Sutopo dan Ide Religiusnya Soal Peringatan di Bungkus Rokok

Sutopo dan Ide Religiusnya Soal Peringatan di Bungkus Rokok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Gambar paru-paru berlubang, gusi bernanah dan bibir berdarah adalah pemandangan lumrah di tiap kemasan bungkus rokok. Biar saya jelaskan maksud dan tujuan dari eksistensi gambar-gambar tersebut. Rezim kesehatan (bersama kelompok anti rokok) berniat membuat perokok jijik tiap kali membeli rokok hingga mengurungkan niat untuk merokok.

Selain gambar-gambar penyakit mengerikan, bungkus rokok juga dihiasi oleh peringatan dampak dari merokok. Berbagai daftar penyakit tertulis di bungkus rokok. Tujuannya jelas untuk menimbulkan rasa takut pada perokok hingga mengurungkan niat untuk merokok.

Kemudian, melalui Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2017 (Permenkes 56/2017) Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2013 Tentang Pencantuman Peringatan Kesehatan Dan Informasi Kesehatan Pada Kemasan Produk Tembakau, pemerintah resmi menetapkan bahwa bungkus rokok akan ‘dihiasi’ oleh gambar-gambar yang (dianggap) lebih menyeramkan dari sebelumnya, serta peringatan tertulis yang (dianggap) lebih menakutkan, tentunya.

Pertanyaannya: seberapa besar pengaruh dari peraturan baru tersebut pada tingkat prevalensi perokok?

Baca Juga:  Pengakuan Bersalah Pemerintah Indramayu atas Ketidakmampuannya Menyediakan Ruang Merokok

Jujur, saya tidak pernah menghitung sendiri jumlah perokok di Indonesia serta tingkat prevalensinya. Tapi, kita bisa dengan mudah menemui pemberitaan tentang kelompok anti rokok yang selalu menyebut bahwa jumlah perokok di Indonesia semakin bertambah, hari demi hari.

Mari kita kembali ke suatu masa dimana bungkus rokok belum dikotori oleh gambar gusi berdarah, bibir bernanah dan paru-paru berlubang. Pada masa itu, bungkus rokok berwujud sesuai desain dari masing-masing pabrikan. Lalu peringatan gambar dan tulisan mulai nimbrung. Hasilnya? Prevalensi perokok tak kunjung menurun bahkan justru cenderung meningkat.

Permenkes 56/2017 hanyalah kemasan ulang dari regulasi sebelumnya. Bedanya, mereka hanya mengganti gambar dan peringatan lama dengan yang lebih menyeramkan menurut standar yang mereka tetapkan sendiri. Boleh dibilang tidak ada kebaruan gagasan. Hingga akhirnya Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)–yang tengah bergelut dengan kanker paru–menawarkan ide baru soal peringatan di bungkus rokok.

Sutopo menilai perlu ada modifikasi anjuran tidak merokok, tentunya dengan menyesuaikan karakter masyarakat Indonesia.

Baca Juga:  Ada Pesan Simbolik dari Sebatang Rokok yang Dibalik

“Orang Indonesia cenderung tidak taat aturan, tapi beda jika dikaitkan dengan keagamaan. Jadi buat saja, ‘Ya Allah, azablah orang yang merokok,’ atau, ‘Ya Allah miskinkan orang yang merokok amin… amin… amin…’,” kata Sutopo dilansir dari detikHealth.

Sutopo menilai perlu dimasukan unsur religius dalam peringatan di bungkus rokok, agar masyarakat yang ‘ngeyel’ bisa berpikir ulang untuk merokok.

Masalahnya, dimana unsur religius dari sebuah rangkaian kalimat yang secara terang-terangan mengharapkan seseorang kena azab dan jatuh miskin? Bukankah rapalan doa adalah rapalan terbaik yang bernada baik? Mengapa di tangan Sutopo konotasi doa menjadi sesuatu yang menyedihkan?

Kalau Pak Sutopo menganggap rokok adalah barang haram hingga layak didoakan agar konsumennya terkena azab, ya itu urusannya. Setiap orang berhak atas pemahaman dan keyakinannya masing-masing. Tapi jangan lantas paksakan keyakinan pribadi ke dalam ruang publik. Menurut saya, nalar semacam ini yang membuat ego dan rasa ingin menang sendiri tumbuh subur di Indonesia.

Nalar tersebut biasa digunakan oleh anti rokok yang memang gemar membangun narasi dan mitos kesehatan demi kepentingan politik dagang. Pak Sutopo memang punya riwayat kanker paru, dan hal itulah yang melandasi gagasannya tentang peringatan religius tersebut. Hal ini bisa dipahami mengingat propaganda anti rokok selalu menuduh rokok sebagai penyebab seseorang mengidap kanker paru. Kalau pun seorang yang bukan perokok terkena kanker paru, mereka akan sebut penyakit tersebut disebabkan oleh asap rokok orang lain.

Baca Juga:  Ponorogo dan Perlindungan Petani Tembakau

Terlepas dari itu, ide memasukan unsur religius dalam peringatan bungkus rokok, bagi saya adalah ide yang konyol. Perokok hanya perlu ruang dan edukasi agar tidak merokok di sembarang tempat. Sudah, itu saja. Menakut-nakuti perokok dengan berbagai cara tak ubahnya menabur garam di lautan.

Wahyu Heri

Banyak buku, sedikit nyender, tapi tidak oleng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *