Linting Terus, Nek…

Perempuan paruh baya dengan tangan kiri menenteng kresek hitam tiba-tiba menghampiri saya. Keriput sudah terlihat di hampir seluruh tubuhnya. Rambutnya memutih, matanya tajam menatap saya. Dari jarak selencang tangan, perempuan itu tersenyum. Mengulurkan tangan kanannya. Segera saya sambut. Kami bertukar senyum. Buru-buru, kamera digital saya matikan.

Usianya, saya taksir di atas 80 tahun. Dia mengajak saya duduk di teras rumah milik Donatus, anggota TNI AD yang bertugas sebagai Babinsa di Desa Caokng. Dengan penuh khitmad, perempuan yang mengaku pernah ikut terlibat konflik antar suku tahun 1977 itu mengeluarkan – semacam daun-daunan – dan selembar kertas.

Selembar kertas tipis, buram diletakkan di pangkuan. Tangan kirinya dengan cepat mengambil beberapa daun dari kresek hitam yang diletakkan di samping paha kirinya. “Mau kirai, nak?” tanya bawin Dayak itu. Kirai adalah sebutan untuk rokok dalam bahasa Dayak. “terimakasih nek, saya tidak merokok” jawab saya.

“Maaf ya, nak. Tidak apa-apa kan saya merokok?” Lanjutnya.
“Iya ndak apa-apa nek”.

Saya melihat dengan takzim bagaimana bawin Dayak itu meletakkan tembakau di atas selembar kertas tipis. Matanya tajam melihat ke sekeliling teras rumah Donatus. Tangannya begitu terampil. Butuh keahlian dan pengalaman. Saya yakin, bawin Dayak di sebelah kiri saya ini merokok lebih dari puluhan tahun.

“Saya merokok sejak kecil,” ungkapnya. Saya tertegun dan takjub. sudah teruji benar rupanya. tak salah tafsiran saya.

Lintingan Kirai sudah siap. tangan kanan mengambil korek api dari dalam kresek hitam. Kemudian api kecil itu membakar kertas berisi daun tembakau. Bau asapnya tak asing bagi hidung saya. Silam, kakek yang alumni pondok pesantren Tebu Ireng, pun melakukan hal yang sama. Melinting tembakau dan membakarnya.

Bawin Dayak itu lantas bercerita tentang awal mula melinting tembakau. Ia adalah salah seorang Balian. Balian adalah seseorang yang bertugas sebagai mediator dan komunikator antara manusia dan makhluk yang keberadaannya tidak dapat dilihat dengan mata jasmani.

Balian menyampaikan permohonan dari manusia kepada Ranying Hatalla (Yang Maha Kuasa) dengan perantara ruh yang telah menerima tugas khusus dari Ranying Hatalla untuk mengayomi manusia. Tidak semua orang dapat dipilih menjadi Balian, hanya orang-orang tertentu saja, yang mempunyai keistimewaan saja.

Asap mengepul di sekitar kami. Hampir setiap hari, menurut bawin Dayak itu, dirinya habis satu bungkus daun-daun yang disulap jadi kirai. Desa Caokng, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat secara geografis memang terisolir. Provider tak masuk ke desa yang kini sedang berjuang melawan ekspansi perusahaan sawit itu. Jauh dari mana-mana, memang. Tiga jam dari Kota Singkawang. Dua jam dari pusat Kabupaten Landak.

Jika daun-daun itu habis, bawin dayak ini kerap menitipkan berlembar-lembar uang kepada cucunya yang kerap pergi ke Kota Singkawang, untuk membeli tembakau. Meski di Singkawang atau di sekitar Desa Caokng tidak ada kebun tembakau, jumlah perokok di sini tidaklah sesulit mencari jarum di tumpukan jerami.

Rokok, di sini, sudah bukan lagi gaya hidup. Rokok telah menjadi tradisi yang mengajari hidup mereka. Bukan semata gaya-gayaan saja. Bukan. Merokok sudah jadi bagian hidup para Balian.

“Kalau tidak sambil merokok, ada yang masih kurang saat ritual,” ucapnya, kemudian terkekeh. Asap makin tebal. Desa Caokng makin gelap.

Kirai di tangan kirinya hampir menyentuh jari telunjuk dan ibu jarinya. Buru-buru dipadamkan. Kemudian menyeruput secangkir kopi yang sudah disajikan Donatus. Sekilas, giginya nampak putih bersih dan masih kuat.

Hari beranjak gelap. Tangan kiri bawin Dayak itu – sekali lagi – membuka kresek hitam. Menyusun lembar-lembar tembakaunya di atas kertas buram tipis di pangkuan. Menyalakan api. Sekali lagi, asap mengepul.

“Saya ingin ke Jawa. Katanya di sana tembakaunya enak-enak,” tanya bawin dayak itu. Saya tersenyum dan mengiyakan.

(Visited 372 times, 1 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Ragam