Press ESC to close

Perokok Lelaki Dewasa Tertinggi di Dunia, Apa yang Salah?

Baru-baru ini ada informasi yang ramai di jagad sosial media tentang jumlah perokok laki-laki dewasa di Indonesia mencapai 71,4 %. Jumlah itu paling tinggi di seluruh dunia lalu kemudian disusul oleh Myanmar. 

Terus terang saya ada keraguan dari data itu. Mengingat Amerika Serikat, India, atau China yang kabarnya memiliki jumlah perokok yang banyak kok tidak masuk 10 besar. Atau mungkin Kuba yang merupakan negara penghasil cerutu kok tidak ada di dalamnya. 

Belum lagi indikator Indonesia dicap memiliki jumlah perokok tertinggi di seluruh dunia itu apa saja? Pengambilan sampelnya gimana. Apakah seseorang yang baru sekali-dua kali mencoba rokok sudah bisa dimasukan ke dalam data tersebut? atau orang yang hanya membeli rokok juga bisa dianggap sebagai perokok, atau indikator lainnya, semisal apakah orang yang terpapar rokok juga bisa disebut sebagai perokok? Kalau begitu berarti penelitian itu masih bisa diragukan. 

Saya bukanya meremehkan penelitian itu, melainkan saya hanya mempertanyakan tentang kebenaran dan keabsahan penelitian itu. Mengingat kalau membicarakan perokok, menjadi rahasia umum bahwa satu dengan yang lainnya sedikit-banyak berbeda.

Saya pun memiliki banyak teman perokok.  Ada yang sehari bisa satu bungkus atau lebih atau mungkin ada yang sehari cuma beberapa batang saja. Atau mungkin merokok hanya di momen-momen tertentu saja, alias tidak setiap hari.

Baca Juga:  Kesantunan Orang Tua Perokok Menjadi Cermin bagi Semua

Menyoal Jumlah Perokok Lelaki Dewasa

Tapi kembali lagi soal data tentang tingginya jumlah perokok di Indonesia. Memang kita tidak bisa membuktikan kalau data itu keliru. Tapi katakanlah data itu benar adanya. Lantas muncul pertanyaan, apakah ada yang salah dari jumlah perokok yang tinggi di Indonesia? Kenapa kok banyak netizen yang sinis.

Seolah-olah perbuatan merokok itu perbuatan yang salah. Perbuatan yang nista. Seakan-akan lebih baik tidak merokok daripada merokok. Bahkan dalam konteks gender, tidak sedikit wanita yang memilih pasangan yang bukan perokok. Seolah-olah merokok itu ada kaitanya sama moral dan akhlak manusia.

Padahal tidak begitu, kan? Merokok dan karakter itu dua hal yang berbeda. Bisa saja orang merokok tapi dia tanggungjawab, punya moral dan etika yang bagus. Pun sebaliknya. Saya kira orang yang menganggap rokok adalah sesuatu yang buruk adalah mereka yang sudah termakan kampanye-kampanye antirokok. Atau mereka yang hanya melihat satu dua kasus lalu mengeneralisasi semuanya.

Mungkin yang mesti kita ingat adalah merokok itu aktivitas legal. Sekali lagi legal. Alias siapa pun yang merokok selama itu umurnya sudah cukup maka dilindungi undang-undang.

Baca Juga:  Elias Alderete dan Fenomena Pesepakbola Merokok

Perbuatan merokok selama sudah di umur 18 tahun ke atas maka hukumnya boleh. Kecuali mereka yang memilih merokok tapi belum mencukupi umur. Toh kalau sudah dewasa kita bisa memutuskan sepenuhnya tentang pilihan untuk merokok atau tidak. Jadi tidak ada yang salah.

Yang salah itu ketika perokok yang tidak merokok pada waktu dan tempat yang tepat. Merokok di dekat anak kecil, merokok saat berkendara, merokok di dekat ibu hamil, merokok di tempat no smoking, dan lain sebangsanya. Itu yang harusnya dipersoalkan. Sekali lagi jangan mengenealisasi semua perokok kawan-kawanku. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *