Film Banda dan Kisah dibalik Kejayaan Rempah

banda_film
source: thejakartapost.com

Sejarah Indonesia adalah sejarah rempah. Tanpa adanya cengkeh dan pala dari kepulauan Maluku sana, niscaya tak bakal ada pemerintah kolonial dan pedagang-pedagang yang membangun cerita soal nusantara. Kisah yang bukan saja penuh darah, tapi juga penuh kejayaan.

Menyaksikan film Banda: The Dark Forgotten Trail, saya disajikan gambaran-gambaran kejayaan yang tersisa di kepulauan penghasil pala tersebut. Cengkeh dari Ternate dan pala dari Banda adalah dua komoditas paling jaya yang membuat ketamakan bangsa Eropa ingin menguasai Nusantara. Membuat dunia melewati fase ekspedisi paling besar dalam sejarah umat manusia.

Pada masa itu, keberadaan pala dan cengkeh menjadi penting mengingat kemampuannya untuk mengawetkan makanan. Apalagi para tentara yang berangkat perang di dunia yang penuh kekacauan saat itu, mengawetkan makanan boleh jadi salah satu cara untuk memenangkan perang.  Tanpa ransum yang cukup, tak mungkin prajurit bisa bertempur dan memenangkan perang.

Karena itulah bangsa Eropa, terutama Spanyol dan Portugis memulai ekspedisi besar-besaran mencari dunia khayal penghasil rempah yang berada di Nusantara. Kegunaannya yang dibutuhkan umat manusia, selain karena harganya yang amat mahal, membuat mereka berlomba-lomba untuk mencari dan menguasai komoditas ini. Hingga akhirnya sampailah mereka ke Banda.

Kepulauan ini adalah salah satu daerah penghasil rempah yang terlebih dulu direbut bangsa asing. Melalui kemenangan tersebut, satu persatu daerah ikut dikuasai oleh mereka. Dengan perang dan pembantaian, tentu saja. Hingga akhirnya Belanda ikut dalam pertarungan merebut tanah jajahan dan memenangkan Nusantara sebagai piala penghasil uang bagi mereka.

Kelanjutan cerita tadi mungkin sudah Anda ketahui dari pelajaran sejarah yang pernah diberikan di sekolah. Ya kalau kalian tidak suka memperhatikan pelajaran ini, bolehlah sisihkan waktu untuk menyaksikan film dokumenter ini. Jarang-jarang loh ada dokumenter sebagus ini ditayangkan di bioskop. Biasanya mah cuma dari festival ke festival.

Poin utama dari film ini sih cuma penegasan kalau peradaban dunia boleh jadi nggak akan berkembang kalau rempah tidak diperebutkan. Lah Crishtopher Colombus penemu benua Amerika itu sebenarnya nyasar aja kesana. Tujuan aslinya mah mau nyari rempah ke Nusantara.

Agak sulit memang membayangkan dunia tanpa keberadaan rempah dari Indonesia. Bisa jadi nggak akan terjadi revolusi industri yang turut mengubah cara pandang dunia dan mengakhiri kejayaan rempah nusantara.

Berkat ditemukannya listrik serta kulkas, masyarakat Eropa tak lagi butuh-butuh amat sama pala dan cengkeh. Toh fungsi mengawetkan makanan telah diambil alih oleh lemari pendingin itu. Akhirnya ya harga dan pasar rempah jadi merosot tajam.

Di film ini sih nggak banyak dibahas perkara cengkeh. Karena Banda memang kepulauan yang jadi moyangnya pohon pala. Dan pala serta cerita kejam dibalik penguasaan Banda lah yang mendapat porsi paling banyak. Tapi kisah miris anjloknya kebutuhan dunia terhadap pala tentu saja juga mempengaruhi cengkeh yang ikut hancur kejayaannya.

Tapi cengkeh di Indonesia masih lebih beruntung dari pala. Setidaknya komoditas ini masih banyak diserap untuk kebutuhan industri kretek nasional. Coba aja kalau kretek nggak ditemukan, boleh jadi cengkeh harganya nggak bakal semahal sekarang. Di luar masa BPPC, harga cengkeh itu paling rendah 80 ribu perkilogram.

Walau kejayaan rempah di dunia hanya tinggal sejarah, tapi sejarah itulah yang perlu kita pelajari bahwa negara ini lahir (salah satunya) karena keberadaan cengkeh dan pala. Karena dengan menafikan masa lalu, sama saja kita menolak masa depan. Dan tanpa adanya rempah, boleh jadi kalian nggak bakal menikmati internet yang kalian gunakan untuk baca tulisan ini.