Safari Kretek di Masjid Nurul Yaqin

Indonesia adalah negara dengan populasi umat Islam terbanyak di dunia. Fakta ini adalah cadangan dari, Indonesia adalah negara dengan populasi terbanyak keempat di dunia. Boleh dibalik, tapi jangan meragukannya. Secara sederhana, dapat kita simpulkan, Indonesia menjadi negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak karena tiga negara di atasnya tidak berpenduduk mayoritas Islam.

Jika bertolak pada fakta pertama, maka kita harusnya malu. Jika berangkat pada fakta kedua, maka kita layak disematkan gelar tidak tahu malu. Mengapa demikian? Karena oh karena, jumlah populasi ternyata tidak berpengaruh pada seberapa mandirinya sebuah negara mangatur dirinya sendiri. Kita mau malu atau tidak tahu malu? Silakan memilih, saya tetap mendukung Jerman sebagai kandidat terseksi juara viala heropa.

Apa hubungan antara jumlah populasi terbanyak dengan kemandirian sebuah negara? Pengandaian di atas dapat kita maksudkan juga untuk menjawab, mengapa Indonesia menjadi salah satu negara pengonsumsi rokok terbanyak? Jika kita membenarkan anggapan tersebut, maka bagaimana kita menjelaskan bahwa, hal itu memungkinkan karena secara populasi, kita memang lebih banyak dari negara lain?

Nah, membahas kemandirian sebuah bangsa? Pernah mendengar istilah FCTC atau Framework Convention on Tobacco Control? Jika mencari artinya di google, kita akan menukan arti dengan tujuan yang snagat mulia. Tapi apakah benar mulia? Sebenarnya, FCTC merupakan kesepakatan dagang antara salah satu perusahaan farmasi dengan WHO. Tujuan utamanya untuk menguasai jalur perdagangan dan pemanfaatan tembakau seluruh dunia.

Mengapa banyak anak muda di negara ini mendukung Indonesia juga meratifikasi FCTC? Kemungkinannya adalah, dia menggunakan pola pada fakta pertama, jika itu keliru, maka mereka terkandas pada fakta kedua; malu dan tidak tahu malu.

Apa hubungannya FCTC dengan sistem sosial serta pola kebudayaan kita? Saya sendiri tidak bisa menjamin apakah ini ada pengaruhnya atau tidak, namun pengaturan tembakau tentu akan berpengaruh pada jenis rokok yang kita nikmati.

Beberapa waktu lalu, tagar #terimakasihtembakau sedang ramai di media sosial. Beberapa anak muda mengekspresikan kebebasan mereka tanpa paksaan dan penuh penalaran. Di Surabaya misalnya, mereka membagikan takjil kepada pengendara. Anak muda ini tidak mengampanyekan agar orang-orang merokok. Meski kaos mereka bertuliskan, terima kasih tembakau, hal yang saya temukan dari gerakan ini justru mengajak kita lebih adil menilai rokok itu sendiri. Bahwa rokok adalah bagian dari kita. Bagian dari kebudayaan kita. Jika ada yang ingin mengatur dan mengendalikannya, itu sama saja dengan upaya merebut ruang-ruang kebudayaan kita.

Di saat yang sama, saya sedang menghadiri undangan teman untuk buka puasa di rumahnya. Setelah membaca beberapa tweet dan melihat gambar kegiatan teman-teman di Surabaya, saya memutuskan untuk maghriban di masjid terdekat. Berhubung karena rumah teman saya dipenuhi tamu lain.

Masjid Nurul Yaqin. Demikian papan nama yang tertera di atas pintu masuk. Masjid itu terletak di daerah Romang Polong – dekat kampus UIN Samata. Selepas beribadah, sambil menunggu teman lain selesai, saya ke halaman masjid.

Ada meja panjang setinggi pinggang orang yang sedang jatuh cinta dan empat belas kursi mengelilinginya. Beberapa orang tua, bapak-bapak, dan anak muda duduk melingkar. Entah mereka membicarakan apa. Ketika saya duduk di kursi paling pinggir, salah seorang dari mereka menawarkan kopi dan rokok.

Berawal dari kopi dan rokok inilah, saya yang tidak mengenal mereka, mereka yang tidak mengenal saya, bisa menjadi akrab. Seolah tidak ada batas. Bahwa kopi dari teko yang sama mengajarkan tidak adanya perbedaan. Bahwa asap dari rokok yang sama mengajarkan nilai persaudaraan. Apa yang lebih ramadan dari adegan ini?

Saya yang lebih muda dari mereka semua hanya duduk dan mendengar perbincangannya. Hingga pada satu titik, saya memberanikan diri bertanya, “Sudah berapa lama meja ini ada di sini?” Bapak yang berbaju coklat dengan tersenyum menjawab, “Tujuh tahun.” Untuk meyakinkan diri, “Sudah tujuh tahun, sehabis maghrib, kita semua kumpul dan cerita-cerita begini?” Dia hanya mengangguk sambil mengepulkan asap rokoknya di udara.

Rupanya, kumpulan bapak-bapak tidak pulang ke rumah habis maghrib ini adalah wartawan, guru, polisi, dan petani. Betapa halaman masjid, kopi, dan rokok, berhasil melebur mereka dalam indahnya kebersamaan. Jika setiap masjid mampu menghadirkan nuansa seperti ini? Seorang ustadz tidak perlu repot-repot menjelaskan apa manfaat bersilaturrahmi.

Kembali pada kenyataan, bahwa di negara ini, ada segelintir orang yang berharap agar Indonesia turut meratifikasi FCTC ikut mengancam sistem sosial masyarakat kita. Membayangkan bahwa ruang-ruang seperti itu bisa saja hilang, bisa saja berubah bentuk, dan bisa saja berubah tujuan.

Halaman masjid, kopi, dan rokok yang selama ini menjadi bagian tidak terpisah dari mereka, diancam oleh kehadiran FCTC. Saya teringat pernyataan seorang profesor yang menyedihkan, “Kalau negara kita bisa peduli pada narkoba yang membuat 33 orang mati tiap harinya, kenapa negara juga tidak bisa peduli pada rokok yang menyebabkan 659 kematian perharinya.” Pernyataan orang yang merasa terdidik semacam itu, yang tidak diikuti pembuktian dan bukti nyata serta penelusuran mendalam, tidak hanya membunuh akalnya sendiri, tapi sekali lagi membuktikan, daya nalar kita memang kadang bikin malu.

Lantas apa saran yang bisa kita ajukan atas permasalahan ini? Ya, dengan menolak FCTC dan menyusun RUU Pertembakauan yang kita buat sendiri. Tanpa kepentingan pihak asing. Tanpa merugikan bangsa sendiri. Membuat peraturan yang mengakomodir semua pihak, melindungi hal yang tidak merokok juga melindungi hak para perokok. Sebuah peraturan yang membangun toleransi kedua belah pihak, seperti yang diajarkan ramadan yang suci ini. Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri.

 

(Visited 112 times, 1 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Opini