Nasionalisme Dalam Sebatang Kretek

Memilih menghisap rokok kretek itu bukan hanya perkara tentang lidah sebagai indra perasa dapat menikmati rokok kretek. Menghisap rokok kretek bukan hanya perkara kecocokannya dengan segelas kopi hitam yang disandingkan dengan kudapan. Menghisap rokok kretek itu bukan hanya perkara ketika dibakar maka berbunyi kretek-kretek.

Tidak salah jika kita mengklaim bahwa dalam sebatang kretek yang kita hisap, terkandung rasa nasionalisme, rasa cinta tanah air, yang terekspresikan dalam bentuk menggunakan produk buatan dalam negeri, yang dilinting oleh anak negeri, yang mana negara juga menikmati keuntungan dari setiap batang yang kita hisap untuk kepentingan rakyat Indonesia.

Dan mereka yang tidak merokok pun dapat menikmati apa yang diberikan oleh sebatang kretek, melalui pembangunan, fasilitas atau subsidi yang diberikan oleh negara. Karena kretek dan sebagaimana juga ajaran nasionalisme tak mendiskriminasikan orang atau kelompok tertentu.

Mungkin bagi para ahli kesehatan meyakini bahwa sebatang rokok yang dihisap akan mengurangi usia seseorang satu jam lamanya. Namun bisa juga kita meyakini bahwa setiap sebatang kretek yang kita hisap akan mampu membuat para petani tembakau Indonesia hidup lebih lama, karena esok hari mereka akan dapat menanam lagi tembakau. Akan mampu menghidupi kebutuhan ekonomi dan sosial dari para petani tembakau.

Bukan hanya petani tembakau, setiap batang rokok kretek yang kita hisap juga akan mampu membuat para petani cengkeh dapat hidup lebih baik, karena tanpa kretek, maka daya serap hasil tanaman cengkeh tak akan sebesar seperti saat ini. Akan menghidupi kembali para buruh linting, pedagang asongan, dan seterusnya, dan seterusnya.

Pada masa sekarang ini, penjajahan telah mengalami satu transformasi bentuk yang jauh berbeda dengan apa yang dulu kita ketahui. Tak ada pendudukan dan kolonisasi bangsa lain secara fisik di negeri kita ini. Namun bukan berarti penjajahan tidak nyata, karena penguasaan sumber-sumber ekonomi oleh bangsa asing masih dapat dengan mudah kita lihat dan menjadi satu hal yang legal di dunia ini.

Jeratan hutang luar negeri yang tak akan pernah selesai, intervensi dalam pembuatan regulasi nasional, memberikan uang segar yang besar jumlahnya kepada para individu atau kelompok masyarakat di Indonesia untuk membela kepentingan mereka, mereduksi kesadaran dan perlawanan massa atas penjajahan gaya baru, dan lain sebagainya.

Menghisap produk lokal adalah bentuk sederhana dari perang melawan penjajahan yang ada saat ini. Karena pada hakekatnya, penjajahan gaya baru yang sekarang ini ada adalah untuk kepentingan penguasaan sumber ekonomi dan pasar. Dan 270 juta orang adalah sebuah pasar yang menggiurkan bagi berjalannya roda ekonomi para bangsa penjajah tersebut.

Dengan menghisap kretek, kita telah mencintai produk lokal yang nilai lebihnya juga akan kembali ke negara kita, bukan ke negara lain. Dengan menghisap kretek pula, kita telah melakukan penghormatan atas sebuah kebudayaan dan produk kebudayaan yang diciptakan oleh nenek moyang kita.

Cukup dengan hal yang sederhana saja dahulu kita berjuang untuk negeri kita, setelah kita mampu melakukan itu, baru kemudian kita tingkatkan nilai perjuangan kita dalam bentuk yang baru sesuai dengan kemampuan kita. Namun menyadari bahwa mencintai dan menggunakan produk dalam negeri adalah bentuk sederhana dalam keseharian yang bisa dikatakan sebagai sebuah nasionalisme.

Maka jangan ragu untuk menghisap setiap batang kretekmu, sekedar demi bangsa kita, demi negara kita.