tembakau-sebagai-obat

Orang sekarang boleh bilang merokok itu lebih banyak ruginya ketimbang makan junk food. Orang boleh saja bilang beli rokok cuma bikin makmur pabrik rokok belaka. Tapi, bagi Luthfi Reza, seorang seniman otomotif yang sehari-hari bekerja merancang bangun serta mengkreasikan motor rakitan di Tangerang Selatan, malah berpandangan sebaliknya. Justru tembakau yang ada pada rokok pernah menjadi penyelamat sakit giginya. “Bukan satu-dua obat generik gue coba, tetep aja lobang gigi gue nyut-nyutan,” ungkapnya.

Bagi sebagian orang mungkin hal ini bukan lagi pengetahuan baru, bahwa nikotin yang terkandung pada tembakau memiliki manfaat yang tidak sedikit. Bahkan, pada kurun waktu lalu sempat ditemukan satu formulasi oleh seorang ilmuwan; menjadi obat pengentas virus ebola. Tidak hanya penyakit semacam itu, penyait parkinson pun mampu disembuhkan menggunakan tembakau.

Itulah sebabnya kenapa industri farmasi sangat tergiur untuk memonopoli nilai manfaat dan keuntungan yang dikandung pada tembakau terkait paten terhadap nikotin. Persekutuan industri tersebut berpayah-payah menempuh siasat dengan membiayai World Health Organization (WHO) untuk menggolkan traktat Framework Convention on Tobacco Control (FCTC).

Sebetulnya apa yang dilakukan Lutfhi dalam upaya menyembuhkan sakit giginya hanyalah sekelumit info yang berhasil diakses lewat mbah Google. Hanya sebuah petikan, bahwa ‘tembakau mampu menyembuhkan sakit gigi’. Sementara terkait bagaimana cara mengolahnya sama sekali ia tidak mendapat keterangan yang lebih memadai.

Bukan seniman namanya jika ia gampang mati akal, salah satu cara sederhana yang dilakukannya yakni dengan memasak air sampai mendidih, lalu mencemplungkan tembakau yang sudah disiapkannya. Kemudian dia menyaring tembakau tersebut beberapa kali, untuk kemudian hanya diambil airnya yang sudah kuning nikotin itu. Setelah dirasa tepat waktunya untuk dikonsumsi, segera air nikotin itu dipakai untuk kumur-kumur beberapa kali. “Ya… Perih sebentar kayak gigi dicabut gitu, udahannya sih plong. Ini sampai sekarang nggak ada lagi nyut-nyutan,” paparnya sambil menunjukkan lobang gigi gerahamnya.

Dari pengalaman Luthfi tersebut, coba kita bandingkan apa ada unsur pada junk food yang bisa digunakan pada saat darurat untuk menyembuhkan, sebut saja sakit gigi, atau mungkin sariawan. Jika disebut-sebut ruginya terhadap kesehatan, apakah yang tidak merokok dan gemar konsumsi junk food, tidak teranacam sakit gigi? Sakit yang lebih parah dari itu, misalnya obesitas? Atau sedikitnya gangguan tenggrokan dan pencernaan?

Jadi, jika ada sekelompok orang yang bilang rokok adalah sumber dari segala penyakit, tak salah jika saya tuding akal sehat mereka sudah berpindah letak; tidak lagi berhuni di kepala. Di situlah salah satu bahayanya makan junk food. Dapat mengacam akal sehat. Bahkan lebih jauh, lupa ‘akar’ punya andil.