Upaya Masyarakat Lereng Gunung Sindoro Merawat Alam dan Tradisi Dengan Festival Lembutan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pekan lalu, lereng Gunung Sindoro, tepatnya di Desa Mranggen Kidul, Kecamatan Bansari Temanggung, cukup ramai. Tak seperti biasanya, keramaian bukan disebabkan membludaknya pendaki yang hendak memanjat punggung Sindoro. Masyarakat berbondong-bondong menghadiri Festival Lembutan.

Pada festival ini diselenggarakan lomba merajang tembakau dengan peralatan tradisional atau manual dan lomba menata tembakau rajangan di atas rijen untuk dijemur. Acara ini adalah even wisata kebudayaan sekaligus mewariskan tradisi dan nilai-nilai luhur kearifan lokal setempat pada generasi muda, Rabu (10/10/2018).

Acara ini dibuka oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dan Bupati Temanggung, Al Khadziq, sesepuh desa, serta tokoh pertembakauan di daerah tersebut. Festival Lembutan adalah bagian dari upaya masyarakat setempat untuk mentransformasi budaya lokal menjadi potensi wisata. Inovasi masyarakat ini diharapkan bisa menyita perhatian publik sekaligus menarik wisatawan untuk menyaksikan atraksi budaya mereka.

Di sana telah berjejer puluhan stand yang memamerkan beragam produk khas Temanggung mulai dari kopi, tembakau, bawang sampai kerajinan tangan. Sungguh meriah. Kebahagiaan mereka hadirkan sebagai wujud rasa syukur pada Tuhan semesta alam.

Baca Juga:  Bhinneka al Farfumiyah

Sebagaimana harapan para leluhur, aset tradisi budaya masyarakat adat, dimana pun itu, memang sebaiknya terus dikembangkan dan ditunjukkan pada masyarakat luar sebagai bentuk kebanggan pada budayanya sendiri. Selain itu, upaya ini juga akan menjaga tradisi dan budaya agar tidak musnah dan tetap lestari.

Kepala Desa Candisari, Kecamatan Bansari Ceper, Parwidi, menjelaskan bahwa merajang tembakau dengan peralatan tradisional atau yang biasa disebut dengan istilah gobang kini semakin ditinggalkan oleh masyarakat. Alasannya adalah karena zaman sudah modern dan kini telah ada perajang modern atau mesin.

“Even ini sekaligus mewariskan kearifan lokal pada generasi penerus, agar mereka mengetahui tradisi nenek moyang,” katanya, sebagaimana dilansir dari krjogja.com

Masyarakat sekitar menilai bahwa merajang lembutan punya nilai filosofis yang tinggi. Perajang harus sabar, hati-hati, teliti dan tentu berserah pada Tuhan. Maka, lintingan yang dihasilkan adalah lintingan terbaik. Mereka biasanya merajang tembakau dengan lembutan untuk dikonsumsi sendiri atau dijual ke segmen tertentu, bukan untuk dijual ke pabrik rokok.

Baca Juga:  Berbagi Ruang untuk Kretek

“Kami tidak menjualnya ke pabrik tapi segmen khusus pecinta tembakau lintingan. Tembakau rajangan mesin yang dijual ke pabrik,” kata Ismoyo, warga setempat.

Di sekitar daerah tersebut juga terdengar lantunan gending dan doa, jaran kepang, nasi megono, ingkung dan samar aroma dupa dalam ritual tahunan yang disebut dengan Sadranan Gunung, yaitu suatu itikad untuk mendekatkan diri pada Tuhan dan alam agar memperoleh nikmat dan terhindar dari bala.

Sadranan Gunung dilakukan di Sewatu, tempat yang disakralkan oleh masyarakat di punggung Gunung Sindoro.

 

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd