Ladang Petani Tembakau
Opini

Anak Petani Tembakau Rentan Penyakit?

Kadang saya mengira betapa beratnya menjadi anak petani tembakau. Sudah dianggap susah, dipaksa bekerja oleh bapaknnya, kini mereka dianggap lebih rentan sakit pula. Padahal, dengan membantu orang tuanya bekerja di ladang, daya tahan tubuh mereka kemudian terbangun. Perkara penyakit justru adalah hal yang jarang terjadi pada mereka.

Karena itu, hasil kajian Muhammadiyah Tobacco Control Center Universitas Muhammadiyah Magelang adalah hal yang keliru. Pada kajiannya, mereka menyatakan jika anak petani tembakau termasuk golongan anak yang rentan terhadap penyakit. Selain karena sebagian mereka merokok, mereka juga dianggap terpapar dari pertanian tembakau yang membuat orang mudah sakit.

Hal ini jelas merupakan sebuah penghinaan bagi petani mbako dan juga anaknya. Bagi mereka, merokok bukanlah perkara yang berkaitan dengan penyakit. Toh mereka tetap merokok bahkan ketika bekerja keras di ladang. Hal ini bahkan belum tentu bisa dilakukan orang yang tidak merokok, karena bekerja di ladang itu berat, tak semua orang sanggup.

Meski begitu para petani tetap mampu bekerja di ladang walau merokok. Pun terkait asumsi paparan pertanian tembakau. Jika memang tembakau sebagai tanaman membawa penyakit, harusnya para petani di temanggung sudah punah. Karena rerata mereka adalah petani tembakau, dan harusnya mereka sakit berat karena terpapar pertanian tembakau.

Baca Juga:  Alasan Pasal Larangan Iklan Rokok di Televisi Harus Ditolak

Nyatanya, hingga saat ini mayoritas masyarakat Temanggung masih menjadi petani tembakau. Dan mereka tetap sehat beserta keluarganya yang juga hidup di lingkungan pertanian. Asumsi ladang tembakau membawa penyakit jelas terlalu mengada-ada untuk dipropagandakan.

Begini, jika mau benar-benar mengkaji, justru anak-anak yang membantu orang tua mereka di ladang bisa memiliki kesehatan yang lebih baik dari anak-anak lainnnya. Soalnya tubuh mereka telah dilatih dengan kerja fisik, hal yang bahkan lebih melelahkan ketimbang olahraga. Dan coba ajak anak petani tembakau adu lari, orang kota sih saya yakin belum tentu bisa menang.

Jika ada yang mengatakan hal buruk pada anak petani tembakau, mungkin mereka tak pernah menonton film Warkop DKI dengan judul Gengsi Dong. Pada film tersebut, diceritakan seorang anak desa bernama Slamet yang diperankan Wahyu Sardono, yang berkuliah di Jakarta. Selamet yang kerap diejek temannya tak terima disebut miskin, karena dia adalah seorang anak petani.

Ya begitulah kemudian narasi pada film tersebut dibangun. Selamet yang meski dari desa, adalah seorang yang kaya karena bapaknya petani tembakau. Satu ketika, bapaknya naik pitam dan berkata ““Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.”

Baca Juga:  Bagaimana Negara Tanpa Pemasukan Cukai Rokok?

Narasi yang ada di film ini tentu berbeda dengan narasi yang kerap dibangun oleh kelompok antirokok. Soalnya, biasanya petani mbako dinarasikan sebagai orang miskin. Padahal, di film dan di kehidupan nyata, petani tembakau jelas merupakan kasta petani yang penghasilannya tergolong paling tinggi.

Kalau pun harus sakit, ya petani tembakau sanggup mengobati anaknya dengan mudah. Selain karena desa mereka punya kas besar dari hasil pertanian tembakau, mereka juga punya uang. Jadi santai saja menghadapi narasi buruk yang kerap ditimpakan pada mereka.

Penulis di Komunitas Kretek