Perempuan-Perempuan di Balik Kretek

Perempuan-perempuan di balik kretek
Perempuan-perempuan di balik kretek

Dalam sejarah kretek, nama Haji Djamhari dan Nitisemito selalu disebut sebagai peletak batu perkembangan kretek. Kedua tokoh ini memang memiliki peran yang tak bisa diabaikan. Haji Djamhari adalah penemu kretek, sementara Nitisemito adalah penggerak industri kretek. Tanpa mereka berdua, tak mungkin kretek dapat berkontribusi besar pada negara dan masyarakat hari ini.

Tapi di balik itu semua, ada satu nama yang kerap terlupa. Satu sosok yang kerap dianggap sebagai tokoh sampingan, hanya sebagai tokoh pendamping. Nama orang itu adalah Nasilah, istri Nitisemito yang kerap dilupakan sebagai sosok penting dalam dunia kretek.

Semangat penemuan kretek bermula dari upaya Haji Djamhari untuk menyembuhkan sesak napasnya. Karenanya, pada awal-awal munculnya kretek lebih dipercaya sebagai obat ketimbang produk konsumsi. Adalah Nasilah yang menjadi salah satu orang yang pertama kali menjual tembakau dicampur cengkeh itu sebagai produk konsumsi.

Karena melihat kebiasaan ‘kotor’ pelanggan warungnya yang doyan menginang hingga meninggalkan jejak yang membuat warungnya kotor, Nasilah kemudian meracik irisan tembakau dan cengkeh dibungkus klobot yang ternyata digemari oleh mereka yang singgah di warungnya.

Nitisemito adalah salah satu penggemar kretek racikan Nasilah ini. Jadi sebelum Nitisemito membangun kerajaan bisnis kretek di Jawa Tengah, Nasilah adalah orang yang terlebih dulu merintis usaha tersebut. Apalagi karena perkawinannya dengan Nasilah yang menjadikan Nitisemito memulai bisnis kreteknya. Mengingat sebelum bersama Nasilah, Nitisemito hanyalah seorang kusir Andong.

Jika menilik catatan Anthony Reid dalam buku “Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680”, disebutkan kalau di Asia Tenggara perempuan lebih mendominasi pasar ketimbang laki-laki. Hal tersebut bisa diartikan kalau perempuan lebih banyak mengurusi urusan dagang ketimbang laki-laki. Karenanya meski nama Tjap Bal Tiga selalu diidentikkan dengan Nitisemito, tapi boleh dibilang Nasilah adalah orang yang membangun kerajaan bisnis ini.

Hal serupa juga bisa kita lihat dari sosok Dasiyah pada roman Gadis Kretek. Dasiyah merupakan sosok yang memegang kendali dalam bisnis kretek dalam buku yang ditulis Ratih Kumala tersebut. Hal ini bisa menggambarkan pada kita bagaimana peran perempuan dalam perkembangan kretek hingga sekarang.

Bahkan jika kita tarik pada literasi yang terdapat pada Babad Tanah Jawi, diceritakan seorang perempuan yang berhasil karena jualan ketek lintingannya. Perempuan bernama Roro Mendut itu menjual kretek lintingan yang dilem dengan jilatannya itu menggambarkan sebagai sosok yang ahli dalam strategi pemasaran. Bahkan, penolakan Roro Mendut yang hendak diperistri oleh seorang raja kaya dan berkuasa, Tumenggung Wiraguna, memperlihatkan sikap mandiri seorang perempuan.

Walau hari ini hubungan antara kretek dan perempuan masih dianggap tabu. Bahwa masih begitu banyak stigma negatif yang diberikan kepada perempuan yang mengisap kretek, namun dalam sejarahnya perempuan dan kretek tidak terpisahkan. Bukan hanya karena kemampuan mereka dalam mengelola bisnis kreteknya, tapi juga keberanian-keberanian mereka menentang kesewenang-wenangan lelaki telah melebihi zaman hidup mereka sendiri.