YLKI Makin Memuakkan!

Rencana Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menggugat Mensos Khofifah Indar Parawansa terdengar cukup marak beberapa hari terakhir. Tentu tidak semarak berpulangnya artis Olga, tapi cukuplah untuk sekadar bikin heboh. Setidaknya lebih heboh dari protes YLKI soal kenaikan BBM, yang tidak sampai pada rencana gugat-menggugat atau langkah yang lebih serius lainnya. Kalau urusannya konsumen, tentu persoalan kenaikan BBM jauh lebih penting ‘dibela’ YLKI daripada soal Mensos memberi rokok ke orang rimba di Jambi.

Lain cerita kalau YLKI itu Kemenkes. Walau juga tidak tepat-tepat amat, masih lumayanlah soal bagi-bagi rokok di suku anak dalam di Jambi jadi prioritas. Tapi yang terjadi justru YLKI menegur Menkes. Dan kalau Menkes diam saja, tidak meminta maaf kepada publik dan berjanji tidak akan mengulangi tindakan yang sama, YLKI akan menyeret Menkes (bersama Mensos) ke ranah hukum.  Nah lho…

Itu masih belum selesai..

Memberi orang lain produk legal yang dilindungi undang-undang, dimana salahnya? Sampai detik ini, suka atau tidak suka, di negara hukum yang namanya Republik Indonesia rokok adalah barang legal. Bahwa produk legal tersebut memiliki dampak negatif bagi kesehatan, anggaplah begitu, maka seharusnya protes yang sama dilayangkan YLKI jika ada bantuan kemanusiaan dari pemerintah bagi-bagi mie instan, bagi-bagi minuman berenergi, bagi-bagi snack kemasan untuk anak-anak, dan lain sebagainya. Kenapa hanya rokok dan rokok terus?

Terakhir, ini justru persolan yang paling penting bagi kami, soal budaya. Budaya adalah persoalan yang sangat kompleks, apalagi bagi Indonesia, negeri dengan suku bangsa paling heterogen sedunia. Belakangan begitu banyak konflik terjadi karena arogansi atau standarisasi budaya, dari level kecil sampai besar. Parahnya, kepentingan ekonomi politik kerap kali menyusup di situ. Dan kepentingan ekonomi politik itu tidak hanya skala nasional, namun juga internasional. Sudah sangat banyak akademisi dan budayawan mengemukakan persoalan ini.

YLKI bisa jadi melupakan, tidak tahu, atau bahkan tidak mau tahu persoalan ini. Ada ungkapan khas orang rimba ‘ngudut mati, hopi ngudut mati’ (merokok akan mati, tidak merokok akan mati juga). Bukan persoalan kita setuju atau tidak pada ungkapan itu, tetapi bahwa ungkapan itu adalah cermin betapa rokok sangat lekat dengan keseharian mayoritas masyarakat orang rimba. Sebagai satu contoh, di sana rokok adalah perlambang kedewasaan. Anak boleh merokok jika sudah bisa mencari uang sendiri, dan dengan begitu sudah dianggap dewasa. Dianggap dewasa artinya sudah terikat atau bisa dikenakan hukum adat jika terjadi pelanggaran adat.

Ada satu catatan juga yang menyebutkan: rokok adalah perbekalan penting jika ingin berkunjung ke orang rimba, tak peduli Anda merokok atau tidak. Rokoknya tak perlu mahal-mahal, yang penting rokok. Rokok akan melancarkan jalan keakraban dengan orang rimba. Mungkin dasar pertimbangan kultural ini yang membuat Mensos selain membagikan sembako dan pakaian, juga membagikan rokok kepada orang rimba. Apalagi kedatangan Mensos kesana bisa dianggap dalam konteks pemerintah ‘salah’ dimana 11 orang rimba meninggal beruntun karena kelaparan.

Kami tidak hendak membela Mensos secara membabi buta. Tapi dalam konteks ini pendekatan kultural sangat penting, dan tepat. Bandingkan dengan banyak pejabat lain, apalagi di era Orde Baru, yang begitu arogan. Bukan hanya tidak menghargai, budaya lokal bahkan dilibas begitu saja.

Jadi YLKI bukan hanya kehilangan urgensi saja dalam persoalan Mensos bagi-bagi rokok ini, ia juga sangat arogan menyikapi budaya lokal yang ada di negeri ini. Lebih miris lagi jika mengetahui betapa dapur YLKI mengepul dari puluhan milyar dana asing sejak bertahun-tahun lalu. Kami mengantongi data yang sangat valid, setidaknya sejak 2011 YLKI terus menikmati kucuran dana milyaran rupiah dari Bloomberg Initiative untuk memusuhi rokok di Indonesia. Kucuran dana itu ditujukan ke alamat yang jelas, dengan periodesasi yang jelas, dengan jumlah dana yang jelas, dan pastinya dengan goal yang sangat jelas pula. Siapa Bloomberg Initiative? Mbah google bisa membantu kita semua, terlalu panjang dan bisa keluar konteks jika dijelaskan di sini.

Potret YLKI bisa jadi adalah jendela kecil untuk mengintip cakrawala luas Indonesia, betapa kepentingan global telah mampu membeli kekuatan anak bangsa untuk merusak bangsanya sendiri.