Search
tembakau srintil

Mengenal Anatomi Tembakau Srintil 

Lamuklegok. Dari dusun inilah lahir salah satu jenis tembakau berkualitas terbaik karena mengandung nikotin yang sangat tinggi bernama tembakau Srintil. Varietas tembakau Srintil adalah jenis tembakau Kemloko. Namun tidak semua jenis tembakau Kemloko bisa menjadi Srintil. Sebab, proses terjadinya tembakau Srintil ada kuasa alam dan keberuntungan. Seluruh petani tembakau sangat mengimpikan Srintil di Dusun Lamuk legok karena harganya yang fantastis. Pada musim panen tahun 2021, harga tembakau Srintil milik Mbah Prayit, warga Dusun lamuklegok, mencapai 1,5 juta per kilogramnya.

Asal Mula Tembakau Srintil di Lamuklegok

Berdasarkan cerita tutur yang beredar di tengah masyarakat, Dusun Lamuklegok konon sudah ada sejak berakhirnya masa kejayaan Raja Brawijaya ke-5 di Kerajaan Majapahit. Pada masa itu, ada seorang mantan petinggi Majapahit yang bernama Noto Yudho yang bersemedi di lereng gunung Sumbing. Dalam puncak semedinya, mantan pejabat tinggi Majapahit itu moksa. Namun sebelum moksa, Noto Yudho, dalam semedinya melihat sebuah tempat yang samar, atau dalam bahasa Jawa berarti Nglamat. Tempat moksanya Noto Yudho inilah cikal bakal nama Lamuk atau Nglamuk.

asal tembakau srintil

Sepeninggal Noto Yudho, para pengawalnya kemudian melanjutkan babat alas dan mendirikan pemukiman. Oleh karena berada di sebuah ceruk kontur lereng Sumbing, lokasi pemukiman para pengawal Noto Yudho ini kelak disebut dengan Desa Legoksari. 

Di Desa Legoksari ini pula muncul seorang tokoh keturunan Tionghoa yang menjadi murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga bernama Ma Kuw Kwan. Beliau lah yang dipercaya oleh warga sebagai tokoh yang pertama kali mengenalkan tanaman tembakau untuk warga Desa Lamuklegok. Sebagai murid para wali, Ma Kuw Kwan tidak hanya belajar ilmu agama, melainkan juga belajar ilmu pertanian. 

Pada suatu hari, Ma Kuw Kwan mendapat tugas dari Sunan Kalijaga untuk menyebarkan agama Islam dan mengajarkan soal pertanian pada masyarakat di wilayah Kudus. Tugas yang diemban dari Sunan Kalijaga dikerjakan dengan sangat baik oleh Ma Kuw Kwan, dan oleh Sunan Kalijaga dianggap berhasil. Sunan Kudus yang mendengar keberhasilan Ma Kuw Kwan lalu mengutus seorang muridnya yang lain bernama Bramanthi. Sambil membawa tiga jenis bibit dari Sunan Kudus, kemudian menemui Ma Kuw Kwan dan memberikan ketiga jenis bibit amanah dari Sunan Kudus. Ketiga bibit itu ialah, bibit padi cempa, bibit padi rajalele, dan bibit yang kelak dikenal sebagai tembakau. 

Ilmu pertanian yang diajarkan oleh Ma Kuw Kwan pada masyarakat di wilayah itu makin berkembang luas dan hasil pertaniannya berhasil dengan baik. Sejak itulah Ma Kuw Kwan dikenal sebagai Ki Ageng Makukuhan.  

Pertemuan Ki Ageng Makukuhan dengan Sunan Kudus

Masih berdasarkan cerita lisan warga, sejak menyandang nama baru, Ki Ageng Makukuhan sering didatangi warga sekitar yang sedang sakit untuk meminta kesembuhan. Hingga pada suatu hari Ki Ageng Makukuhan didatangi oleh seorang warga yang lumpuh kakinya dan minta diobati oleh Ki Ageng Makukuhan. 

Saat itu, Ki Ageng Makukuhan memegang setangkai daun dari tumbuhan tak bernama. Dengan daun itu Ki Ageng Makukuhan menyabet kaki si sakit yang lumpuh kakinya sambil berkata: “Iki tambaku.” Sambil mengucapkan itu tangan Ki Ageng Makukuhan menyabet-nyabetkan daun tak bernama itu ke kaki yang lumpuh sehingga kakinya bisa sembuh dan bisa berjalan lagi. Kata-kata yang diucapkan berkali-kali sambil menyabetkan daun itu akhirnya menjadi nama daun yang sebelumnya tidak bernama dengan nama tambaku. Dari kalimat Ki Ageng Makukuhan inilah asal usul kata tembakau yang kemudian diucapkan warga menjadi Mbako.

Sementara nama Lamuklegok sendiri tercipta juga dari folklore atas kesaktian Sunan Kudus. Hal itu bermula ketika Ki Ageng Makukuhan berkeluh kesah pada Sunan Kudus bahwa masyarakat lebih memilih menanam padi dibandingkan dengan menanam tembakau. 

Mendengar keluhan Ki Ageng Makukuhan, Sunan Kudus lantas melemparkan rigen (alat untuk menjemur rajangan tembakau) sambil berkata: “Nek kowe arep miara godhong ‘tambaku’ sing piguna kanggo wargamu, tutna lakune idig kiye mengko tibane nang ngendi. Kui panggonan sing bakal metu tanduran godhong ‘tambaku’ sing apik.” Kalimat itu artinya “Jika kamu hendak menanam daun “tambaku” yang berguna buat masyarakatmu, ikutilah jalannya rigen ini nantinya jatuh di mana. Itulah tempat di mana akan muncul tanaman tembakau yang paling baik”)

Rigen yang dilemparkan Sunan Kudus itu diyakini jatuh di Lamuk. Tanah tempat rigen itu jatuh jadi amblas membentuk cekungan yang dalam Bahasa Jawa berarti legok. Wilayah yang legok inilah yang kelak bernama Lamuklegok dan sekarang disebut sebagai Dusun Lamuklegok. Dari kisah folklore Sunan Kudus itulah cikal tembakau Srintil muncul di Dusun Lamuklegok. Sehingga Srintil di Dusun Lamuklegok tercipta tidak hanya berasal dari perpaduan pengetahuan lokal dan olah budidaya warga petani lamuklegok saja, melainkan juga dari anugerah alam yang ada di lereng Sumbing.

Tembakau Srintil = Tembakau Pulung

Banyak orang yang kemudian bilang bahwa tembakau Srintil merupakan tembakau Pulung. Tembakau yang menjadi simbol kebahagiaan dan keberuntungan. Karena harga tembakau Srintil yang mahal. Maka petani di Dusun lamuklegok yang mendapat pulung tembakau Srintil akan merasa beruntung dan bahagia. 

Daya dukung alam dan kondisi alam di lereng Sumbing memang menjadi anegrah dan berkah bagi Dusun Lamuklegok yang terletak pada ketinggian antara 800-1000 mdpl di lereng sebelah Timur gunung Sumbing. Dusun ini masuk wilayah Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung. 

tembakau srintil

Hingga saat ini, Dusun Lamuklegok dikenal sebagai penghasil tembakau srintil terbaik di seluruh Temanggung. Sebenarnya selain Lamuklegok, ada beberapa Desa lain yang juga bisa menghasilkan tembakau Srintil seperti Desa Tlilir, Desa Wonosari, Desa Losari, Desa Pagergunung, Desa Pagersari, Desa Wonotirto, Desa Banaran, Desa Bansari, Desa Gedegan, Desa Kemloko dan Desa Gandu.

Jika Anda ingin berkunjung ke sini, saat panen persiapkan saja dulu sepeda motormu karena jalan menuju Lamuklegok tak ada yang rata. Jalanan akan menanjak terus sampai lereng bagian atas perkampungan warga.

Mbakon di Lamuklegok

Sejak tahun 2015 saya sering bolak balik dari Jogja ke Dusun Lamuklegok saat Mbakon, atau musim panen tembakau. Tentu saja sambil silaturahmi dengan warga kampung sini. Terutama keluarga Mbah Noto, bapaknya teman saya yang bernama Sangit.

Terakhir saya ke Lamuklegok pada akhir Agustus tahun 2021, menjelang musim panen yang biasanya dilakukan pada awal September. Pada saat itu suasana jalan dan rumah-rumah yang saya lewati terlihat ramai lalulalang orang naik turun lereng sambil membawa hasil petik. Di sepanjang jalan Dusun pada tepi jalan terhampar juga beberapa rigen berisi rajangan tembakau yang sedang dijemur. Warganya yang lelaki naik ke lereng gunung, panen tembakau. Sedangkan yang perempuan dan sebagian simbah-simbah dan dibantu oleh kerabat dekat berada di atap rumah menjemur dan membalik rigen tembakau. Rumah-rumah warga Dusun Lamuklegok memang berbentuk loteng karena difungsikan juga sebagai tempat menjemur tembakau. 

Setiap kali saya ke sini, tujuan saya memang untuk melihat suasana panen tembakau. Selain tentu saja untuk bertemu dengan Sangit dan Mas Topo. Warga Dusun Lamuklegok yang juga petani tembakau. 

Dan setiap kali saya ke Dusun Lamuklegok, saya selalu menginap di rumahnya Sangit. Letak rumahnya berada persis di pojokan usai tikungan di jalanan menanjak, pada lereng menjelang Dusun Lamuklegok. Rumah Sangit berada di sebelah kiri jalan masuk Dusun. Sebagai penanda, halaman depan rumahnya terdapat para-para untuk menumpangkan rigen yang berisi rajangan tembakau untuk dijemur.

Baca Juga:  Dji Sam Soe Premium, Rokok Mewah dan Elegan

Saat itu, Sangit, lelaki muda yang sudah punya dua anak ini menyambut saya dengan hangat. Juga kedua orang tuanya, Mbah Noto dan istri, juga kedua anak dan istri Sangit. Saya dan keluarga Sangit sudah seperti saudara. Jika “Mbakon” istilah warga Lamuk menyebut masa musim panen, semua keluarga berkumpul untuk mengerjakan hasil panen sepanjang hari hingga malam. Mereka biasanya tidur pada pukul 20.00 wib lalu bangun lagi pada jam 2.00 wib pagi. Yang lelaki merajang daun tembakau, sedangkan yang perempuan dan kerabat lainnya nganjang— menata hasil rajangan daun tembakau di atas rigen lalu menjemurnya saat pagi terang tanah. 

Seluruh Anggota Keluarga Ikut Mbakon

Selama Mbakon, semua anggota keluarga dan kerabat dekat yang membantu sudah hafal dengan tugasnya masing-masing. Sejak pagi para lelaki biasanya sudah ke lereng gunung untuk memetik. Lalu sesampainya di rumah sudah ada yang bertugas memilih, dan memilah dan menggulung daun tembakau sebelum diimbu, juga merajang dan nganjang di atas rigen. 

Setiap kali saya datang ke Lamuklegok, Sangit biasanya akan menyambut saya di depan pintu rumah bersama Mbah Noto dan istri. Biasanya, saat saya sudah berada di ruang tamu, yang tiap sudutnya terdapat gulungan daun tembakau yang barusan dipetik, di atas meja ruang tamu sudah ada suguhan segelas kopi yang sedap dan penganan khas Lamuk yakni rengginang yang rasanya gurih. 

“Iki kopi teka ladang,” kata Sangit, menjelaskan asal kopinya.

“Nandur dewe?” tanya saya.

“Ya, tanduran sela, ben ra tandus lemahe,” jawabnya.

Sebagian warga memang menanam kopi di antara tanaman tembakau. Tapi tidak banyak. Selain tembakau, beberapa lokasi sentra tembakau di Temanggung juga dikenal sebagai penghasil kopi yang sedap. Namun fokus pertanian warga Dusun Lamuklegok tetaplah pada pertanian tembakau. Kopi hanya samben, untuk dinikmati sendiri, tidak dijual. 

Usai ngobrol di ruang tamu dan kopi dalam gelas tandas, biasanya Sangit langsung mengajak saya untuk ke ladang. Saya mengikuti saja ke mana Sangit bergerak mengendarai sepeda motornya yang lawas tapi tetap teges itu. Kami naik dengan tarikan gas kencang karena jalan menuju ladang tembakau menanjak menuju lereng gunung Sumbing.

Untungnya jalan Dusun Lamuklegok halus dan mulus, sehingga saat motor saya meliuk menembus lorong di antara rumah-rumah warga yang padat. Sepeda motor yang saya naiki dapat bermanuver dengan lincah melewati gang dan Lorong rumah warga.  

Sambil naik motor saya sempat melihat kiri dan kanan jalan rumah penduduk yang atapnya dipenuhi rigen jemuran tembakau. Kami naik terus semakin ke atas sambil berkelok di jalan berbatu tapi rata itu. sampai tidak ada lagi rumah-rumah penduduk. Hanya tanaman tembakau di kiri dan kanan jalan.

Sesampai di lereng bagian atas yang tebingnya agak berundak, kami berhenti di jalan berbatu putih yang kanan kirinya dipenuhi tanaman tembakau. Dari tempat saya memarkirkan motor terlihat lanskap yang luas yang semuanya tanaman tembakau. Saat saya mendongak ke arah puncak gunung Sumbing, juga dipenuhi hamparan tanaman tembakau yang melandai mengikuti kontur lereng Sumbing.

Tanaman tembakau yang sudah siap dipetik. Sejauh mata memandang hanya hamparan tanaman tembakau. Saat itu suhu berkisar antara 18-29 C. Lumayan dingin karena semilir angin yang menerpa tubuh terasa keras. 

Tembakau Kemloko

Musim panen adalah musim yang sangat membahagiakan bagi warga Dusun Lamuklegok. Sebab, suasana lereng gunung Sumbing itu dipenuhi para petani yang memetik tembakau. Ada yang memakai pick up kecil untuk mengangkut hasil petik. Ada juga yang memikul dengan keranjang. Tidak sedikit juga yang mengangkut hasil panenannya dengan sepeda motor.

Tembakau yang ditanam di Dusun Lamuklegok adalah varietas Kemloko. Ada banyak jenis kemloko namun yang ditanam di Lamuklegok biasanya jenis Kemloko 1,2, 3, dan kemloko 5. Selain kuat dan tahan penyakit, Kemloko yang ditanam di Lamuklegok juga bisa menghasilkan jenis tembakau grade tinggi. Jika ada pulung atau beruntung, bisa menjadi tembakau Srintil.

tembakau kemloko

Menurut Sangit ada banyak jenis tembakau asli Temanggung. Saking banyaknya dia sampai tidak hafal. Yang dia ingat di antaranya ialah, jenis Gober, Mantili, dan Sempurna yang biasanya ditanam di dataran rendah. Namun dari sekian banyak jenis tembakau asli Temanggung, yang terbaik untuk Dusun Lamuk legok tetaplah jenis Kemloko. 

“Iki jenis Kemloko 3,” kata Sangit menjelaskan, sambil memegang sebatang tanaman tembakau. “Usianya antara 5-6 bulan. Akhir bulan Maret lalu mulai ditanam.” 

Batang Kemloko

Saya mendekati deretan tanaman tembakau yang terletak di lereng itu. Ketinggian pohonnya kira-kira 100-180 cm. Tanaman tembakau mempunyai akar tunggang. Namun mempunyai akar serabut pada leher akar, yang kadang akar serabut itu naik ke permukaan tanah menuju bagian bawah batang tanaman. Sehingga saat kita melihat sebatang pohon tembakau kita juga bisa melihat pada bagian bawahnya ada akar serabut yang menyembul dari bawah batang di atas permukaan tanah.

Batangnya berdiri tegak berwarna hijau tua. Batangnya berbulu halus. Bentuk tanamannya mengerucut ke atas. Sehingga bentuk tanaman bagian atas lebih kecil dibandingkan bagian bawahnya. 

Daun Kemloko

Daunnya tunggal tidak bercabang. Lebar daunnya lebih kecil jika dibandingkan dengan jenis Gober, Mantili, maupun Sempurna. Tiap daun tumbuh bertangkai menempel pada batang. Daun-daun pada bagian bawah lebih besar dibandingkan dengan daun yang terletak pada bagian atasnya sehingga tenaman tembakau terlihat mengerucut ke atas. Bentuk daunnya lonjong. Permukaan lembar daunnya berbulu halus. Daun-daun itu muncul dari batang kanan dan kiri batang secara teratur. Jika dilihat dari depan, daun-daun pada batang itu seperti bertelinga. Telinga yang seperti sayap mengecil dan mengerucut ke pucuk batang. 

Grade Tembakau Kemloko

Lebih lanjut Sangit menjelaskan, pada musim panen tembakau yang siap dipetik daunnya haruslah berjumlah antara 18 sampai 22 lembar daun dalam satu batang. Jika musimnya baik, daun tembakau ke 8 dari tangkai bawah sampai atas bakal menghasilkan tembakau berkualitas baik. Bahkan bisa mencapai grade F. Jika beruntung malah bisa jadi Srintil.

Dari jenis Kemloko 1, 2, 3, 4, 5, 6 hingga Kemloko 10 akan menghasilkan grade atau nilai kualitas tembakau yang berbeda-beda. Seperti daun grade A biasanya tembakau masih berwarna hijau saat dipetik. Grade B daun tembakau yang dipetik berwarna hijau kekuning. Tembakau grade A dan grade B pada bagian paling bawah biasanya dijadikan lembutan untuk tembakau tingwe pada awal panen. Namun rasanya masih juga rada keras bagi yang tidak terbiasa mengisap tembakau tingwe Temanggung.

Sedangkan grade C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi grade-nya maka kualitas dan aroma tembakau akan semakin baik. Seperti grade D yang warnanya dominan kemerahan bercampur dengan daun yang kekuningan. Tembakau grade E daunnya didominasi warna agak kehitaman dan bercampur dengan warna agak kemerahan. Sementara grade F warna daunnya dominan kehitaman.

Grade terbaik daun tembakau tentu saja ada pada urutan grade G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap. Perbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma dari tembakau akan semakin keras. Jenis ini yang biasanya disebut juga sebagai Srintil. Tetapi untuk mencapai Srintil harus ada proses lagi yang panjang termasuk dukungan penuh cuaca, juga keberuntungan.

Baca Juga:  Ragam Respon Gambar Peringatan Bungkus Rokok

Meskipun daun tembakau banyak grade-nya, yang bisa ditengarai dengan ciri khas aromanya, namun tembakau bawah seperti grade A bisa saja berubah menjadi grade D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar yaitu tanpa menggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.

Untuk mengenal lebih jauh tembakau grade tertinggi atau tembakau Srintil, Sangit mengajak saya bertemu dengan Sutopo. Selanjutnya saya akan memanggilnya dengan Mas Topo.

Penjaga Budaya Dusun Lamuk Legok

Nama lengkapnya Lukman Sutopo. Dia merupakan Kepala Dusun Lamuklegok, juga berprofesi sebagai seorang dalang. Rumah Mas Topo berada paling tinggi di lereng Sumbing dibandingkan dengan rumah-rumah warga lain di Dusun Lamuklegok. Sehingga saat saya dan Sangit duduk di atas loteng rumahnya yang juga menjadi tempat menjemur rajangan tembakau, akan terlihat atap-atap rumah penduduk yang di atasnya juga dijadikan sebagai tempat menjemur tembakau.

Mas Topo muncul ke atas loteng dengan tersenyum. Badannya agak tinggi. Kepalanya memakai udeng atau ikat kepala bermotif Wahyu Tumurun. Sebenarnya, saya sudah lama mendengar namanya. Karena setiap media menulis tentang tembakau Srintil di Dusun Lamuklegok selalu saja namanya yang muncul. Posisi dan kedudukannya yang menjadi Kepala Dusun Lemuklegok membuat Mas Topo seperti merangkap sebagai juru bicara warga Lamuklegok. Terutama apabila ada jurnalis yang ingin mengetahui lebih banyak tentang tembakau dan kebudayaan warga Dusun lamuklegok. 

Tak berapa lama dari kemunculan Mas Topo, datang seorang perempuan membawa nampan berisi tiga gelas kopi. Jadilah siang menjelang sore itu sangat syahdu. Di antara kepulan asap rokok ada kopi sebagai teman ngobrol. Saya melihat Mas Topo mengeluarkan bungkusan plastik berisi tembakau tingwe. Tembakaunya tentu tembakau lembutan yang ditanam sendiri. Kata Sangit, yang disebut tembakau lembutan adalah tembakau grade A dan B pada bagian bawah tembakau Kemloko. Bagi mereka disebut lembutan. Namun saat saya coba linting dan isap, rasanya masih terasa deg di tenggorokan dan dada, masih terasa keras. “Apanya yang lembutan,” pikir saya.

Mungkin karena saya belum terbiasa menikmati tembakau linting yang dianggap tembakau lembutan. Sebab, kadar lembut bagi mereka masih terasa keras di tenggorokan orang yang tidak terbiasa mengisap tembakau Temanggung seperti saya. Nyegrak, euy!

Proses Terjadinya Srintil

Tembakau rajangan dari Temanggung merupakan komponen utama bahan baku pembuatan rokok kretek. Komposisinya mencapai 14-26 %. Namun dari banyaknya jenis tembakau dalam rokok kretek ada satu jenis tembakau yang dijadikan lauk sebagai penguat rasa dan aroma, yaitu tembakau Srintil. Sehingga Srintil bukanlah jenis tembakau yang bisa diisap langsung dengan cara dilinting atau tingwe. Karena sifat rasa dan aromanya yang keras. 

Mas Topo bercerita bahwa saat ini menanam jenis tembakau Klemoko 5. Proses terjadinya tembakau Kemloko menjadi Srintil itu tidak mudah. Harapannya, sih, setiap musim panen petani bisa menghasilkan tembakau srintil karena harganya yang tinggi. Namun, Srintil terjadi bukan karena kehendak manusia, melainkan ada unsur alam yang mendukung terjadinya tembakau kemloko menjadi Srintil. 

“Tembakau Srintil itu hanya ada di Temanggung. Varietas tembakaunya bernama Kemloko. Kemloko itu varietas asli Temanggung,” tegas Mas Topo.

“Tembakau Srintil tercipta harus memenuhi beberapa syarat lanjutan. Walaupun syarat pertamanya harus varietas tembakau kemloko namun tidak semua tembakau Kemloko bisa menjadi Srintil,” lanjut Mas Topo. 

Tembakau varietas Kemloko menjadi Srintil juga harus memenuhi beberapa syarat lagi. Syarat-syarat yang tidak bisa dipenuhi oleh negeri lain atau tempat lain karena ada kuasa Tuhan dalam proses terjadinya Srintil termasuk embun yang muncul di lereng Sumbing. 

Syarat berikutnya, tembakau Kemloko bisa menjadi Srintil karena harus ditanam di lahan dengan ketinggian 800 mdpl ke atas. Dan lokasi lahan di atas 800 mdpl ini hanya dimiliki oleh Temanggung dengan lereng gunung Sumbing dan Sindoronya. Syarat ini sebenarnya diatur Tuhan untuk memenuhi syarat berikutnya yaitu tembakau yang berada di lereng ketinggian di atas 800 mdpl akan menjadi tanaman pertama yang terkena cahaya matahari pagi saat terbit. Syarat berikutnya tembakau harus siap panen pada mangsa katelu dan kapat pada pranata mangsa

Pranata Mangsa

Mangsa katelu dalam pranata mangsa terjadi selama 24 hari. Yaitu pada tanggal 25 Agustus hingga 17 September. Selama mangsa katelu ini tanaman akan mengalami permentasi alam selama 9 hari. 

“Fermentasi alam tersebut terjadi akibat proses alami antara sinar matahari pertama dan embun di lereng Sumbing. Lamanya permentasi alam tergantung lerengnya dan lokasinya juga,” kata Mas Topo. Jika di dusun Lamuklegok terjadi selama 9 hari sedangkan di tempat lain seperti desa Kwadungan dan Bansari yang terletak di lereng gunung Sindoro lamanya fermentasi alam bisa mencapai 13 hari. 

Jamur Kuning Pertanda Srintil

Pada masa puncak mangsa katelu menjelang mangsa kapat tembakau akan dipetik lalu diimbu selama maksimal 9 malam hingga muncul sejenis jamur berwarna kuning pada malam keempat. Orang Temanggung menyebut jamur kuning tersebut dengan nama puthur kuning. Jika malam keempat muncul jamur kuning secara terus menerus selama 9 malam, sudah dipastikan tembakau srintil akan tercipta. Sedangkan masa imbu atau peram maksimal 9 hari sebagaimana masa fermentasi tembakau oleh alam di lereng Sumbing. 

Jika sudah muncul jamur, tembakau sudah siap dirajang dan dijemur. Warna daun tembakau saat terkena sinar matahari akan berubah warnanya menjadi coklat kehitaman. Aromanya harum menyengat. Kadar nikotinnya sangat tinggi. 

“Tembakau yang saya tanam juga belum tentu menjadi Srintil, karena proses terjadinya Srintil itu termasuk keberuntungan juga. Pulung. Sehingga petani di sini hanya mengikuti kehendak alam saja sambil merawatnya semaksimal mungkin,” kata Mas Topo.

Kepercayaan pada Masa Panen

“Di Dusun Lamuklegok sini, lanjut Mas Topo, ada keyakinan dan telah menjadi budaya saat petik awal masa panen, warga mempunyai kepercayaan memetik beberapa lembar daun tembakau terlebih dulu lalu digantungkan di atas pintu utama rumah. Memetiknya juga harus menurut perhitungan neptu hari pasaran pemiliknya. Tentunya ada maksud dan tujuan yang menjadikan etos,” kata Mas Topo.

Etos yang dimaksud Mas Topo ialah sikap kepribadian dan keyakinan yang dilakoni sesuai dengan niatnya. Tujuannya agar panen menjadi berkah bagi pemiliknya. Semuanya dilakukan berdasarkan hitungan hari pasaran kecuali tiga hal:

Pertama; hari sangar tahun Aboge. (Alif, Rebo, wage)

Hari sangar dianggap tidak baik karena dipercaya bakal membawa bala.

Kedua: hari wafatnya orang tua. Bisa bapak, atau Ibu. Karena hari wafatnya orang tua dianggap hari naas jika dipaksakan oleh yang bersangkutan untuk memulai petik tembakau pada masa awal panen.

Ketiga: hari meninggalnya Mertua lelaki atau perempuan juga dianggap sebagai hari naas.

Ketiga syarat itu, kata Mas Topo, telah menjadi budaya dan keyakinan warga agar tidak melanggarnya saat hendak memulai panen tembakau.