Perempuan-perempuan di balik kretek

Nasilah, Perempuan Inspiratif di Era Awal Industri Kretek

  • 56
  •  
  •  
  •  
  •  
    56
    Shares

Menulis tentang perempuan dan rokok merupakan sebuah tantangan tersendiri, sebab sampai saat ini merokok di dalam budaya masyarakat, identik dengan karakter maskulin yang dimiliki oleh laki-laki. Selain masalah kesehatan yang dikaitkan dengan biologis perempuan yang dapat mengancam reproduksi dan kehamilan, perempuan kerap mendapat berbagai stigma negatif, penilaian moral miring sangat mudah terlontar bagi perempuan yang melakukan kegiatan merokok di depan umum.

Anggapan buruk seperti perempuan “tidak benar”, perempuan “nakal”, perempuan “liar”, bahkan “berandal” dapat mudah terbesit dalam benak masyarakat ketika melihat seorang perempuan merokok di depan mereka. Disisi lain, media yang turut mempengaruhi masyarakat pun kerap menghubungkan perempuan merokok dengan masalah moral dan etika. Dengan berbagai indikator inilah, rokok telah mencakup permasalahan gender.

Selain aktifitas merokok yang identik dengan kelaki-lakian itu, catatan sejarah cenderung fokus dengan perjuangan laki-laki. Kalaupun perempuan yang tercatat, banyak yang lebih menyoroti figur besar, sebagian besar orang utama yang menulis, termasuk perempuan-perempuan yang sadar politik. Kartini adalah salah satu yang paling sohor memperjuangkan emansipasi kaum perempuan, di luar itu jarang yang menyoroti perjuangan adiknya bernama Roekmini dan Kardinah yang juga sama-sama berjuang dalam gelandang revolusi.

Baca Juga:  RUU Anti Tembakau Mengancam Hidup Petani Cengkeh

Sejak akhir abad 19-an kretek menjadi simbol budaya populer yang berpusat di Kudus, Jawa Tengah. Melalui penggabungan dua objek sosial budaya penting: cengkeh, yang sebelumnya melibatkan bahan gambir, kapur sirih, dan tembakau. Figur Nitisemito dan Haji Djamhari sering disebut-sebut sebagai pelopor berkembangnya kretek dalam sejarah. Haji Djamhari sebagai penemu kretek, sementara Nitisemito adalah penggerak industri kretek. Namun perempuan dan kontribusinya dalam masyarakat masih dikesampingkan peran dan perjuangannya dalam membangun indutri kretek dan pekembangannya.

Sebelum kretek Tjap Bal Tiga itu menjadi industri raksasa dimasa Hindia-Belanda, perempuan bernama Nasilah adalah orang yang membangun kerajaan bisnis ini. Awalnya Nasilah sangat gusar melihat kebiasaan nginang para kusir dokar dan pedagang kelilingyang membuat warungnya kotor dan meninggalkan bekas.Agar menghentikan kebiasaan para kusir dokar itu, Nasilah mulai menjual kretek dengan meracik irisan tembakau dan cengkeh yang dibungkus kelobot atau daun jagung.

Tak dinyana racikan kretek Nasilah itu menuai perhatian masyarakat yang sering singgah ke warungnya. Kretek Nasilah paling digemari oleh para kusir dokar yang biasa mangkal di warungnya. Termasuk Nitisemito ialah seorang kusir dokar yang sering singgah dan memesan kretek buatan Nasilah. Sebuah pepatah jawa mengatakan witing tresna jalaran saka kulino tak hanya kretek yang digemarinya, Nitisemito tertarik dengan kepiawaian Nasilah dalam urusan dagang dengan racikannya yang khas itu mampu membuat Nitisemito jatuh hati untuk mengawininya.

Baca Juga:  Prosesi Pernikahan Kyai Pulung Seto dan Nyai Srintil

Nasilah ialah sosok perempuan yang memegang peranan penting memajukan bisnis perusahaan kretek Tjap Bal Tiga yang dikembangkan oleh Nitisemito, dari sebuah usaha rumahan hingga menjadi perusahaan besar yang menjadi industri kretek raksasa sebagai produk massal yang mampu menyerap dan melibatkan ribuan tenaga buruh pada masa itu. Meski bukan sosok perempuan yang terjun dalam dunia pendidikan ataupun politik, Nasilah merupakan sosok perempuan penggerak industri yang turut memajukan kemajuan ekonomi bumiputra pada masa kolonial.

Jika Haji Djamhari dikenang sebagai penemu kretek dan Nitisemito dikenang sebagai pelopor industri kretek, maka agak keliruulah kiranya sejarah, kalau dalam situasi dan kondisi yang sama tidak mengenang pula peran penting perempuan yang juga ikut serta dalam menunjang kemajuan industri ketek pada masa itu.

Pinot Sity

Penjual buku bertemakan gender, sangat bergairah membicarakan seks sambil ngiseup roko dan kopi. Bisa disapa di @Ratukerang