya.

Film ini dimulai dengan pertemuan lima mahasiswa (empat laki-laki, satu perempuan) Indonesia yang sedang kuliah di Belanda. Mereka secara tak sengaja bertemu di sebuah kota ketika sama-sama sedang menunggu bis. Menariknya adalah mereka berkenalan karena satu alasan, yaitu sama-sama menghisap rokok kretek.

Tak dapat dipungkiri memang local culture merupakan identitas kebangsaan, sehingga ketika identitas ini muncul, rasa persatuan dan kesatuan terhadap sesama bangsa akan lahir. Film yang disadur dari karya novel Negeri Van Oranje karangan Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, dan Rizki Pandu Permana ini membuka alur pertama naskahnya dengan pertemuan yang natural, yakni sense nalar kebangsaan mempertemukan para karakter.

Apakah kretek merupakan identitas kebangsaan? Mungkin masih banyak yang berdebat ketika pertanyaan itu dilontarkan. Dan satu hal yang menarik dari perdebatan tersebut, tak ada hal yang ilmiah dan substantif. Pada akhirnya informasi yang didapat pun sepotong-sepotong dan tidak mencerdaskan. Maka lewat film ini marilah kita menganalisanya dari sudut pandang ilmiah berdasarkan referensi yang telah ada, sehingga kita mendapatkan informasi yang mencerdaskan.

Pertama, kenapa bisa disebut kretek. Penamaan “kretek” diambil dari bunyi reaksi cengkeh dalam rokok saat dibakar. Pada awalnya dalam bahasa Jawa disebut “kumretek” atau “keretek”. Kandungan rokok kretek dapat terdiri dari belasan jenis tembakau yang ada di pelosok Indonesia. Hadji Jamhari dikenal sebagai penemu kretek, sedangkan Nitisemito merupakan pengembang industri kretek.

Seorang peneliti barat Mark Hanusz dalam buku karyanya yang meneliti soal kretek, mengatakan bahwa Haji Jamhari yang tinggal di daerah Kudus merupakan orang pertama yang menghasilkan rokok kretek sebelum akhir abad ke-19. Lalu, produksi massal dari rokok kretek mulai dikembangkan oleh Nitisemito yang juga warga Kudus setelah meninggalnya Haji Jamhari. Hingga kemudian produksi massal rokok kretek tersebut menjadi inspirasi bagi pengusaha rokok kretek lain hingga pertengahan abad ke-20.

Secara historis, memang asal-muasal kretek berasal dari bumi Nusantara. Kedua, kretek adalah bagian kebudayaan. Untuk memahami hal ini, kita bisa memulai bahasannya dari pengertian kebudayaan menurut Koentjaraningrat adalah hasil dari cipta, rasa dan karsa manusia.

Jika Haji Jamhari menemukan kretek dari hasil racikannya terhadap tembakau, cengkeh, kapulaga dan beberapa rempah-rempah lainnya yang kemudian ia linting dan hisap, maka kita dapat mengatakan bahwa kretek adalah hasil dari cipta, rasa dan karsa seorang Haji Jamhari.

Kembali lagi kepada identitas kebangsaan, sudah barang tentu jika melihat dari sudut historis-kebudayaan, kretek adalah bagian daripada bangsa Indonesia. Sama halnya dengan produk-produk kebudayaan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai unsur seperti kuliner, seni, sastra, dll. Dapat dikatakan seperti itu karena produk ini lahir dari karakter kejiwaan dan naluri alamiah bangsa Indonesia, yang ditempa oleh ruang dan waktu yang sering kali oleh Soekarno disebut sebagai berkepribadian dalam kebudayaan.

Jadi ketika menonton film Negeri Van Oranje, hal yang sangat rasional terjadi ketika pertemuan awal adalah persinggungan emosional dan sikap kebangsaan para mahasiswa perantau di Belanda diketemukan melalui menghisap kretek. Dalam studi nation state almarhum Prof. Benedict Anderson, sikap kebangsaan itulah yang mengimajikan bahwa aku, anda, dan kita berbeda dengan anda yang lainnya. Dalam hal ini kretek dipakai sebagai produk sentimentil kebangsaan bagi para mahasiswa di film Negeri Van Oranje.

Sebenarnya banyak hal yang dapat digunakan sebagai produk identitas kebangsaan, seperti macam-macam kuliner, seni-budaya, bahasa, dan hal-hal yang lainnya. Bisa saja kuliner dodol, rendang atau pementasan wayang menjadi media bagi persinggungan sikap kebangsaan di film ini, namun pemilihan media tersebut dalam konteks “sedang menunggu” hal yang paling pas menjadi medium adalah menghisap kretek. Di Indonesia istilah ngudud atau menghisap kretek sangat lumrah dilakukan ketika situasi dan momentum “sedang menunggu”. Saya pikir sang sutradara sepertinya terlebih dahulu melakukan kajian antropologi budaya dan analisis kretek sebagai warisan budaya bangsa.

Maka makna kretek yang bisa diambil dari film Negeri Van Oranje adalah dimanapun dan betapapun jauhnya perantau Indonesia berada, laku, dan sikap kebangsaan akan hadir ketika identitas kebangsaan itu dihadirkan. Satu hal yang harus sama-sama kita ingat, menghisap kretek adalah hal yang paling nikmat untuk menunjukan bahwa kita adalah orang Indonesia apalagi di negeri orang.