Informasi Sesat dan Pembodohan Oleh Anti Rokok  

Kematian akibat penyakit yang disebabkan asap rokok mencapai angka 239 ribu orang pertahun. Begitu kalimat yang kerap disampaikan oleh Hakim Sorimuda Pohan atau Tulus Abadi ketika ditanya tentang bahaya asap Rokok. Angka yang luar biasa fantastis besarnya. Tapi percaya begitu sajakah anda atas data yang tak diketahui bagaimana metode risetnya tersebut?

Asumsinya, bahwa angka tersebut muncul karena mereka mencoba mengkaitkan semua penyakit yang katanya disebabkan oleh asap rokok. Misal saja penyakit kanker, jantung, dan penyakit-penyakit lainnya. Adilkah jika itu dilakukan dan kemudian dipropagandakan? Atau jangan-jangan ini bukan soal fair atau tidak, bukan soal metode riset yang benar atau tidak, bukan soal sharing informasi yang benar atau tidak, melainkan semata untuk kepentingan propaganda. Jika untuk kepentingan yang terakhir, bisa dikatakan itu fair.

Namun jika itu bertujuan untuk memberikan informasi yang benar kepada publik dengan metode riset yang bisa dipertanggungjawabkan, maka seharusnya mereka tidak melihat hanya sekedar asap rokok saja yang menjadi penyebab kematian tersebut.

Pertama, informasi juga harus diberikan kepada publik tentang faktor-faktor lain yang menjadi penyebab penyakit tersebut. Misalnya saja juga menyampaikan makanan-makanan yang mengandung kolesterol tinggi yang akan berakibat penyakit jantung. Atau bisa juga menyampaikan bahwa asap knalpot dan emisi industri menyebabkan kanker bagi manusia. Akan fair jika hal tersebut disampaikan juga ke publik, sehingga tidak menimbulkan satu pandangan bahwa asap rokoklah penyebab tunggal penyakit-penyakit berbahaya tersebut. Jika publik tidak kritis, maka publik akan menerima begitu saja angka dan bahanya asap rokok. Seolah-olah tak ada faktor lain penyebab penyakit tersebut kecuali asap rokok.

Kedua, sampaikan juga kepada publik bagaimana riset itu dilakukan dan metodenya seperti apa. Ini untuk dapat mempertanggungjawabkan jumlah angka yang disampaikan diatas. Jika hanya mengaitkan penyakit yang ditimbulkan asap rokok dengan jumlah kematiannya, maka itu tidak bisa dikatakan sebagai sebuah riset. Lebih tepatnya dikatakan sebagai sebuah kemungkinan. Karena bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Namun karena hal ini juga tidak dilakukan, maka yang terjadi adalah sebuah penyebaran informasi yang tidak bisa dipertangungjawabkan kebenarannya. Karena basis datanya adalah dugaan atau kemungkinan.

Ketiga, jika memang mereka peduli akan kesehatan masyarakat. Maka yang akan mereka lakukan tidak hanya memilih satu hal penyebab pengganggu kesehatan, dalam hal ini asap rokok. Jika benar peduli kesehatan masyarakat, maka mereka juga akan mengkampanyekan bahaya junkfood atau minuman bersoda bagi kesehatan tubuh, bukan justru membelanya dengan mengatakan karena jankfood tidak menyebabkan kecanduan. Juga secara masif mengkampanyekan polusi udara akibat asap kendaraan bermotor atau industri yang menurut WHO mengakibatkan kematian dini sebanyak 3,2 juta setiap tahunnya.

Namun ini juga tak pernah disampaikan oleh mereka yang merasa berada digarda terdepan dalam menyehatkan masyarakat. Yang terjadi dalam berbagai kesempatan lagi-lagi justru sebuah pembelaan, karena polusi asap kendaraan bermotor dan industri tidak lebih berbahaya dari asap rokok, atau karena asap knapot tidak dihirup orang secara langsung. Bagaimana dengan orang yang terpapar asap knalpot, mungkin disebut saja sebagai pengirup asap knalpot pasif.

Pertanyaanya kemudian adalah jangan-jangan memang mereka mempunyai kepentingan tertentu dibalik kampanye mereka yang “pilih kasih” tersebut. Jangan-jangan mereka hanya mau bergerak untuk mengatakan kesehatan bagi masyarakat jika hanya ada dana yang menyertainya. Jangan-jangan mereka menilai bahwa semua barang atau barang konsumsi yang ada di dunia ini tidak berbahaya bagi kesehatan, kecuali rokok.

(Visited 4,053 times, 2 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Opini