Diskusi Publik Dukung RUU Pertembakauan

Dalam rangka mengawal RUU Pertembakauan, Aliansi Mahasiswa  Aliansi Mahasiswa Untuk Kedaulatan (AMUK) pada Selasa (10/3/2015), menggelar diskusi publik bertajuk ‘Mengawal Regulasi Untuk Tembakau” di Aula Student Center Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat, Kota Tangerang Selatan.

Dalam acara itu, Ketua Koalisi Nasional Penyelamatan Kretek Zulvan Kurniawan menjelaskan, RUU Pertembakauan murni diusung oleh para stakeholder pertembakauan, yakni petani tembakau dan juga para konsumen rokok kretek. “RUU ini murni dukungan mereka yang semangatnya melindungi pertanian tembakau,” katanya.

Sementara itu, peneliti sosial Don K Marut berpandangan bahwa RUU Pertembakauan adalah benteng terakhir bagi petani tembakau. “RUU Pertembakauan ini seperti benteng terakhir dari petani tembakau. Karena sudah banyak sekali regulasi-regulasi anti tembakau yang terus menekan petani tembakau. Sehingga dibutuhkan regulasi yang memberikan perlindungan pada petani tembakau,” terangnya.

Selain itu, Don juga mempertanyakan nasib 6 juta petani tembakau jika regulasi yang ada justru makin mempersulit petani, bukan melindungi. “Belum lagi efek bagi petani cengkeh yang juga terancam karena produk rokok kretek nasional membutuhkan cengkeh sebagai salah satu bahan baku utama,” jelas Don.

Kemudian, Dosen UIN Jakarta, Akhmad Zakky menuturkan, polemik tembakau kalau hanya sekadar sehat dan tidak sehat, sebenarnya akan sangat mudah dan cepat selesai. “Tapi ini bukan semata perihal kesehatan, ada problematika ekonomi dan politik yang melibatkan banyak kepentingan korporasi dan negara besar,” papar Zakky.

Menyoal industri pertembakauan, Zakky menyebutkan industri seni di Indonesia banyak didukung oleh industri kretek. Baginya, regulasi tentang tembakau ini bukan hanya dapat melindungi petani tembakau, namun juga dapat melindungi sektor-sektor masyarakat yang lain.

“Dulu di Kampus UIN, banyak sekali pertunjukan seni yang disuport oleh industri kretek nasional. Tapi sekarang setelah sponsor rokok dilarang masuk ke Kampus, sangat jarang lagi ada pertunjukan seni di kampus ini,” katanya.

Acara yang berlansung sejak pukul 13.00 WIB sampai 16.00 WIB ini ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap dari Aliansi Mahasiswa Untuk Kedaulatan sebagai penyelenggara acara, yang menyatakan mendukung RUU Pertembakauan untuk kepentingan perlindungan petani tembakau.

Berikut adalah pernyataan sikap yang dibacakan Kordinator AMUK, Slamet Widodo:

Sebagai kelompok mahasiswa yang menjujung tinggi kedaulatan rakyat Indonesia, kami dengan ini menyatakan:

  1. Mendukung RUU Pertembakauan sebagai sebuah regulasi nasional untuk memberikan perlindungan terhadap petani tembakau di indonesia dan stakeholder pertembakauan lainnya.
  2. Meminta kepada para anggota DPR untuk terus melanjutkan proses legislasi untuk mengesahkan RUU Pertembakauan menjadi UU Pertembakauan.
  3. Aliansi mahasiswa untuk kedaulatan akan terus mengawal ptoses RUU pertembakauan dan memberikan dukungan serta solidaritas kepada petani tembakau untuk memperjuangkan perlindungan bagi petani tembakau
  4. Mengajak kepada seluruh elemen mahasiswa, buruh, tani dan sektor rakyat yang lain untuk bersatu membangun solidaritas kepada perjuangan petani tembakau.

Pernyataan ini didasarkan pada kajian yang telah dilakukan dan berdasar pada keberpihakan kami pada petani. Jangan sampai regulasi yang mengatur persoalan pertanian kita justru diadopsi dari kepentingan asing yang akan mengancam kedaulatan petani juga kedaulatan negara.

Selama ini, belum ada regulasi yang melindungi petani seperti ini. Biasanya, regulasi cuma mengatur soal-soal umum dan cenderung tak spesifik berpihak pada petani. Semoga RUU Pertembakauan mampu menjadi katalisator lahirnya regulasi-regulasi yang memihak petani.

Hidup Petani, Hidup Buruh, Hidup Kaum Miskin Kota, Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat Indonesia.